Rabu, 31 Desember 2008

Manajemen Kesenian Teater Tradisional

Manajemen Kesenian Teater Tradisional
Wayang Wong Sriwedari
oleh: Agus, Wisnu, Agus

Latar Belakang
Seni adalah milik semua Wong, tak mengenal status ataupun strata. Miskin dan kaya berhak menikmati dan menghasilkan seni, Karena setiap manusia memiliki kebutuhan yang bersifat estetik untuk menunjukkan hakikatnya sebagai manusia yang bermoral, berakal pikiran, dan bercita rasa. Salah satu penuangannya melalui jalur kesenian.
Kesenian yang akan dibicarakan disini adalah Kesenian Teater Tradisional Wayang Wong Sriwedari, yang pernah mengalami masa keemasan pada masa Sriwedari dengan Wayang Wong-nya ketika dikelola oleh Keraton Kasunanan Surakarta, yang masa itu di bawah Sunan Paku Buwana X. Hingga kemudian mengalami kemunduran setelah dikelola oleh pihak Pemerintahan kota, di bawah Dinas Pendapatan Daerah dan Dinas Pariwisata. Berbagai upaya pun telah dilakukan oleh pihak pemerintah Kota untuk mengangkat kembali kesenian Wayang Wong Sriwedari. Namun upaya tersebut belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Ada apa dengan Wayang Wong Sriwedari yang berada di kota Surakarta yang menganggap dirinya sebagai kota budaya. Dimana letak kesalahannya hingga sulit dibangkitkan lagi meskipun dengan menggunakan berbagai macam cara. Apakah warga Solo yang tidak lagi peduli dengan budayanya sendiri, atau mungkin telah bosan dengan Kesenian tradisional ini yang dianggap buang-buang waktu. Ataukah manajemen dari pihak pengelola yang tidak paham dengan manajemen seni pertunjukan yang baik. Dan bagaimanakah manajemen yang baik agar masyarakat Solo pada khususnya, kembali “mencintai” Kesenian tradisional ini, sehingga dapat menjadi salah satu kebanggaan kota “lagi”?. Atau minimal, manajemen yang mampu mengemas Wayang Wong Sriwedari sehingga tidak lagi ditonton oleh segelintir Wong yang notabene-nya “teman sendiri”?.
Permasalahan ini sangat kompleks dan menarik untuk dikaji melalui sudut pandang manajemen seni pertunjukan yang baik, sehingga dapat menjadi masukan, atau mungkin himbauan agar nantinya Wayang Wong Sriwedari menjadi “Primadona” di negerinya sendiri, dan bukan hanya “barang dagangan” bagi wisatawan yang berkunjung ke kota Solo atau Surakarta ini. Di sisi lain, kemunduran Wayang Wong juga disebabkan oleh faktor eksternal. Kemajuan teknologi yaitu dengan hadirnya televisi sebagai suatu hiburan yang murah dan praktis. Selain hiburan-hiburan lain yang lebih menarik.

Aspek kesejarahan Wayang Wong Sriwedari
Berawal dari pembangunan Kebon Raja Sriwedari pada masa Paku Buwana X pada tahun Jawa 1831 (1899 M) yang dilatarbelakangi oleh pengertian betapa pentingnya suatu perubahan untuk mengikuti perkembangan jaman. Kedudukan taman Sriwedari dianggap penting baik bagi keluarga keraton maupun rakyatnya, sebagai sarana hiburan, tempat rekreasi, maupun sebagai sarana kepentingan ekonomis. Karenanya setiap pengunjung harus membayar tiket sebelum memasuki taman Sriwedari, dan pengunjung akan dipuaskan oleh berbagai hiburan, dari melihat aneka macam satwa, memancing, berenang, bermain dengan aneka permainan, hingga melihat pertunjukan Wayang Wong di dalamnya.
Wayang Wong pada masa itu merupakan salah satu sarana legitimasi raja, dimana istana merupakan sebuah pusat kebudayaan. Selain juga sebagai bentuk pernyataan bahwa masih adanya kekuasaan raja Jawa (Sunan), meskipun berada di bawah kekuasaan Belanda. Selain sebagai hiburan, Wayang Wong Sriwedari juga merupakan tempat manunggal-nya kawula lan gusti, sebab setiap diadakan pertunjukan Wayang Wong, Sunan Paku Buwana X datang melihat bersama puta-sentananya. Sehingga Wayang Wong Sriwedari pada saat itu merupakan sarana hiburan yang teramat prestisius bagi rakyat, karena dapat bertemu dengan raja-nya. Oleh karena pertunjukan ditonton langsung oleh raja, maka persembahan dan pengemasan acara dilakukan dengan baik bagi raja sebagai penonton utama.
Sebagai balasannya, dari pihak keraton memberikan perhatian dan penghormatan dengan mempenjadikan para pemain dan staf sebagai abdi dalem dan diberikan gelar oleh raja. Untuk pemain pria dianugerahi gelar ”wibakso” dan ”Rini” untuk pemain wanita, sedangkan untuk pemain gamelan diberi tambahan nama ”pangrawit atau rawita”, seperti Rusman Hardjowibakso, Nalawibakso, Sarworini, Darsi Pudyarini, Tjiptorawita, dan lain sebagainya. Selain tambahan nama, juga diberikan pangkat bagi pemain-pemain yang berkualitas. Pangkat yang diberikan di antaranya adalah jajar nem, jajar sepuh, lurah nem,dan lurah sepuh.
Selain ditonton oleh raja, pertunjukan Wayang Wong Sriwedari menjadi sangat digemari juga dikarenakan dengan adanya ”selebritis” panggung. Seperti Wugu Harjawibaksa sebagai Gatotkaca, yang setelah beliau “lengser keprabon”, digantikan oleh Rusman Harjawibaksa, Surana Harjawibaksa sebagai Petruk, kemudian Nalawibaksa sebagai Gareng, Darsi Pudyarini sebagai sosok lantap seperti Srikandi atau Banowati, Tjiptarawita sebagai pengrawit, selain nama-nama yang terkenal lainnya.
Setelah merdeka, penguasaan Wayang Wong diambil alih oleh pemerintah di bawah Dinas Pendapatan Daerah (1 Juni 1946). Ada faktor politis di dalamnya, terutama ketenaran Wayang Wong yang bisa dijadikan sebagai sumber utama pendapatan daerah. Sehingga orientasi pun berubah menjadi orientasi bisnis. Namun karena masih adanya bintang panggung seperti Rusman, Darsi, Surana, dll, maka penonton pun masih banyak, terlebih lagi Wayang Wong telah difasilitasi dengan adanya gedung pertunjukan, tata suara, dan tata cahaya yang baik. Penggajian pemain dilakukan harian, dan beberapa pemain pun sudah ada yang diangkat menjadi Pegawai Negeri.
Tetapi dengan adanya rutinitas pementasan agaknya memberi kebosanan pemain yang mengakibatkan menurunnya semangat kerja dan idealisme, yang akhirnya dapat menurunkan tingkat kualitas nilai seninya. Apalagi setelah para bintang panggung itu mulai menua dan tidak ada lagi yang muncul sebagi bintang panggung. Meskipun pemain telah banyak yang diangkat menjadi pegawai negeri serta wiyata bakti pada masa Wayang Wong berada di bawah Dinas pariwisata, namun tidak serta merta menaikkan kesenian ini. Penambahan fasilitas guna kenyamanan penonton seperti kebersihan, pendingin ruangan, lighting yang bagus, dan lain sebagainya juga tak mampu menarik penonton untuk datang melihat pertunjukan Wayang Wong Sriwedari.
Wayang yang merupakan budaya Indonesia mulai kurang
diminati oleh generasi muda, hal ini dikarenakan Wayang mempunyai saingan
yang sangat kuat, yaitu budaya modernitas dalam segala keluasaan dan variasi,
misalnya musik pop, Televisi ( dimana banyak acara talkshow yang barangkali
lebih menarik daripada acara Wayang ), bioskop, disko, dan sebagainya. Modern itu serba dinamis, merangsang secara langsung, jauh lebih praktis,
mengakomodasi segala selera, bersuasana internasional, yang membuat generasi
muda lebih memilihnya. Akan tetapi modernitas bukan sebuah budaya, melainkan
sebuah sivilisasi, sebuah gaya hidup, namun gaya itu dangkal karena hanya
menyangkut simbol – simbol lahiriahnya.
Pada tahun 1901 – 1946, Wayang Wong Sriwedari berdiri di bawah
Keraton Kasunanan Surakarta, yang masih merupakan seni istana, pada tahun
1946 – 1980 berganti di bawah Pemerintah Kotamadya Surakarta, sejak kejadian
penghapusan pemanggungan Wayang Wong, maka berkembang sebagai seni
panggung rakyat, yang semula adalah seni istana, meski secara kualitatif
mengalami kemunduran status, tetapi secara kuantitatif fenomenanya menjadi
merebak dan menjadi wacana keseharian masyarakat.
Wayang Wong Sriwedari berada di bawah Dinas Pariwisata Kotamadya. Wayang Sriwedari merupakan hiburan / seni tradisional yang banyak digemari, bahkan negara Jepang melalui kedutaan besarnya di Indonesia ikut menyumbang dana guna memperbaharui dan melestarikan tempat Wayang Wong Sriwedari tersebut, Wayang Wong Sriwedari merupakan suatu kesenian yang bermuatan filosofi untuk kehidupan manusia, dan mempunyai pakem cerita yang sangat banyak sehingga sangat variatif, hingga sekarangpun seni tradisional Wayang Wong Sriwedari masih berlangsung .
Wayang Wong Sriwedari tidak hanya mempunyai potensi yang besar,
namun didukung pula oleh letaknya yang strategis untuk dapat dijangkau oleh
target audience karena disekitar wilayah Wayang Wong Sriwedari terdapat
banyak tempat yang menunjang lainnya, yaitu Restoran Boga, Gedung bioskop
Solo, Stadion Sriwedari, Museum Radya Pustaka, Gedung pertemuan Graha Pena
dan Taman Hiburan Rakyat. Dengan mengetahui segala keunikan dan fenomena
yang terdapat pada seni tradisional ini, Wayang Wong Sriwedari merupakan suatu
seni tradisional yang mempunyai potensi besar untuk menjadi andalan obyek
pariwisata Surakarta untuk turis domestik maupun mancanegara, sehingga dapat
membantu menambah penghasilan Pemda, disamping itu dengan dengan adanya
Wayang Wong Sriwedari ikut melestarikan kebudayaan Indonesia dan menjadi
kesenian yang merupakan ciri khas dari kota Surakarta, bahkan dapat membantu
mengangkat nama kota Surakarta menjadi lebih baik, dan dikenal oleh turis
domestik maupun mancanegara karena mempunyai suatu seni tradisional yang
baik

Pertunjukan Wayang Wong Sriwedari
Untuk menuju Gedung Wayang Wong Sriwedari, Solo, mudah dicapai, dapat menggunakan alat transportasi taksi, becak, angkutan kota lainnya termasuk andong sebagai transportasi tradisional. Letaknya yang berada ditengah-tengah kota sangat mudah untuk menuju ke tempat tersebut. Pertunjukan Wayang Wong Sriwedari di gelar setiap malam. Waktu pertunjukkannya setiap hari senin sampai sabtu pukul 20.00-23.00 dan hari Minggu tutup. Dengan membayar tiket sebesar Rp 3000 dapat menikmati pertunjukan Wayang Wong sriwedari.
Sebelum pertunjukan digelar biasanya para pemain mulai dari pengrawit sampai pada penari tampak berbincang-bincang di depan panggung sambil menunggu jam pementasan. Jika diamati seolah-olah itu adalah penonton yang sedang menunggu pertunjukan Wayang Wong yang akan digelar.
Di belakang panggung banyak para pemain dengan cepat berganti pakaian, make-up wajah dan penampilannya sesuai dengan karakter tokoh yang di mainkan. Ketika melihat para pemain dibelakang panggung tampak tidak semuanya bapak-bapak dan Ibu-ibu ternyata terdapat juga anak muda yang ikut serta dalam memainkan pertunjukan Wayang Wong, hal ini dimungkinkan didukung oleh Institut Seni Indonesia maupun Sekolah Menengah Karawaitan Indonesia yang ingin menggali kesenian melalui pementasan Wayang Wong Sriwedari. Wayang Wong Sriwedari adalah salah satu bentuk seni pertunjukkan tradisional yang menyajikan cerita Wayang berdasarkan pada cerita Ramayana dan Mahabarata yang mengandung filosofi dan tertanam dalam jiwa Bangsa Indonesia.
Sesuai dengan perannya masing-masing dibelakang panggung terdapat petugas yang menarik background panggung yang menyesuaikan seolah-olah tempat kejadian dalam pertunjukan Wayang Wong dan ini dilakukan secara manual denagan menarik tali. Suara gamelan menunjukkan pertunjukan Wayang Wong akan dimulai, kurang lebih setengah jam dalam memberikan awalan dengan suara gamelan pembuka sedangkan di belakang panggung masih sibuk untuk mempersiapkan riasnya. Setting lampu sudah tertata dengan berbagai macam sorot cahayanya yang berwarna-warna sesuai dengan adegan dan saat-saat peperangan semuanya sudah tertata. Tepat pukul 20.30 pertunjukan Wayang Wong dimulai, pada waktu itu dengan lakon “Kidung Panglebur Gongso”
Kemudian dari segi penontonnya, sebelum pertunjukan dimulai belum ada yang menunggu hanya barisan kursi kosong mengisi ruang pertunjukkan. Ketika suara pertunjukan terdengar mulai ada penonton yang masuk. Biasanya ada beberapa turis asing yang kebetulan ingin mengetahui pertunjukan Wayang Wong Sriwedari dengan di dampingi guide-nya melihat-lihat di balik panggung untuk mengetahui persiapan yang dilakukan para pemain kemudian menyempatkan diri untuk ikut menonton. Dari sisi penonton lokal kebanyakan adalah penduduk sekitar yang hanya berjumlah sepuluh Wong jumlah keseluruhan penonton. rata-rata sudah lanjut usia dan ibu-ibu dengan membawa anaknya. Mereka datang untuk menghibur diri dan biasanya seminggu datang dua kali. Adapun anak muda yang hadir untuk menonton pertunjukan Wayang Wong Sriwedari itu hanya sebagai tugas dari kampus diantaranya guna mengambil dokumentasi baik fotografi maupun videografi, serta pengamat untuk melakukan kritik atau hanya sekedar ingin tahu. Jadi perbandingan jumlah antara pemain Wayang Wong dan penontonnya lebih besar pemainnya. Jika melihat penontonnya sangat bervariasi dalam menikmati sebuah pertunjukan Wayang Wong sering dijumpai terutama penonton yang sudah lanjut usia, menikmatinya sambil tidur dan bagi yang muda hanya sekedar tau pertunjukannya lalu meninggalkan tempat duduk.
Mengingat masa lalu Wayang Wong Sriwedari mendapat dukungan para seniman yang mumpuni, sehingga sanggup menyuguhkan pertunjukkan yang bisa dibilang bermutu. Namun sekarang, dengan melihat kondisi penonton yang hanya sedikit, para pemain tampaknya masih mempunyai rasa semangat bermain sepenuh hati.

Manajemen Wayang Wong Sriwedari
Keberlangsungan suatu organisasi dan keberhasilannya seringkali ditentukan oleh penanganan manajerialnya. Manajemen dalam sebuah organisasi bisa dikatakan jiwa atau roh dalam menggerakkan roda organisasi. Manajemen yang dalam bahasa Inggris ditulis manajement (dari kata kerja to manager) yang asalnya dari bahasa latin managiare dapat diartikan sebagai usaha untuk mengurusi, mengendalikan atau mengurusi sesuatu (Murgiyanto. 1985:27) pada perkembangan selanjutnya lebih cenderung diartikan mengelola, mengkoordinasikan, serta mengendalikan.
Dalam kaitannya dengan seni pertunjukan, keberadaan manajemen benar-benar sangat diperlukan, apalagi ketika kehidupan seni pertunjukkan semakin banyak bersinggungan dengan sistem ekonomi. Ini terjadi karena keberadaan seni pertunjukan terutama seni-seni tradisi mulai terhimpit dan tertekan dalam situasi dan kondisi kehidupan masyarakat yang dinamis. Dari sini mulailah pengelolaan seni pertunjukan dalam proses kerjanya banyak yang menggunakan manajemen modern, dengan tujuan memberi keseimbangan sekaligus menjawab tuntutan kehidupan yang semakin kompleks. Hal ini dilakukan karena persaingan faktor kehidupan diluar kesenian semakin tajam.
Kesenian adalah produk kreatifitas masyarakat. Kesenian ditopang oleh beragam faktor, tidak hanya intrinsik tetapi sekaligus juga ekstrinsik. Umar Kayam mengungkapkan bahwa kerangka pemikiran yang lebih luas membicarakan keberadaan suatu kesenian tidak bisa tidak harus juga melibatkan unsur-unsur yang ada di luar kesenian. Kehadiran dan perkembangannya ditentukan oleh adanya faktor yang disebut penyangga budaya, salah satunya adalah masyarakat dari tempat dimana kesenian itu berada, baik dalam arti kolektif/komunitas maupun atas nama individu (Umar Kayam. 1995:23).
Upaya untuk membangkitkan kembali kesenian tradisional, dimana salah satunya adalah Wayang Wong Sriwedari bukan merupakan hal yang mudah, dan memerlukan perjuangan yang luar biasa. Apalagi kesenian tersebut sudah kurang mendapat dukungan masyarakatnya dengan kata lain kurang atau tidak begitu diperlukan lagi baik sebagai hiburan, tontonan, maupun tuntunan. Jika telah demikian maka meskipun hilang atau punah pun, tidak menjadi apa bagi mereka, dan tidak pula akan mereka tangisi. Meskipun kesenian ini pernah menjadi sebuah “kebanggaan” kota Solo pada masa itu.
Pendekatan manajemen modern sangat penting untuk diterapkan dalam organisasi pertunjukan Wayang Wong Sriwedari, karena prinsip manajemen modern memiliki tujuan untuk mensiasati adanya keselarasan antara hasil atau produk karya seni dengan keberadaan pasar. Selain itu juga untuk menciptakan kodisi yang harmonis antara keberlangsungan kesenian Wayang Wong sriwedari dengan kehidupan masyarakatnya. Manajemen menekankan terhadap pentingnya peningkatan kreativitas seniman untuk terus mendukung roda aktifitas berkeseniannya agar selalu terjaga dan tetap bersinergi dengan kehidupan masyarakatnya.
Penerapan sistem manajemen pada pertunjukan Wayang Wong Sriwedari bisa dikatakan sudah cukup dilakukan secara transparan, hal ini di karenakan keberadaannya yang ada dibawah tanggung jawab Dinas Pariwisata pemerintah kota Surakarta, maka terlihat jelas susunan kepengurusan dan pembagian kerja yang cukup sistematis. Secara garis besar pengelolaan organisasinya menerapkan sistem pembagian kerja dalam dua wilayah utama. Wilayah pertama yaitu pengelolaan dalam proses berkesenian dengan kata lain penanganan dengan proses produksi seni dan yang ke dua adalah pengelolaan organisasi yang menangani proses kerja diluar seni yaitu pada wilayah administrasi, keuangan dan pemasaran pembagian kerja dalam dua wilayah ini dilakukan untuk memudahkan operasional kerja agar lebih terfokus dan tidak terjadi tumpang tindih antar kepentingan dari dua wilayah yang berbeda dalam proses pendekatan kerjanya.
Manajemen seni wilayah artistic
Sebenarnya pada wilayah artistic ini posisi seorang sutradara begitu sangat penting karena menjadi pusat pengendali dari proses kerja produksi seni yang meliputi pengadaan dan pemilihan naskah, selanjutnya melakukan pengkestingan (pembagian peran) dilanjutkan dengan proses latihan sampai akhirnya dipentaskan. Dengan kata lain seorang sutradara harus bertanggung jawab penuh atas terselenggaranya seluruh proses produksi dari awal hingga berakhirnya kegiatan produksi. Dari pemantauan yang kami amati dalam proses kerja produksi pertunjukkan Wayang Wong Sriwedari peran, fungsi serta tanggung jawab seorang sutradara tidak sejalan dengan apa yang kami uraikan di atas. Tugas utamanya hanya sebagai pelatih pengatur jadwal latihan dan jadwal pementasan.
Selain sutradara pendukung lainnya adalah pemain dan pengrawit mereka inilah sebenarnya ujung tombak dari sebuah pertunjukan yang langsung berhadapan dengan penikmat dan daya tarik pertunjukkan akan sangat tergantung pada mereka. Sejauh mana kesan garapan mengekpresikan karakter peran yang dimainkan. Sejauh mana mampu melakukan gerakan-gerakan improvisasi yang sanggup meyegarkan suasana sehingga enak untuk ditonton dan terasa komunikatif. Begitupun dengan pengrawit, mereka dituntut untuk bisa mendukung terciptanya suatu atmosfir panggung pertunjukan semakin terasa hidup. Tetapi yang yang terlihat dipanggung pertunjukan Wayang Wong sriwedari sepertinya para pemain bermain seadanya tidak ada greget dan kurang improvisasi serta inovasi, mereka terkesan jenuh dengan peran-peran yang dimainkannya, sehingga pertunjukan jadi kurang hidup dan terasa monoton.
Manajemen seni wilayah non artistic
Pengelolaan di wilayah non artistik adalah bagian dari pekerjaan yang tidak berhubungan secara langsung dengan aspek kesenian yang kegiatannya antara lain meliputi administrasi, keuangan, kehumasan, pemasaran, dan lain-lain. Dalam pelaksanaanya pekerjaan manajemen seni wilayah non artistik ini harus bersinergi dengan pekerjaan manajemen seni di wilayah artistik, sehingga mengarah pada tujuan yang sama untuk memperoleh keberhasilan organisasi. Pekerjaan di wilayah ini harus dikerjakan dengan cermat dan harus dapat mendukung jalannya proses produksi. Satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah transparansi dalam masalah keuangan. Biasakan selalu diadakan laporan pertanggungjawaban keuangan secara terbuka, sehingga bisa diketahui oleh semua Wong yang terlibat dalam organisasi. Hal ini perlu dilakukan agar tidak terjadi kecemburuan dan kerugian yang akhirnya bisa mengganggu proses kerja organisasi secara keseluruhan.
Penerapan manajemen seni wilayah non artistik dalam organisasi Wayang Wong Sriwedari perangkat pendukung dan tenaga-tenaga yang ahli dibidangnya boleh dibilang sudah cukup memadai, karena mereka adalah Wong-Wong yang memiliki spesifikasi keilmuan yang sesuai dengan bidang pekerjaannya. Ditambah lagi status mereka yang pegawai negri Dinas periwisata yang dapat gaji rutin setiap bulannya. Akan tetapi pada kenyataannya kerja profesionalitas mereka belum sesuai dengan yang diharapkan. Mereka lebih memposisikan dirinya sebagai Pegawai Negri ketimbang sebagai pengelola kesenian. Bagi mereka bisa jadi yang penting pekerjaan administrasi selesai dikerjakan, persoalan bagaimana pertunjukannya, penontonnya itu semua tidak menjadi beban dan tanggung jawabnya. Atau mungkin saja di antara mereka ada yang tidak faham dan mengerti arti dari sebuah pertunjukan Wayang Wong yang sedang dikelolanya.
Secara umum proses kerja manajemen seni pertunjukan Wayang Wong Sriwedari dalam pengelolaannya tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Aspek-aspek penting yang terdapat dalam manajemen seperti halnya yang dikemukakan oleh Stoner adanya proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pelaksanaan, serta pengawasan dan pemantauan sudah biasa di lakukan, tetapi kurang diperhatikan dan dijalankan dengan baik. Bisa jadi hal ini terjadi karena sikap etos kerja mereka, baik para pengelola organisasi dan para pelaku pertunjukannya lebih memposisikan diri sebagai PNS ketimbang sebagai pekerja seni. Bagi mereka main Wayang, mengelola pertunjukan adalah semata-mata karena tugas dan kewajibannya sebagai PNS.

Empat aspek penting menejemen seni pertunjukan
Perencanaan
Perencanaan merupakan titik awal dalam proses manajemen. Proses ini dilalui untuk pembagian tugas, menggerakkan sumber daya, mengalokasikan dana dan mencari cara dan acuan dalam mengevaluaisi keberhasilan pertunjukan. Dalam gal ini juga penjabaran gagasan pertunjukan. Melalui perencanaan ini dapat diurai manfaatnya, yaitu mengurangi resiko ketidakpastian, memusatkan perhatian pada sasaran, menjadi dasar bagi fungsi dan tugas pengelola manajemen yang lain (Mike Susanto. 2004. 28).
Berpijak dari perencanaan dalam manajemen, maka secara singkat proses perencanaan yang dilakukan didalam pertunjukan Wayang Wong Sriwedari meliputi kegiatan: menentukan kegiatan/kerja yang harus di lalui, mengurutkan kegiatan diantaranya mengadakan sesi latihan-latihan sebelum main di atas panggung dan mempersiapkan segala peralatan yang yang mendukung sebuah pertunjukan. Selanjutnya, melakukan penjadualan. Penjadualan dimaksudkan pada pembagian cerita-cerita lakon yang akan dimainkan tiap malam sehingga tidak ada kecenderungan yang membosankan. Kemudian yang terakhir dalam proses perencanaan ialah mengintegrasikan antara sekian banyak tugas yang akan dijalani dalam pertunjukan wayang Wong sriwedari.
Lebih lanjut dalam proses perencanaan nantinya akan dibagi pada masalah penentuan jenis lakon dan mengenal “siasat atas publik” sebagai acuan dan menentukan keberhasilan. Perencanaan adalah proses kerja yang merupakan awal dari suatu kegiatan yang akan dilakukan termasuk didalamnya menentukan cara pelaksanaan, pengorganisasian dan pemantauan. Dalam kegiatan pentas Wayang Wong Sriwedari, aspek perencanaan sudah tersusun secara baik, dari mulai persiapan administrasi dan persiapan pementasan yang sudah terjadwal untuk satu bulan kedepan lengkap dengan cerita yang akan dibawakan temasuk pemilihan casting pemain dari setiap lakon yang akan dimainkan.
Pengorganisasian
Dalam pengorganisasian, sebenarnya kelompok pentas seni pertunjulan Wayang Wong Sriwedari sangat diuntungkan, dimana keberadaannya ada dibawah tanggung jawab langsung dinas pariwisata pemerintah setempat (Surakarta ). Fasilitas pertunjukan boleh dibilang cukup memadai, bantuan dana yang sudah dialokasikan serta para pemain dan pangrawit yang hampir 90% sudah diangkat menjadi pegawai negri. Susunan pengurus sudah lengkap, anggaran dasar sudah ada dan program kerja sudah tersedia. Hal ini sebenarnya sudah cukup menjadi modal kekuatan yang bisa diandalkan untuk bisa menggerakan roda organisasi. Akan tetapi pada kenyataannya dilapangan kondisi diatas tadi, membuat iklim dan etos kerja mereka bersifat rutinitas tanpa persepsi kreatif, mereka berkesenian dan mengurusi kesenian hanya semata-mata untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pegawai negri. Dalam pembagian pengurus dapat dilihat pada bagan pengorganisasian (di lampiran).
Pengarahan dan pelaksanaan
Pengarahan dalam organisasi Wayang Wong Sriwedari bisa dilakukan secara rutin dan berkala, urusan administrasi biasanya dilakukan oleh staf dinas pariwisata bidang seni dan budaya yang secara khusus ditugasi mengurus seni pertunjukan Wayang Wong Sriwedari. urusan pentas dan artistik pentas seni lebih banyak diarahkan oleh sutradara. Yang dimaksudkan adalah pengawasan yang dilaksanakan oleh pimpinan (pimpinan Wayang Wong Sriwedari), berbagai macam langkah sudah disiapkan, berbagai macam cara sudah dilakukan juga berbagai macam aturan tambahan sudah dibuat untuk mengoptimalkan kerja organisasi, akan tetapi dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan apa yang telah di Instruksikan, karena pada kenyataannya sikap mereka terkesan menganggap kegiatan ini sebagai kerja rutinitas pegawai bukan sebagai seorang seniman.
Pengawasan dan pemantauan
Kegiatan pengawasan dan pemantauan terhadap proses kerja organisasi Wayang Wong Sriwedari biasa dilakukan terutama oleh dinas pariwisata dabantu oleh dinas pendidikan dan kebudayaan. Aktivitas para pemain dan pangrawit selalu menjadi prioritas utama dalm kegiatan pengawasan dan pemantauan karena posisi mereka merupakan kekuatan utama dalam organisasi. Di samping itu pengawasan dan pemantauan juga dilakukan terhadap kerja administrasi serta kondisi sarana dan prasarana panggung sebagai tempat pementasan.
Kondisi etos kerja mereka yang lebih memposisikan diri dalam tanggung jawabnya sebagai seorang pegawai ketimbang sebagai seorang seniman secara tidak langsung menjadikan semua aspek-aspek penting dalam menejemen seperti yang disebutkan diatas tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya, dengan kata lain, bagi mereka perencanaan rupanya cukup asal tahu jadwal latihan dan pementasan. Pengorganisasian dilakukan hanya sebatas mengelompokan pekerjaan dan pembagian tugas yang disesuaikan dengan jadwal latihan dan pementasan, pengarahan dan pelaksanan lebih bersifat mengingatkan, mengintrusikan, menyampaikan dan melaksanakan tugas kegiatan sebagai tanggung jawab dari pekerjaan yang di embannya. Adapun pengawasan dan pemantauan tidak dijalankan secara tegas dan disiplin, hanya dilakukan apa adanya, yang penting kegiatan berjalan dan perlu adanya laporan dari setiap kegiatan.

Penyebab pudarnya kebudayaan di Sriwedari
Keberlangsungan pertunjukan Wayang Wong Sriwedari yang lama-lama menjadi kendala yang sangat mendasar yaitu masyarakat Solo dan sekitarnya sudah tidak lagi menganggap Wayang Wong sriwedari sebagai suatu kebutuhan, apalagi masa sekarang hiburan yang mudah dan murah teramat sangat banyak, bahkan cenderung lebih menarik. Contoh nyatanya pun juga masih berada di kompleks taman Sriwedari. Taman Hiburan Rakyat dengan banyak varian permainannya, stadion sriwedari jika ada pertandingan sepak bola, terlebih lagi bila ada konser musik yang diadakan di Stadion Sriwedari (Maladi-red).
Meskipun difasilitasi dengan apapun, harga tiket semurah berapapun hingga digratiskan, bentuk kemasannya pun sudah diubah sedemikian rupa, yang bahkan sekarang lebih cenderung pada Wayang Wong ”humor”, karena dagelan-dagelan lebih ditonjolkan, tidak juga menggugah animo masyarakat untuk datang.
Namun kemajuan jaman dan pengaruh budaya luar yang sangat
mempengaruhi gaya hidup masyarakat kota Surakarta, menyebabkan
tenggelamnya seni tradisional Wayang Wong Sriwedari, hal ini dapat dilihat dari
jumlah penonton setiap jam penayangannya yang sangat sedikit, dan rata-rata usia
dari para pengunjung yang kurang lebih berumur 40-50 tahun, hal ini
membuktikan para pengunjung hanyalah terdiri dari Wong-Wong tua yang masih
menyukai seni tradisional Wayang Wong Sriwedari ini, padahal target audience
dari seni tradisional ini adalah semua kalangan. Akan tetapi penyebab mulai
dilupakannya seni tradisional ini bukan hanya faktor- faktor di atas, namun juga
dikarenakan dari faktor internal, permasalahan ini yang dituding untuk sementara
adalah tidak berfungsinya manajemen secara profesional, dan kurang
memahaminya pihak Dinas Pariwisata Kota Surakarta sebagai lembaga yang membawahi Taman Sriwedari dan Wayang Wong, harga tiket masuk yang murah
justru menjadi bumerang, murahnya harga tiket menunjukkan bahwa apa yang
dijual pasti kurang bermutu, maka minat penonton menjadi berkurang,
Kegamangan masa depan Wayang Wong Sriwedari masih tetap tidak berubah
sepanjang sistem manajemen tidak dibenahi secara mendasar. Sementara pihak
Dinas Pariwisata Kodia Surakarta hanya mampu mempertahankan rutinitas pentas
dengan subsidi pemerintah yang pas–pasan hal ini terjadi kemungkinan
dikarenakan belum diberlakukannya otonomi daerah, dimana dalam hal ini
merupakan tanggung jawab dari humas pemerintah, dimana Undang-undang
otonomi daerah banyak didukung oleh segenap lapisan masyarakat.
Kualitas penyajian yang cenderung menurun dikarenakan keterlambatan alih generasi dan sumber daya manusia yang handal dalam seni Wayang Wong tersebut, yang dikarenakan kurang adanya ketertarikan para pemuda untuk menggeluti seni tradisional ini, hal ini dikarenakan pertama, karena status menjadi pemain Wayang Wong Sriwedari tidak jelas, terutama terkait dengan masa depan. Kedua, menjadi pemain Wayang Wong Sriwedari tidak dapat menjamin kesejahteraan hidup karena rendahnya sistem pembayaran honorarium pada tahun 1980 – 1991, dikeluarkan kebijaksanaan dalam usaha meningkatkan kesejahteraan para pemain, dengan mengangkat sebagian pemain Wayang menjadi pegawai dalam negeri, kecuali bagi mereka yang tidak memiliki ijazah, namun sayangnya berpedoman pada sistem yang berlaku umum dengan berdasarkan pada status pendidikan formal dan bukan pada keahlian, padahal banyak ahli Wayang yang berpendidikan rendah
Penghasilan rata–rata perhari pada tahun 1998 sekitar Rp 5.250,00 perhari, suatu gambaran bahwa kehidupan para senman masih memprihatinkan, kondisi ini jelas tidak layak dan secara psikologis sangat berpengaruh terhadap kualitas para seniman, yang imbasnya menjadi penurunan mutu penyajian, dan mempengaruhi sikap dan minat publik untuk kembali menonton.
Kurangnya rasa tertarik mungkin dikarenakan publikasi yang kurang, karena selama ini publikasi hanya dilakukan seadanya, hanya terbatas di lingkungan taman Sriwedari dalam bentuk yang sederhana, bahkan dalam hal publikasi ini, Wayang Wong Sriwedari mengalami kemunduran dari sejak berdiri hingga sekarang .Dengan semakin berkurangnya peminat akan seni tradisional Wayang Wong Sriwedari ini, dikhawatirkan kesenian ini lama kelamaan akan punah.
Dalam mengembangkan Wayang Wong Sriwedari, sehingga menjadi budaya yang kembali digemari, muncul beberapa permasalahan yang perlu diperhatikan yaitu mutu para pemain, mutu penyajian, dan yang paling utama ialah bagaimana menarik minat target audience untuk mau menjadi konsumen dari Wayang Wong tersebut di tengah–tengah maraknya budaya modernitas.
Solusi
Untuk mengantisipasi berbagai permasalahan tersebut, langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan melakukan publikasi, untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang keberadaan Wayang Wong Sriwedari, dengan publikasi yang dapat menarik minat pengunjung, dengan menggunakan media yang tepat sasaran, publikasi yang berhasil dan menarik minat pengunjung, maka pada kesempatan itu sudah barang tentu harus dimanfaatkan sebaik–baiknya oleh pihak seniman Wayang Wong Sriwedari untuk meningkatkan kualitas seninya dengan berbagai bentuk garapan yang inovatif dan tanggap terhadap selera publik tanpa harus mengurangi kaidah–kaidah nilai estetisnya, dengan melihat keberhasilan dan potensi yang ada pada Wayang Wong Sriwedari niscaya akan membuat Pemerintah ikut mendukung dalam berbagai hal, yang juga menyangkut pembayaran honorarium, seperti telah diketahui selama ini rendahnya pembayaran honorarium tidak bisa menjamin kesejahteraan para pemainnya, dengan hal ini maka kekhawatiran para generasi muda dalam masa depan sebagai pemain Wayang menjadi sirna sehingga dapat menarik minat para generasi muda untuk ikut ambil bagian dalam Wayang Wong Sriwedari. Jadi bagaimana melakukan publikasi yang baik dan tepat sasaran melalui media komunikasi visual?
Menjadikan Wayang Wong Sriwedari sebagai kesenian yang digemari oleh para turis domestik maupun mancanegara, dengan jalan melakukan promosi yang baik dan tepat sasaran, dengan menerapkan hasil survey target audience untuk menentukan cara berpromosi, supaya dapat melakukan promosi yang tepat dengan dikemas secara menarik sehingga dapat menarik perhatian konsumen, sehingga seni tradisional ini menjadi suatu seni yang menjadi ciri khas dan salah satu andalan obyek pariwisata kota Surakarta, dan meningkatkan citra Wayang Wong Sriwedari dimata masyarakat daerah Surakarta pada khususnya dan di seluruh Indonesia dan dunia.
Sehingga diperlukan publikasi yang baik pula, bukan yang seadanya dan terbatas di wilayah Sriwedari yang bentuknya pun tidak menarik. Publikasi yang baik yang perlu dilakukan seperti bekerja sama dengan pihak lain, baik surat kabar dan radio lokal, juga melalui televisi lokal yang sudah ada di kota Solo, selain melalui leaflet atau pamflet yang dikeluarkan pemerintahan kota Surakarta yang tentu saja dengan penyebaran yang merata seperti menepatkan leaflet-leaflet di seluruh hotel di Surakarta dengan agenda pertunjukannya dilakukan secara terus-menerus.
Konsep perancangan untuk publikasi adalah pembaharuan yang dilakukan dalam hal promosi, baik cara maupun medianya, sehingga dapat memaksimalkan metode berpromosi yang modern untuk mengangkat kembali seni tradisional, pengunaan metode berpromosi yang modern ini dimaksudkan dengan mengikuti selera publik, supaya dapat menjangkau target audience. Dalam hal desain juga menampilkan suatu desain yang sesuai dengan selera publik, namun tetap berpegang pada pakem Wayang Wong Sriwedari, sehingga tidak kehilangan kekhasannya sebagai sebuah seni budaya tradisional, desain yang dimaksud adalah desain logo yang dapat menggambarkan citra dari Wayang Wong Sriwedari dengan pengaplikasiannya pada stationery, peralatan kantor, signage, seragam, sarana transportasi, dan sarana promosi yang disesuaikan dengan selera konsumen.
Perancangan dilakukan secara luas namun spesifik, perancangan yang dibuat mencakup rancangan logo, corporate identity dan aplikasi pada media komunikasi visual yang menunjang sarana promosi, serta rancangan iklan yang dilakukan untuk membentuk citra yang sesuai dengan Wayang Wong Sriwedari.
Permasalahan-permasalahan yang dianggap sebagai penghambat segera perlu diperhatikan, diantaranya mutu sarana dan prasarana, mutu pemain, sutradara dan skenario, mutu penyajian untuk menarik minat penonton. Namun yang terpenting, menanamkan pada masyarakat bahwa Wayang Wong Sriwedari merupakan suatu “kebutuhan”. Dan konsekuensinya, bentuk pertunjukan kembali diolah menjadi bentuk yang mendidik dan menghibur (edutainment), yang bukan hanya sekedar ajang tampil sebagai penyaluran hobi yang dibayar. Selain juga perlu dihadirkan “bintang” panggung sebagai magnet yang menarik penonton untuk datang ke pertunjukan Wayang Wong Sriwedari. Mungkin dengan mengajak Wali kota untuk tampil bermain, atau selebritis ibu kota untuk ikut memeriahkan Wayang Wong Sriwedari.
Tetapi jika juga tidak mampu mendatangkan kembali penonton, mungkin perlu sedikit unsur “pemaksaan”, seperti yang pernah dilakukan pemerintah. Jika dulu bagi Pegawai Negeri Sipil ada wajib batik, dengan konteks Wayang Wong Sriwedari disini, mungkin bagi jajaran PNS diberlakukan wajib nonton, minimal sebulan sekali, itupun sudah cukup mendukung jika ditilik lagi jumlah PNS di wilayah kota Surakarta.Terlebih lagi jika dapat ditetapkan dalam sebuah peraturan Pemerintahan Kota Surakarta, syukur jika bisa menjangkau wilayah di sekitar kota Solo.
Jika Wayang Wong Sriwedari telah dianggap sesuatu yang memiliki makna dan perlu dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya yang mana pertunjukkan tradisional yang menyajikan cerita Wayang berdasarkan pada cerita Ramayana dan Mahabarata yang mengandung filosofi dan tertanam dalam jiwa Bangsa Indonesia seperti yang sudah disebut di atas. Maka perlu adanya sarana edukasi bagi generasi muda-muda untuk mengamati, mempelajari untuk dapat memahami dengan cara memberikan tugas bagi siswa-siswa tingkat pertama maupun atas, yang tentu saja pihak pengelola Wayang Wong Sriwedari di bawah Dinas Pariwisata menjalin kerjasama dengan dinas pendidikan untuk memberikan rekomendasi kepada sekolah-sekolah di seluruh wilayah Surakarta.

Kesimpulan
Seni adalah milik semua Wong, tak mengenal status ataupun strata. Miskin dan kaya berhak menikmati dan menghasilkan seni. Wayang Wong Sriwedari, yang pernah mengalami masa keemasan pada masa Sriwedari dengan Wayang Wong-nya ketika dikelola oleh Keraton Kasunanan Surakarta, yang masa itu di bawah Sunan Paku Buwana X. Hingga kemudian mengalami kemunduran setelah dikelola oleh pihak Pemerintahan kota, di bawah Dinas Pendapatan Daerah dan Dinas Pariwisata fenomena tersebut dapat dilihat dari aspek kesejarahan yaitu kedudukan taman Sriwedari dianggap penting baik bagi keluarga keraton maupun rakyatnya, sebagai sarana hiburan, tempat rekreasi, maupun sebagai sarana kepentingan ekonomis.
Mengingat masa lalu Wayang Wong Sriwedari mendapat dukungan para seniman yang mumpuni, sehingga sanggup menyuguhkan pertunjukkan yang bisa dibilang bermutu. Namun sekarang, dengan melihat kondisi penonton yang hanya sedikit, para pemain tampaknya masih mempunyai rasa semangat bermain sepenuh hati.
Keberlangsungan dan keberhasilannya seringkali ditentukan oleh penanganan manajerialnya. Kaitannya dengan seni pertunjukan, ketika kehidupan seni pertunjukkan semakin banyak bersinggungan dengan sistem ekonomi, ini terjadi karena keberadaan seni pertunjukan terutama seni-seni tradisi mulai terhimpit dan tertekan dalam situasi dan kondisi kehidupan masyarakat yang dinamis.
Maka perlu koreksi dalam Manajemen Wayang Wong Sriwedari diantaranya pada wilayah pertama yaitu pengelolaan proses berkesenian dengan kata lain, penanganan proses produksi seni dan yang ke dua adalah pengelolaan organisasi yang menangani proses kerja diluar seni yaitu pada wilayah administrasi, keuangan dan pemasaran pembagian kerja dalam dua wilayah ini dilakukan untuk memudahkan operasional kerja agar lebih terfokus dan tidak terjadi tumpang tindih antar kepentingan dari dua wilayah yang berbeda dalam proses pendekatan kerjanya.
Sedangkan pada saat ini, hal yang masih dinggap untung adalah mampu mempertahankan rutinitas pentas dengan subsidi pemerintah yang pas–pasan hal ini terjadi kemungkinan dikarenakan belum diberlakukannya otonomi daerah dan hal-hal yang termasuk diperhatikan dari sekian faktor yang menunjuang keberlangsungan pertunjukan Wayang Wong Sriwedari meliputi perancangan dilakukan secara luas namun spesifik, perancangan yang dibuat mencakup rancangan logo, corporate identity dan aplikasi pada media komunikasi visual yang menunjang sarana promosi, serta rancangan iklan yang dilakukan untuk membentuk citra yang sesuai dengan Wayang Wong Sriwedari.
Langkah yang lebih ekstrim untuk mampu mendatangkan kembali penonton, mungkin perlu sedikit unsur “pemaksaan”, seperti yang pernah dilakukan pemerintah. Jika dulu bagi Pegawai Negeri Sipil ada wajib batik, dengan konteks Wayang Wong Sriwedari disini, mungkin bagi jajaran PNS diberlakukan wajib nonton minimal dua kali seminggu.

Daftar Pustaka

Achsan Permas, Crysanti Hasibuan-Sedyono, L.H. Pranoto, Triono Saputro. 2003. Manajemen Organisasi Seni Pertunjukan. Jakarta: PPM.
Hasapandi. 1999. Wayang Wong Sriwedari: Dari Seni Istana Menjadi Seni Komersial. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.
M. Jazuli 1995. Manajemen Produksi Seni Pertunjukan. Surakarta: Yayasan Resi Tujuh satu
Mike Susanto. Menimbang Ruang Menata Rupa-Wajah dan Tata Pameran Seni Rupa. Yogyakarta. Galang press. 2004.
Rusini. 2003. Gathutkaca di Panggung Soekarno. Surakarta: STSI Press
Sal Murgiyanto. 1985. Manajemen Pertunjukan. Jakarta: Departemen pendidikan dan Kebudayaan.
T. Hani Handoko. 1984. Manajemen. Yogyakarta: BPFE
Umar Kayam. 1981. Seni Tradisi Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.

Sumber Lain
Wayang Wong Sriwedari. Kompas, 8 November 1990
Heri Priyatmoko. Taman Sriwedari Surakarta Dalam Memori Sejarah. Solopos, 15 Desember 2007.

Tidak ada komentar: