Jenis ornamen yang terdapat di Jepara sangat banyak ragam bentuknya, itu merupakan kelanjutan dari bentuk-bentuk ornamen sebelumnya. Seperti halnya seniman ukir akan membuat bentuk ornemen baru maka akan memunculkan kembali bentuk ornemen yang lama seperti unsur daun atau bentuk relungnya. Semuanya memperlihatkan ketrampilan dalam mengukir baik dalam bentuk kasar maupun halus. Keistemewaan dari ornamen yang terdapat di Jepara menunjukkan suatu bukti bahwa keberadaannya merupakan peninggalan sejarah dari penguasa-penguasa pada masa tertentu di wilayah Jepara atau paling tidak yang pernah mengembangkan bentuk kerajinan ukir tersebut di wilayah Jepara. Dapat dilihat dari masa penguasa di Jepara yaitu; Ratu Kalinyamat, R.A. Kartini, hingga saat ini bentuk selalu mengalami perubahan, yang jelas tidak bisa lepas dari peran masyarakatnya. Ornamen yang selalu dikembangkan oleh masyarakat setempat yang sampai sekarang masih dapat dijumpai di berbagai bentuk mebel ukir. Tampaknya peranan ornamen bagi masyarakat Jepara sangat memberikan kontribusi yang sangat berarti dibidang kerajinan sebagai karya seni yang mampu menopang kehidupan sehari-hari, usaha-usaha pelestarian atau pengembangan terus dilakukan.
Jika melihat kebelakang, hasil karya seni yang berbentuk ornamen adalah warisan budaya yang mampu bertahan dan berevolusi selama berabad-abad sehingga mencapai bentuknya seperti yang kita kenal sekarang ini. Betapa indahnya bentuk ornamen yang dihasilkan oleh masyarakat Jepara, juga masyarakat nusantara pada umumnya hal itu membuktikan peranan ornamen tersebut. Ornamen dapat dikatakan memiliki sifat multi dalam menghias suatu benda atau bangunan. Mudahnya untuk menempatkan hiasan ornamen pada benda yang dihias. Meskipun bentuk yang sering kita ketahui atau lihat secara sekilas hanya berbentuk lekukan sederhana berbentuk lung-lungan, geometris, binatang, stilasi dari bentuk-bentuk yang lain. Kenyataan yang muncul bahwa ornamen dapat memberi kesan indah.
Ornamen yang diciptakan dianggap menjadi satu dari sekian dari hasil budaya dari masyarakat Jepara, keberadaanya tidak dapat dipisahkan dari hubungan realitas. Berbagai kenyataan historis menunjukkan adanya realitas yang dibentuk oleh dimensi ruang dan waktu. Ruang dan waktu ini telah digunakan seniman untuk membuat realitas. Realitas yang dimaksud adalah proses berkarya. Ketika kita ke kota Jepara, berkeliling melihat-lihat atau membeli produk mebel yang berukir. Kita akan terkagum-kagum dengan ornamen yang diterapkan pada sebuah produk mebel ukir karena didukung dengan penempatan yang tepat atau barang kali karena kehalusan garap dari ukiran tersebut. Tetapi kita tidak tahu kapan dan di mana kegiatan tersebut di buat serta siapa pembuatnya, juga tidak dapat di mengerti di mana peranan ornamen tersebut? Sebab kita seolah-olah terhipnotis kekaguman oleh kehadiran ornamen yang menghias mengisi ruang-ruang kosong pada benda tersebut. Sementara banyak juga ornamen yang diterapkan pada bangunan-bangunan seperti makam, masjid atau rumah-rumah
Bila kita datang ke Jepara melihat hasil karya mebel ukir dan ketika kita memfokuskan pada bagian hiasan dari sekian banyak ragam bentuk ornamen, maka ornamen tersebut diterapkan guna menambah nilai dan kualitas pada karya mebel. Tidak hanya di mebel ukir, tetapi juga dapat dilihat pada bangunan seperti masjid dan pendapa Kabupaten Jepara dan di ruang publik seperti taman kota, tugu di perempatan dan pertigaan jalan dan kawasan kabupaten Jepara, bahkan juga pada hiasan lampu hias kota kehadirannya dapat dianggap untuk memperindah kota Jepara. Ornamen ini tidak berdiri sendiri secara utuh, keberadaannya menempel pada berbagai karya seni atau bangunan. Secara tidak langsung menunjukkan ornamen Jepara sangat berperan. Ornamen yang dihasilkan oleh masyarakat Jepara mampu memberikan citra bagi wilayah Jepara hingga menjadi “idiom” kota Jepara.
Abdul Kadir (1979) sebutan Jepara sebagai kota ukir sudah menjadi idiom dan sering kita dengar bahkan sampai saat ini sudah mampu menembus pasar ekspor karena produk mebel ukirnya. Seperti halnya ungkapan ini, sesungguhnya, kata “Jepara” tak mungkin dipisahkan dari pengertian “kota Jepara” sebagai kota ukir. Sehingga perkataan ukiran Jepara seakan-akan sudah merupakan idiom. Kegiatan ukir-mengukir yang mampu bertahan berabad-abad lamanya di Jepara. Faktor itulah yang sering mengundang pada pendatang dari daerah bahkan Negara, untuk datang dan berkunjung ke Jepara untuk mendapatkan gambaran langsung tentamg kemampuan masyarakat Jepara dalam hal ukir-mengukir.
Hal yang menarik dari ornamen Jepara disamping memiliki bentuk yang khas, ada indikasi perwujudan kekuatan pengembangan terhadap mewujudkan karya seni yang menjadi kebanggaan masyarakat Jepara. Tetapi dalam proses pengembangannya bisa dianggap bahwa masyarakat Jepara tidak tahu hasil-hasil kreatif dari para artis/seniman ukir apakah bentuk yang dihasilkan termasuk kedalam bentuk yang mencirikan bentuk dari ornamen Jepara, itulah yang menarik kalau melihat dari sisi perkembangan bentuk ukir.
Banyak faktor yang mempengaruhi dalam proses pengembangan, bisa jadi pengaruh dari pengalaman artis/senimannya sendiri atau dari luar yang melalui pesanan-pesanan, atau dari desainer. Sehingga kecenderungannya segala macam ragam ornamen yang dihasilkan dengan cara-cara kreatif dianggap sebagai ornamen Jepara. Bila dirujuk dari segi struktur pembuatan atau pola yang terjadi.
Mike susanto (2003) ornamen terpengaruh dengan berbagai budaya yang terjadi pada etnis tertentu, namun akan terlihat memiliki kesamaan dalam pola dasarnya. Jika melihat hasil-hasil kerja kreatifnya, bentuk yang dihasilkan tetap mencerminkan lokal. Yang dimaksud adalah masih tetap membentuk karakter yang mencirikan visual dari bentuk-bentuk sebelumnya berdasarkan pengalaman masyarakat pendukungnya.
Ornamen Jepara pernah mengalami puncak kepopuleran, ketika ornamen diterapkan pada produk mebel ukir yang dihasilkan oleh para pengrajin. Bahkan hampir semua produk mebel ukir yang dihasilkan dipenuhi dengan hiasan ornamen. Ini merupakan sedikit peran ornamen untuk memenuhi keinginan masyarakat guna menunjang keindahan rumah dengan segala produk mebel ukir.
Semangat Jepara Dalam Mengukir
Dapat digambarkan ornamen Jepara berperan besar dalam memajukan kota Jepara dalam proses adaptasi terhadap perubahan zaman yang terus berkembang. Pengembangan ornamen dalam mencapai puncak kepopulerannya juga mengingatkan akan peran pemerintah yang sering menyerukan keindahan ornamen.
Ornamen Jepara mampu dilihat sebagai kontruksi sosial keruangan dalam hubungannya dengan identitas kultural dan tradisi. Martin Suhartono (2000) keinginan ini didasari oleh anggapan bahwa ruang dan waktu bukan hanya lingkungan (environtment) atau tempat berlangsungnya praktik sosial (kultural) dan sebagai salah satu faktor tidak tetap (variabel), akan tetapi ruang dan waktu secara integral turut membentuk kegiatan, atau praktik sosial (kultural). Dalam hal ini manusia bukanlah hanya hidup dalam ruang dan waktu, namun juga bagaimanakah ruang dan waktu itu dihidupi olehnya.
Di Jepara kegiatan mengukir semacam ini sudah berjalan beradad-abad dilakukan oleh seniman ukir di rumah atau di tempat kerja mereka secara berkelompok atau individu. Dengan pakaian kerja seadanya, alat kerja pokok pahat dan ganden, namun yang terpenting bagi dirinya adalah keahlian tangan serta daya kreatif untuk mewujudkan sesuatu yang diinginkan. Suara pukulan ganden pada pahat yang seolah-olah membentuk irama lagu, dari proses inilah susunan motif mulai terbentuk yang akhirnya membentuk sebuah karya ukir yang pantas dihargai. Abdul Azis Said (2004) dorongan kreatif ini timbul dalam setiap peiode dan peradaban. Kebutuhan akan ornamen bersifat psikologis. Pada manusia terdapat perasaan yang dinamakan ’horror vacui’, yaitu perasaan yang tidak dapat membiarkan tempat atau bidang kosong.
Seniman sedang membuat ornamen, dengan tidak sengaja melihatnya, ada ungkapan atau tindakan memunculkan hasrat untuk mengisi kekosongan menggunakan alat pahat dan ganden dengan penuh perasaan dari pengalaman empirik dan kekuatan estetik sehingga menimbulkan hasil garis-garis yang memiliki kedalaman, serta lekukan berdimensi.
Mike Susanto (2003) ornamen setidaknya ternilai sebagai sebuah hasrat sang seniman untuk mengeksplorasi kenyataan dalam bentuk abstrak dan geometris, seperti lekukan sederhana berbentuk bujur sangkar, meander, atau abstraksi pohon-pohon yang melingkar atau binatang yang lebih rumit bentuknya yang banyak ditemui dalam karya seni atau produk lainnya.
Pengalaman empirik, kekuatan estetik, hasrat, sensitivitas dan kreativitas bagi seniman ukir merupakan pendorong munculnya bentuk ornamen pada benda sebagai objek garapnya, dengan sadar atau tidak sadar seniman sudah mampu memahami kehadiran ornamen yang diciptakannya sehingga mampu mencitrakan Jepara sebagai kota ukir. Seniman tidak hanya memahami peranan ornamen tersebut, tetapi ada usaha-usaha pengembangan, pelestarian dan penguatan untuk memberikan merek baik dari corak pola-polanya maupun dari kenyataan adanya ornamen itu sendiri atau ada usaha untuk mencitrakan dirinya melalui beberapa karya ukirnya. Kehadiran ornamen di Jepara pada ruang publik dan bangunan-bangunan memberikan identitas yang merupakan penguatan terhadap ornamen yang telah diwarisi dengan cara-cara penerapan pada bangunan atau barang-barang yang dihias berlainan.
Sebagai penutup dengan segala upaya para seniman ukir, pengusaha dan pemerintah kiranya dapat mempertahankan identitas Jepara sebagai kota ukir. Jepara tak henti-hentinya mengukir untuk memenuhi tuntutan perubahan zaman.selamat berjuang para seniman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar