Minggu, 21 Desember 2008

Pangeran Hadiri

Pangeran Hadiri adalah suami dari Ratu Kalinyamat. Asal-usulnya digambarkan memiliki beberapa versi yaitu: Muchammad Taufik dalam Hartojo dan Amen Budiman menuturkan bahwa Pangeran Hadiri berasal dari Aceh yang memiliki nama aslinya Raden Toyib. Pemberian nama baru Pangeran Hadiri didapatnya setelah menikah dengan dengan Ratu Kalinyamat yang artinya seorang Pangeran yang datang dari tempat lain.
Raden Toyib sebelumnya pernah menjadi Sultan Aceh. Digambarkan Raden Toyib pernah berselisih dengan kakaknya Raden Takyim dalam perebutan tahta, karena Ayahnya berkeras hati ingin mengangkat menjadi Sultan Aceh. Raden Toyib meninggalkan negerinya menuju Tiongkok, sampai di sana Raden Toyib diambil anak seorang patih Tionghoa. Nama Toyib bagi orang Tionghoa sangat sulit, kemudian tibul ucapan Toyat. Selama lima tahun lamanya Raden Toyib berada di negeri Tingkok. Pada suatu hari Raden Toyib melihat ayah angkatnya sedih sekali. Ayah angkatnya tersebut ternyata sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat pelik. Giwang mahkota kaisar Tingkok sedang mengalami kerusakan. Sang patih diperintahkan memperbaikinya. Jika dalam waktu 40 hari tidak bisa, maka ia akan dihukum mati. Hampir mendekati batas waktu yang dijanjikan, giwang mahkota kaisar Tiongkok itu ternyata masih dalam keadaan rusak. Tidak ada seorang tukang emaspun bisa memperbaikinya.
Raden Toyip sangat prihatin terhadap ayah angkatnya. Ia menyanggupi diri untuk memperbaiki giwang mahkota yang rusak. Cara yang tidak masuk akal, ia meminta bantuan bangsa jin menukarkan giwang yang rusak, kebetulan bangsa jin yang bertempat tinggal di tengah laut memiliki giwang yang sama. Waktu melihat giwang mahkota itu ayah angkat raden Toyib sangat takjub. Giwang mahkota itu segera dibawa ke istana. Kaisar Tingkok sangat terheran melihat giwang mahkotanya nampak seperti baru, tidak sedikitpun tanda-tanda pernah mengalami kerusakan. Kaisar Tingkok memaksa ayah Raden Toyib menunjukkan siapa orangnya yang memperbaiki giwang mahkotanya yang rusak. Ayah Raden Toyib dengan terus terang menyatakan bahwa orang yang dimaksud tidak lain adalah anak angkatnya sendiri. Raden Toyib segera diundang menghadap ke Istana. Kaisar Tiongkok sangat tertarik kepadanya, kemudian Raden Toyib ingin diambil ingin dijadikan anak angkatnya. Raden Toyib menolak karena ingin meneruskan perjalanan ke Jepara.
Sampai di Jepara raden Toyib menuju ke istana Ratu Kalinyamat. Kepada penjaga istana dengan terus terang menyampaikan maksudnya ingin menghadap Kanjeng Ratu Kalinyamat untuk mengabdi. Keinginan Raden Toyib dikabulkan kanjeng Ratu Kalinyamat dengan diberi pekerjaan sebagai tukang kebun. Kanjeng Ratu Kalinyamat berkenan hati memeriksa pekerjaannya, tiba-tiba hati kanjeng Ratu berdebar-debar dan menduga bahwa Raden toyib bukanlah orang biasa. Kanjeng Ratu segera menanyai asal-usulnya tetapi tidak mau mangaku. Akibatnya Raden Toyib dimasukkan ke dalam penjara. Entah mengapa, setelah beberapa waktu lamanya meringkuk da­lam penjara Raden Toyib akhirnya bersedia juga membuka rahasia hidupnya. Kepada Kanjeng Ratu, Raden Toyib dengan terus terang mengaku berasal dari Aceh. Bahkan pernah menjadi sultan di Aceh. Untuk kedua kalinya hati Kanjeng Ratu menjadi berde­bar-debar. la segera teringat pada ramalan mendiang ayahnya: Bahwa orang laki-laki yang akan menjadi jodohnya kelak bukan berasal dari kalangan masyarakat pribumi Jawa. Bahkan sebalik­nya, akan berasal dari negeri seberang.
Konon kabarnya pada waktu itu Raden Toyib seorang pe­muda yang tampan rupawan dan gagah perkasa. Sebagai seorang insan manusia biasa bisa dimaklumi jika hati Kanjeng Ratu pada waktu itu tidak keruan. la merasa bukan mustahil Raden Toyib memang merupakan calon suami bagi dirinya, seperti pernah di­ramalkan oleh mendiang ayahnya. Sekalipun demikian Kanjeng Ratu masih bisa menyabarkan gelora perasaannya. Untuk memastikan dugaannya, Raden Toyib ingin dicoba.
Kanjeng Ratu berusaha mencoba meruntuhkan imannya, akan tetapi tidak berhasil, hingga akhirnya Kanjeng Ratu merasa yakin benar-benar, Raden Toyib memang merupakan jodoh yang telah ditakdirkan Tuhan bagi dirinya. Keesokan harinya Kanjeng Ratu segera minta dinikah. Tidak dijelaskan bagaimana sikap Raden Toyib pada waktu itu. Yang pasti Raden Toyib tidak menolak. Setelah menikah Kanjeng Ratu rnenyerahkan tahta kerajaan Jepara kepadanya. Raden Toyib diberi nama baru : Pangeran Hadiri.1
J. Knebel menyajikan sebuah kete­rangan mengenai asal-usul Pangeran Hadiri, berasal dari penuturan orang-orang tua di daerah Pecangakan (Pencangaan) bahwa Pangeran Hadiri masih putera Raja Ceribon. Nama aslinya Raden Mukmin. Raden Mukmin sangat senang berkelana dengan maksud bisa mengetahui adat-istiadat negeri-negeri lain. Alkisah, waktu Raden Mukmin tiba di negeri Bintara (Demak), Raden Mukmin ingin mengabdi pada Kanjeng Sultan Demak. Permohonannya diterima. Selanjutnya Raden Mukmin diambil dijadikan menantu Kanjeng Sultan, bahkan lama-kelamaan di­angkat menjadi raja di Kalinyamat.2
Serat Kandaning Ringgit Purwa naskah KBG no. 7 menuturkan pada awal mulanya Pangeran Hadiri merupakan se­orang pedagang Tionghoa yang datang ke pulau Jawa membawa tiga buah kapal jung yang sarat dengan barang-barang dagangan dari negeri Tiongkok. Adapun nama aslinya disebut juragan Wintang. Dalam pelayaran ke pulau Jawa juragan Wintang terdampar kapal beserta isinya tenggelam. Akhirnya juragan Wintang sampai ke sua­tu tempat bernama Jung Mara (sekarang Jepara) Di tempat itu juragan Wintang bertapa mati raga. Selama bertapa juragan Win­tang bermimpi mendengar suara yang memberinya wangsit: Jika ingin mendapatkan kembali harta bendanya, hendaknya me­meluk agama Islam pada Sunan Kudus dan melakukan, semua perintahnya. Seteiah berjumpa dengan Sunan Kudus, juragan Wintang sege­ra memberikan takzim dan hormat. Sunan Kudus menanyakan maksud kedatangannya. Juragan Wintang menjawab sambil menyembah dengan menggunakan bahasa Tionghoa. Kebetulan sekali Sunan Kudus mempunyai seorang murid orang Tionghoa, Ki Rakim namanya yang kemudian bertindak sebagai juru bahasa. Begitu Sunan Kudus mengetahui maksud kedatangan juragan Wintang, Sunan Kudus mempersilakannya memeluk agama Islam dan menjadi muridnya. Selanjutnya juragan Wintang diberi nama Rakit dan mendapat perintah bertempat tinggal di pinggir sungai Kalinyamat. Lama-kelamaan tempat tinggalnya menjadi desa. Sunan Kudus memberinya nama Kalinyamat.3
Juragan Wintang mendapatkan bantuan modal dari umat Islam di Kudus untuk membuka usaha di bidang perkapalan. Pada masa pemerintahan sultan Demak yang pertama, kegiatan pembuatan kapal dilaksanakan sangat giat. Usaha yang dilakukan Wintang mengantarkannya menjadi orang berharta dan berpengaruh. Tidak mengherankan, jika Pangeran Hadiri menghadap ke Kanjeng Sultan Trenggana dari Demak, dan mendapat salah seorang putri Kanjeng Sultan Trenggana sebagai istri.
Asal-usul Pangeran Hadiri betapapun rumitnya, tidak ada sumber sejarah yang pasti mampu menjelaskan asal-usulnya. Mengenai Pangeran Hadiri hanya didapat melalui tutur cerita masyarakat setempat dan Serat Kandaning Ringgit Purwa. Informasi ini merupakan suatu gambaran yang menarik yang ditemukan tentang Pangeran Hadiri yang bukan hanya menceritakan seorang pedagang Tionghoa yang masuk Islam kemudian menjadi Pemimpin Jepara, tetapi juga bahwa dia adalah seorang yang memiliki ketrampilan dalam perkapalan dan ahli dalam bidang kontruksi bangunan. Meskipun dalam usaha perkapalan yang dilakukan Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat untuk menunjang kegiatan niaga dan membantu penyediaan sarana bagi ekspedisi militer dan armada perang Jepara.
Kehadiran Pangeran Hadiri sebagai pengusaha besar di bidang perkapalan, cukup berpengaruh pada jalannya pemerintahan, diantaranya membantu pengerahan kapal-kapal perang yang digerakkan istrinya, hal ini meningkatkatnya usaha dalam pertukangan dan adanya masjid Mantingan yang hingga saat ini dapat dilihat menunjukkan andil Pangeran Hadiri dalam pendirian Masjid.

Tidak ada komentar: