LAMBANG-LAMBANG KESUBURAN
Oleh:Agus Setiawan
Kebudayaan Indonesia banyak mengalami perubahan besar, perubahan tersebut mampu mengantarkan bangsa Indonesia memasuki jaman sejarah yang juga membawa perubahan terhadap susunan masyarakat yaitu timbulnya kedudukan raja dan bentuk pemerintahan kerajan, serta dalam alam pikiran dengan adanya bentuk keagamaan baru. Dengan sendirinya penghidupan dan adat kebiasaan ikut berubah. Pandangan hidup dan keagamaan yang nantinya menentukan corak sifatnya bagi penjelmaan-penjelmaan kebudayan yang dilahirkan oleh masyarakat pendukungnya.
Tampaknya simbol-simbol kesuburan yang terdapat di candi-candi yang diwujudkan dalam bentuk patung-patung menunjukkan adanya ajaran tertentu yang memiliki ciri khas. Ritual-ritual pedesaan yang ingin menjaga keserasian kosmis antara kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan, juga merupakan kesuburan, baik kesuburan tanah untuk meningkatkan hasil panen maupun kesuburan manusia agar dikaruniai keturunan yang banyak. Di Indonesia sekitar abad ke XV, di daerah Sukuh pernah hidup aliran kepercayaan Tantrayana. Satu paham bersifat tantris ini memiliki ciri khas yang ganjil dan aneh. Paham yang membebaskan bersenggama atau memuja pergaualan seks antara pria dan wanita. Kebebasan bersenggama adalah inti dari ajaran aneh ini. Relief alat vital di beberapa candi di Nusantara membuktikan, bahwa dulu Aliran Tantrayana sempat berpengaruh. Bukti adanya Aliran Tantrayana pernah menjadi paham masyarakat Sukuh dengan adanya peninggalan bersejarah Candi Sukuh. Pada dinding candi terdapat relief lingga-yoni. Suatu penggambaran alat kelamin pria dan wanita Tidak hanya di bagian itu saja, di bagian candi yang lain juga ada relief serupa.
Dalam hubungan senggama itu unsur jantan adalah "upaya" (alat mencapai kebenaran yang agung). Sedangkan unsur wanita merupakan "prajna" (kemahiran yang membebaskan). Maka timbul paham bahwa senggama (maithuna) adalah menjadi kebebasan. Maksudnya kebebasan untuk bersenggama antara pria dan wanita. Maka bentuk lingga-yoni yang di candi sukuh dapat diasumsikan sebagai lambang kesuburan.
Menurut teori "Cosmic Mariage" atau perkawinan alam dikemukakan, bahwa semua yang ada itu timbul dari hubungan kelamin. Bahkan seluruh dunia diciptakan oleh persetubuhan dewa pencipta dengan saksinya. Jadi tanpa bersenggama tidak akan mungkin lahir dunia ini di bumi.
Di India Selatan dan Tengah pemujaan terhadap lingga sangat populer keberadaannya. Malah ada satu sekte khusus di sana yang memuja lingga. Mereka menamakan dirinya sekte Linggayat. Ciri-ciri khusus dari para penganut sekte ini adalah mereka memakai kalung dengan hiasan beberapa buah lingga. Sama seperti halnya dengan orang-orang Nasrani yang memakai kalung dengan tanda salibnya. Lingga menurut paham Hindu disebut sebagai lambang kesuburan yang diperlihatkan oleh peradaban manusia di lembah Indus. Kepercayaan ini sempat dilarang oleh bangsa Indo Arya, tetapi tidak lama timbul kembali dan mulai dihubungkan dengan Dewa Shiwa. Lingga kemudian dapat juga berarti sebagai perwujudan Dewa Siwa dalam bentuk sebuah phallus. Lombard menjelaskan bahwa setiap perwujudan-perwujudan semacam itu telah rusak, itu akan seperti tampak bahwa tekanan lama dari potensi, kesuburan, dan kekuatan vital mendapat ungkapan penuh dalam simbolisme dari lingga dari shiwa.
Lingga adalah sebuah arca atau patung, yang merupakan sebuah objek pemujaan atau sembahyang agama Hindu. Kata lingga ini biasanya singkatan daripada Siwalingga dan merupakan sebuah objek tegak, tinggi yang melambangkan zakar atau kemaluan Dewa Shiwa. Objek ini merupakan lambang kesuburan. Pasangan lingga adalah yoni yang merupakan simbol dari alat kelamin wanita. Pengertian lain kata lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ”tanda padanan phallus atau kelamin laki-laki”. Di dalam buku Iconographic dictionary of the India religion Hinduism - Buddhism - Jainism diuraikan bahwa lingga (linggam) antara lain berarti simbol atau lambang jenis kelamin laki-laki.
Biasanya lingga di tempatkan di atas sebuah vulva (yoni). Yoni di sini berarti simbol alat kelamin wanita, sebagai simbol dari unsur wanita. Yoni dalam bentuk cincin batu banyak ditemukan pada peradaban di lembah Indus. Yoni juga dipuja oleh sebuah sekte yang bernama sekte Sakta. Yoni dianggap sebagai unsur sakti dan seringkali disatukan di dalam susunan lingga. Lingga tidak saja banyak ditemukan di India. Tetapi banyak juga terdapat di daerah Khmer (Myanmar, Kamboja, Vietnam). Raja di sana pada waktu itu yang bernama Mahendrawarman sempat meninggalkan beberapa prasasti yang isinya untuk memperingati pendirian beberapa lingga dengan beberapa sebutan (di antaranya adalah Sambhu, Triyambhaka dan Tibhuwanecwara). Dalam berbagai prasasti tersebut ada beberapa petunjuk, bahwa mendirikan lingga erat kaitannya dengan telah ditaklukkannya suatu daerah tertentu.
Berdasarkan uraian di atas bahwa lambang-lambang kesuburan yang sering diwujudkan dengan bentuk lingga-yoni yang merupakan penggambaran dari dewa adalah representasi dari kondisi alam sekitar yang subur dengan kepercayaan animisme (local genius) serta kekuatan-kekuatan elemental berupa tidakan seksual yang difahami sebagai kekuatan yang menuju penyatuan.
Bentuk-Benuk Lambang Kesuburan
Bentuk lambang kesuburan dapat di lihat dalam serambi Candi Mendut (orientasi keagamaan Buddhis), yang terletak di dekat candi Borobudur dan dibangun pada masa yang sama (kira-kira 800 M), tampak dua relief indah, yang menggambarkan Hariti dan yaksa Atavaka, dua raksasa yang diajak budha untuk memeluk agamanya dan dijadikan pelindung kesuburan.
Bentuk lambang kesuburan pada candi Mendut digambarkan raksasa perempuan Hariti duduk di bawah pohon magga dan dikerumuni anak kecil, di Candi Mendut (ababd ke 9). Hariti mengutamakan kesuburan, pada relief ditampilkan dengan seorang bayi di atas pangkuannya dan beberapa bayi lain di sekitarnya (satu di antaranya di atas pohon). Bentuk relief ini di percaya melambangkan kesuburan.
Di Candi Prambanan bentuk lambang kesuburan juga diwujudkan dengan bentuk lingga-yoni. Bentuk lingga merupakan perwujudan dari dewa Shiwa. Bentuk lingga ini seperti yang terdapat pada candi Sambisari. Sedangkan yoni merupakan perwujudan dari dewi Durga. Bentuk lingga-yoni yang dianggap lambang kesuburan diwujudkan secara simbolis yaitu bentuk lingga berbentuk silinder berdiri tegak yang berada di atas yoni. Sedangkan bentuk yoni diwujudkan dengan bentuk segi empat dan lingkaran disertai tonjolan yang diberi lubang atau garis keluar. Bentuk ini merupakan representasi dari bentuk alat kelamin perempuan.
Simbol dari dewa tertinggi Shiwa yaitu lingga, memberi bentuk phallus yang khas pada batu-batu tegak dari masa prasejarah yang sakral. Pasangan wanita dari lingga yaitu yoni, adalah versi yang lebih indah dari batu-batu horisontal wanita dari tahta leluhur Indonesia; yoni berfungsi sebagai alas bagi lingga itu sendiri, juga bagi patung-patung peringatan raja. Disamping lingga-yoni istrinya Vishnu yaitu Shri menggantikan roh pribumi dari padi; ia menjadi dewi dari tanaman padi tanaman padi serta kesuburan pada umumnya.
Di Indonesia, lingga tertua yang pernah diketahui berasal dari prasasti Canggal, yang berasal dari halaman percandian di atas gunung Wukir di Kecamatan Sleman. Dari prasasti yang ditulis tahun 732 M tersebut diketahui bahwa Raja Sanjaya yang beragama Shiwa telah mendirikan sebuah lingga di atas bukit, dan dimungkinkan bangunan lingga tersebut ialah candi yang hingga masih ada sisa-sisanya di atas gunung Wukir.
Di Bali sendiri, keberadaan lingga-yoni sangat banyak ditemukan. Ini memberikan petunjuk bahwa pada masa lampau di Bali pernah ada sebuah sekte bernama Pasupati sebagai salah satu aliran dalam agama Hindu. Lingga-yoni yang ditemukan di Pura Puseh Babahan, Bali ada tiga jenis bentuknya. Yaitu dua lingga dalam satu lapik yang kadang disebut lingga yang mandiri dan sebuah lingga-yoni. Lingga-yoni juga dipercaya sebagai sumber dari kesuburan.
Penganut kepercayaan tersebut kadang menyiramkan air pada lingga dan kemudian air yang mengalir melalui yoni ditampung dan selanjutnya disiramkan pada tanaman padi atau tanaman lainnya. Di samping hal tersebut, penemuan lingga-yoni tersebut menunjukkan bahwa di desa Babahan, Penebel merupakan sebuah desa kuno. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa situs kuno tersebut merupakan peninggalan arkeologis dari masa prasejarah (masa perundagian) dan masih berlanjut hingga masa klasik dan bahkan masih berlangsung hingga sekarang, dan saat ini masih dikeramatkan keberadaannya.
Kemudian bentuk lingga-yoni juga dianggap sebagai lambang kesuburan terdapat pada Candi Sambisari. Candi Sambisari diperkirakan dibangun antara tahun 812 - 838 M, kemungkinan pada masa pemerintahan Rakai Garung. Kompleks candi terdiri dari 1 buah candi induk dan 3 buah candi pendamping. Terdapat 2 pagar yang mengelilingi kompleks candi, satu pagar telah dipugar sempurna, sementara satu pagar lainnya hanya ditampakkan sedikit di sebelah timur candi. Masih sebagai pembatas, terdapat 8 buah lingga patok yang tersebar di setiap arah mata angin.
Memasuki bilik utama candi induk, bisa dilihat lingga dan yoni berukuran cukup besar, kira-kira 1,5 meter. Keberadaannya menunjukkan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Shiwa. Lingga-yoni di bilik candi induk ini juga dipakai untuk membuat air suci. Biasanya, air diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir melewati parit kecil pada yoni, kemudian ditampung dalam sebuah wadah.
Bentuk lambang kesuburan yang lain yaitu di candi Sukuh. Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu yakni di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta didominasi oleh relief ini. Terutama pada dasar gapura wujud lingga-yoni tampak besar dan jelas. Menyaksikan relief itu terbayang pada kita penggambaran ke hal senggama.
Dilantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas memang nampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidak mungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Shiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.
relief tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kira dan kanan yang berhadapan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa relief ini melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Selain rahim wanita yang digambarkan juga tampak digambarkan alat kelamin laki-laki yang digambarkan dengan bentuk sosok manusia. Namun hal ini belum begitu jelas.
Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala dan tangan kiri terlihat memegang kemaluanya. Patung ini oleh beberapa kalangan masih dikeramatkan sebab seringkali diberi sesajian. Bentuk patung dibawah ini sebenarnya bentuk lingga dan yoni.
Karakter yang nampak adalah halus dan detail, karakter teknis Majapahit, kasar, global (tidak detail), pasif, kaku mewakili karakter teknis prasejarah.
Perlambangan mengacu pada nilai-nilai makna dan lambang local jenius, lambang asli Indonesia, meskipun dalam ujud luarnya adalah tanda-tanda lambang dengan dasar dari mitologi Hindu (Ciwatantra). Dengan kata lain agama Hindu Ciwatantra menyesuaikan nafas perlambangan agama asli, nampaknya Ciwatantra mampu menampung konsep-konsep dari perlambangan religi asli. Perlambangan tertuju pada orientasi kosmologi asli agraris, yang mengacu pada perlambangan “kesuburan”, “keselamatan”. Akhirnya dapat diketahui fungsi Candi Sukuh adalah tempat pemujaan roh atau dewa, upacara “kesuburan”, upacara lepasi (keselematan kosmos), dan upacara inisiasi.
Selain dibeberapa tempat lainnya, Candi Ceto yang terletak di lereng Gunung Lawu sebelah barat masuk di kabupaten Karanganyar juga terdapat perwujudan lambang kesuburan yang diwujudkan dengan bentuk phallus yang besar, berada di lantai dasar Pada trap ketiga. Sebuah soubment memanjang di atas tanah yang menggambarkan nafsu badaniah manusia (nafsu hewani) berbentuk phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang lebih dari 2 m, dengan diapit dua buah lambang kerajaan Majapahit menunjukkan masa pembuatan candi. Banyak anggapan bahwa candi Ceto merupakan candi laki-laki karena bentuk phallus yang ditonjolkan lebih dominan sedangkan candi Sukuh merupakan candi wanita sebab perwujudan bentuk alat kelamin wanita lebih nampak.
Diungkapkan Claire Holt, simbol-simbol kesuburan tampak jelas. Di atas lantai batu dari pintu masuk candi Sukuh, sebuah phalus besar yang berhadapan dengan pasangan wanitanya, dipahatkan dengan relief. Di Ceta sebuah phallus terletak sama, yang menunjuk ke arah batu segitiga yang horisontal. Di atas phallus terdapat seekor kadal. Tiga ekor katak dikelilingi oleh kepiting-kepiting dan seekor belut ada di atas batu segitiga, dengan kadal-kadal lagi disudut-sudutnya.
Dengan demikian lambang-lambang kesuburan yang diwujudkan pada candi-candi terutama pada candi Hindhu diantaranya candi Prambanan, Sukuh, Ceta, Sambisari dan diantaranya candi Budha yaitu mendut merupakan hasil representasi bahwa lambang kesuburan menjadi suatu ajaran, perwujudan dewa, untuk kelangsungan hidup, serta memaknai kesuburan alam sekitar dalam artian menjaga keselarasan, penyatuan dengan alam agar ada hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Dilihat dari bentuk visualnya, bentuk lambang kesuburan yang berbentuk lingga-yoni di candi Sukuh dan Ceta lebih dominan diwujudkan secara natural, sedangkan di Prambanan dan Sambisari tampak sebagai penggambaran (abstrak). Di candi Sambisari bentuk lambang kesuburan dipahatkan dalam bentuk panel (relief).
Daftar pustaka
Sumber Buku
Denys Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu, Bagian III: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Claire Holt. Melacak Jejak Perkembangan Seni Di Indonesia, Bandung, Arti.line, 2000.
R. Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayan Indonesia II, Yogyakarta, Kanisius, 1973.
Sumber Internet
R.Hendrawan. ”Aliran Kepercayaan Tantrayana Ajarkan Paham Kebebasan Senggama” dalam http://www.yogyes.com, 24 Oktober 2007.
Sulung. “Lingga Yoni di Pura Puseh Babahan, Bali” dalam www.Sinar Harapan.com, 24 Oktober 2007
Silhouette “Artikel: Budaya-Candi Sukuh” dalam jawaplace.org; id.wikipedia.org, 24 Oktober 2007
Candi Sukuh dalam www.kabaresolo.com, 24 Oktober 2007
Lingga yoni dalam http://www.yogyes.com, penelusuran lewat www.gogle.com. 24 oktober 2007
Lingga dalam http://ms.wikipedia.org/wiki/Lingga,_Hindu", 24 Oktober 2007
Lingga yoni dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Lingga_(arca), 24 Oktober 2007
Hendri Cholis. Ulas Rupa dan Lambang Pada Kumpulan Candi Sukuh.”
“Pendekatan Sosial Budaya Perkembangan Seni Rupa Indonesia-Hindu”Tesis, Institut Teknologi Bandung, penelusuran lewat www.gogle.com 24 Oktober 2007.
Selasa, 13 Januari 2009
Sejarah Kota
Resume
SEJARAH KOTA
(Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah. Hlm. 59-72)
oleh:Agus Setiawan
Sejak abab ke-20 pengambilalihan kegiatan-kegiatan dari desa sudah terjadi di kota-kota Indonesia, adanya pergeseran dari desa ke kota yang bersamaan dengan perubahan sosial dalam masyarakat. Contoh dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, pusat perlawanan tidak lagi terjadi di desa dengan pemimpin desa tidak lagi sebagai penggerak, tetapi kota-kota dengan kaum terpelajar dan kelas menengah. Pergerakan sosial yang berkembang di kota-kota berbeda dari perkembagan sebelumnya. Sementara dalam pergeseran budaya menunjukkkan budaya kota menggantikan budaya desa, setelah kota-kota terpengaruh unsur-unsur budaya modern. Kelas menengah kota keluar dari kerangka masyarakat tradisional dan budaya pedesaan dan membentuk kelompok sosial sendiri. Sehingga kota pada awal abad ke-20 dapat dikategorikan dalam sejarah Indonesia. Kota disebut sebagai sebuah kesatuan, secara sah berdiri sendiri, dan layak untuk manjadi bidang kajian yang tersendiri pula.
Kota-kota yang berkembang tidak berarti hilangnya rural-urban continuum atau folk-urban continuum, sekaligus terjadi rural-urban contrast secara menyeluruh. Proses urbanisasi terjadi tidak secara mendadak dan menyeluruh dalam sejarah Indonesia. Banyak ciri-ciri pedesaan masih tampak dalam masyarakat kota. Bahkan batas geografisnya sulit di ditegaskan, hanya dalam ketentuan administratif batas kota dan desa menjadi jelas.
Abad ke-19 wilayah yang dianggap kota negara di bawah pengawasan langsung oleh pejabat tinggi administratif, seperti patih. Batas administratif dalam kajian kota menjadi dasar strategi penelitian jika menyangkut masalah kependudukan. Dalam penelitian sejarah, batas wilayah kota tentu saja mengikuti perkembangan kota itu sendiri, ”tidak terikat oleh ketentuan-ketentuan administratif”. Sering terjadi pemukiman-pemukiman penduduk yang secara sosiologi disebut urban, tetapi terletak jauh dari kota induk sehingga menjadi ”kota satelit”. Gejala kota satelit ada sejak awal abad ke-20, yaitu jika terjadi pengelompokan kelas menengah dalam locus tertentu di luar batas administratif kota. Contoh, Kota Gede yang terletak di luar kota Yogyakarta mulai tumbuh sebagai ”kota satelit” tempat golongan kelas menengah. Kota induk maupun kota satelit secara gradual memisahkan diri dari lingkungan pedesaan sekitar dan menjadi lingkungan ekologi baru.
Pemisahan secara ”ekologis” antara desa dan kota tidak terjadi dalam pola pemukiman kota praindustrial. Tata kota tidak lahir karena suatu sosio-kultural bukan maksimisasi teknologi atau ekonomi. Pembentukan kota selalu dengan pertimbangan-pertimbangan ”sosio-kultural”. Sebagai contoh, pusat kota tradisional adalah kraton , di sekitarnya dibangun rumah-rumah para sentana dan abdi dalem, tempat ibadah, dan pasar. Kraton juga merupakan benteng dengan tembok melingkar, lengkap dengan lapangan dan tempat ibadah, bahkan kota administratif Yogyakarta dan Surakarta menunjukkan pola yang sama di masa lampau, juga nama-nama kampung sering disesuaikan dengan abdi dalem yang tinggal di kampung itu.
Kota praindustri menegaskan sifat kekotaan kota-kota praindustrial. Contoh di Banten orang asing mendapatkan tempat sendiri. Di kota-kota Indonesia Timur, perkampungan orang Jawa menjadi bagian dari peta kota sampai sekarang. Di Jakarta, perkampungan etnis Cina seperti Manggarai yang sejarahnya dapat diketahui melalui kegiatan-kegiatan Belanda sejak VOC. Kota-kota pantai lebih cepat menunjukkan sifat kotanya.
Kota pedalaman, adanya perkampungan Arab dan Cina masih merupakan enclave dalam lingkungan kota tradisional, di kota-kota pantai pemukiman orang asing menjadi inetgral dari kota itu sendiri. Maka sejarah kota di Indonesia tidak dimulai dalam waktu yang sama. “Abad ke-20, kota sebagai sebuah kategori sejarah Indonesia semata-mata didasarkan lebih pada sudut pandang sosio-kultural dari pada ekologis”.
Munculnya kota ditandai dengan munculnya kelas baru, lepas dari kearangka masyarakat tradisional. Kelas baru muncul dari sektor industri dan memiliki ciri berbeda dari kelas sosial lain sebab ada ketergantungan dari modal para investor. Sementara di sektor pendidikan muncul golongan berpendidikan sebagai kelas baru, dalam birokrasi dan karena itu menjadi priyayi yang menunjukkan semangat baru sebagai sebuah kelas yang mencari tempat dalam masyarakat. Pertemuan antara kelas menengah lama pribumi, golongan terpelajar, dan golongan pekerja di kota-kota menjadi tumpuan bagi timbulnya gerakan nasional dan hal ini merupakan hasil dari budaya kota.
Awal abad ke-20 sebuah kota di Indonesia memiliki ciri tersendiri yang menunjukan sejarah kota yaitu: (1) sektor kota tradisional ditandai adanya pembagian spatial secara jelas berdasar pada status sosial dan letak pemukiman yang dekat dengan Kraton; (2) sektor pedagang asing terutama pedagang Cina, mewarnai kehidupan kota dengan gaya bangunan, kegiatan ekonomi, dan kehidupan sosial budaya tersendiri; (3) sektor kolonial dengan benteng dan barak, perkantoran, rumah-rumah, gedung societeit, rumah ibadah vrijmetselarij; (4) sektor kelas menengah pribumi kadang-kadang mengelompok dalam kampung-kampung tertentu, seperti Kauman di Yogyakarta dan Surakarta atau dibagian lain; (5) sektor imigran yang menampung pendatang-pendatang baru di kota dan berasal dari pedesaan di sekitar.
Sejarah kota dapat dimasukkan ke dalam sejarah lokal, atau dari segi lain seperti sejarah ekonomi, politik dan demografi dan sebagainya. Termasuk didalamnya yang mengenai kota, orang kota, kejadian di kota dapat menjadi bagian dari sejarah kota. Bidang kajian sejarah kota karena sangat luasnya maka perlu adanya pembatasan garapan seperti yang di lakukan Eric Lambar dalam penulisan sejarah di Amerika mendefinisikan sejarah kota dengan sejarah dari “urbanisasi sebagai proses kemasyarakatan”, bukan sejarah dari “kota”. Hasil dari sejarah kota dinamakan the new urban history. Pembatasan ini dimaksudkan untuk mengembalikan sejarah kota kepada gejala kekotaan yang khas. Kekotaan menjadi pusat perhatian sejarah. “Kekhasan kota hendaknya menjadi permasalahan pokok”.
Beberapa bidang garapan dalam sejarah kota meliputi:
1. Perkembagan ekologi kota.
Ekologi adalah interaksi antara manusia dan alam sekitarnya, perubahan ekologi terjadi jika salah satu dari komponen itu mengalami perubahan. Penggunaan tanah kota untuk pemukiman penduduk, perdagangan dan industri, keperluan rekreasi, perkantoran, semuanya mengubah keadaan alamiah lahan. Perubahan ekologi manusia terjadi sesuai dengan perkembangan penduduk, secara etnis, status, kelas, kultural, sehingga pola pemukiman mengalami pemisahan. Pemisahan secara etnis masih dapat dilihat sebagai akibat politik pemukiman di masa lampau. Secara kelas dan kultural dilihat pada kota-kota tradisional, konon ada pembagian dua pemukiman Hindhu dan Budha di zaman Majapahit. Kota modern pola pembagian pemukiman berdasarkan kelas sosial. Lingkungan elite kota menunjukkan diri sebagai simbol dari dominasi elite atas orang kebanyakan yang tinggal di tempat-tempat yang tidak menguntungkan. Perubahan ekologi juga disebabkan kemajuan teknologi dengan adanya pendirian industri-industri, juga kesibukan lalu lintas. Ekologi berubah dengan adanya perubahan dalam organisasi masyarakat. Misalnya pertumbuhan industri kecil di rumah ke sistem produksi industri besar di pabrik. Contoh perkembangan ekologi kota di amerika adalah buka Sam Bass Warner, Jr., Streetcar Suburbs: The Process of Growth in Boston tentang pengaruh dari perkembangan teknologi transportasi kepada penyebaran pemukiman.
2. Transformasi sosial ekonomis.
Industrialisasi dan urbanisasi adalah bagian dari perubahan sosial. Dinamika sosial kota berbeda dengan kota praindustrial. Seperti ungkapan dalam bahasa Jawa, Desa mawa cara, negara mawa tata yang artinya masyarakat kota praindustrial atau tradisional sebagai pusat kerajaan mempunyai aturan-aturan tersendiri berbeda dengan masyarakat desa. Konsep dari negara adalah kraton dan lingkungan kota-negara yang secara sosial, ekonomis, dan kultural memisahkan diri dengan desa. Dalam kota tradisional terdapat simbol-simbol dari kekuasan raja, diwujudkan dalam bangunan fisik, upacara-upacara, dan hak istimewa seperti sengkeran, klangenan, pesanggrahan. Kraton juga merupakan perwujudan dari birokrasi tradisioanal yang mengatur kekuasaan ekonomi dan sosial.
Berbeda dengan kota tradisional-praindustrial, kota-kota modern-industrial adalah pengelompokan keluarga ke dalam nuclear family, pembagian penduduk berdasarkan kelas sosial dengan mobilitas sosial yang kurang lebih lentur, ditinggalkannya cara berproduksi manusia oleh mesin yang memproduksi barang-barang secara massal dengan pelayanan dan kualitas baik. Organisasi produksi dipegang oleh unit-unit ekonomi yang cenderung besar dengan standarisasi dalam harga, timbangan, takaran, dan adanya birokrasi yang diangkat secara rasional. Contoh tulisan yang didalamnya mengenai transformasi masyarakat kota yaitu tulisan Clifford Geertz yang telah mempelajari sejarah sosial-ekonomi kota dalam dua bukunya, Peddlers and Princes dan The Sosial History of an Indonesian Town.
3. Sistem sosial.
Kota sebagai sistem sosial menunjukkan kegiatan masyarakat kota seperti kegiatan domestik, agama, rekreasi, ekonomis, politis, kultural, dan hubungan antar warga secara struktural antara lembaga-lembaga masyarakat, hubungan kategorikal antara kelompok-kelompok etnis, status dan kelas, bahkan hubungan personal antara sesama warga kota. Gambaran mengenai kota lebih lengkap mengingat banyaknya tulisan-tulisan di surat kabar, majalah, dan buku-buku sastra meskipun dalam penggalian melalui bahan dokumenter tidak mencukupi, kemungkinan perlu mengadakan penggalian sumber melalui sejarah lisan. Laporan-laporan pejabat Belanda kita dapat mengetahui kehidupan kraton dan kota tradisional, hubungan bangsawan, Bupati dan pejabat dengan Belanda, novel-novel sastra Belanda-Indonesia, dan hubungan Belanda dengan para priyayi pribumi. Kota-kota karisidenan di zaman sebelum perang menandai sebagai kota kolonial. Sejarah yang demikian memiliki nilai estetis dan akademis. Buku Kenneth A. Locridge berjudul A New England town: the first Hundred Years, mengungkapkan perkembangan kota sebagai sebuah lembaga demokrasi di Amerika Serikat dan menunjukan bagaimana sebuah kota berevolusi dari sebuah kota utopia dari kaum purittan menjadi kota provinsial, termasuk di dalamnya perkembagan birokrasi dan hubungan antara sesama anggota masyarakat.
4. Problem sosial.
Perkembangan ekologi, termasuk di dalamnya kepadatan penduduk, mobilitas horisontal, dan heterogenitas dapat timbulnya masalah sosial diantaranya yaitu disparitas dan pemisahan pemukiman secara ekonomis dan sosial, ketimpangan demografis, lingkungan fisik, sosial, dan psikologis. Misalnya kampung Kauman di mana saja, dapat diketahui kepadatan penduduk dengan lingkungannya pasti menimbulkan suasana psikologis tertentu. Membandingkan perkembangan lingkungan fisik dan lingkungan sosial-manusiawi menunjukan ada perbedaan psikologis antara generasi tua dan muda di kampung yang sama. Masalah sosial timbul di lingkungan kota karena adanya kampung-kampung dengan standar lingkungan yang rendah. Selain masalah kemasyarakatan tentu masih ada lagi masalah ekologis, misalnya: pembuangan air, sampah, kepadatan lalu lintas yang semuanya dapat menjadi kajian sejarah.
Sejalan dengan transformasi sosial-ekonomis, terdapat masalah sosial yang sangat menarik yaitu adanya pergeseran antara kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Misalnya golongan bangsawan mengalami kemunduran karena menurunnya pendapatan secara natural maupun karena reformasi administrasi sehingga proses pemiskinan bangsawan tak terhindarkan. Di Madura kasus kejahatan sosial terdapat dalam laporan-laporan pemerintah kolonial pada awal abad ke-20 ketika golongan bangsawan tidak lagi memegang pemerintahan. Adanya kerusuhan akibat ketegangan antara golongan pribumi dengan orang asing, antara orang asli dengan pendatang.
5. Mobilitas sosial
Kemajuan golongan kelas menengah dapat diketahui dengan adanya catatan-catatan pendapatan, catatan lalu lintas uang pada Bank, mengenai pekerjaan warga kota, hasil-hasil sensus penduduk yang tentu saja semuanya merupakan data kuantitatif maka banyak yang dapat diungkapkan. Misalnya di Kota Gede, Yogyakarta banyak bangunan-bangunan yang didirikan pada awal abad ini menunjukkan naiknya kaum pedagang pribumi. Indikator dari mobilitas sosial kadang-kadang dapat dilihat dalam jumlah haji yang ada di suatu tempat. Dalam pernyataan budaya, golongan kelas menengah terpelajar atau menengah santri memiliki pernyataan budaya sendiri, sehingga mobilitas sosial dapat diketahui melalui daftar pelanggan majalah, surat kabar atau dengan kuisioner yang tentu saja menyangkut metode penelitian sosiologis yang cukup rumit. Ditegaskan kembali bahwa ”sejarah kota sungguh merupakan garis depan dari penulisan sejarah nasional kita”.
SEJARAH KOTA
(Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah. Hlm. 59-72)
oleh:Agus Setiawan
Sejak abab ke-20 pengambilalihan kegiatan-kegiatan dari desa sudah terjadi di kota-kota Indonesia, adanya pergeseran dari desa ke kota yang bersamaan dengan perubahan sosial dalam masyarakat. Contoh dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, pusat perlawanan tidak lagi terjadi di desa dengan pemimpin desa tidak lagi sebagai penggerak, tetapi kota-kota dengan kaum terpelajar dan kelas menengah. Pergerakan sosial yang berkembang di kota-kota berbeda dari perkembagan sebelumnya. Sementara dalam pergeseran budaya menunjukkkan budaya kota menggantikan budaya desa, setelah kota-kota terpengaruh unsur-unsur budaya modern. Kelas menengah kota keluar dari kerangka masyarakat tradisional dan budaya pedesaan dan membentuk kelompok sosial sendiri. Sehingga kota pada awal abad ke-20 dapat dikategorikan dalam sejarah Indonesia. Kota disebut sebagai sebuah kesatuan, secara sah berdiri sendiri, dan layak untuk manjadi bidang kajian yang tersendiri pula.
Kota-kota yang berkembang tidak berarti hilangnya rural-urban continuum atau folk-urban continuum, sekaligus terjadi rural-urban contrast secara menyeluruh. Proses urbanisasi terjadi tidak secara mendadak dan menyeluruh dalam sejarah Indonesia. Banyak ciri-ciri pedesaan masih tampak dalam masyarakat kota. Bahkan batas geografisnya sulit di ditegaskan, hanya dalam ketentuan administratif batas kota dan desa menjadi jelas.
Abad ke-19 wilayah yang dianggap kota negara di bawah pengawasan langsung oleh pejabat tinggi administratif, seperti patih. Batas administratif dalam kajian kota menjadi dasar strategi penelitian jika menyangkut masalah kependudukan. Dalam penelitian sejarah, batas wilayah kota tentu saja mengikuti perkembangan kota itu sendiri, ”tidak terikat oleh ketentuan-ketentuan administratif”. Sering terjadi pemukiman-pemukiman penduduk yang secara sosiologi disebut urban, tetapi terletak jauh dari kota induk sehingga menjadi ”kota satelit”. Gejala kota satelit ada sejak awal abad ke-20, yaitu jika terjadi pengelompokan kelas menengah dalam locus tertentu di luar batas administratif kota. Contoh, Kota Gede yang terletak di luar kota Yogyakarta mulai tumbuh sebagai ”kota satelit” tempat golongan kelas menengah. Kota induk maupun kota satelit secara gradual memisahkan diri dari lingkungan pedesaan sekitar dan menjadi lingkungan ekologi baru.
Pemisahan secara ”ekologis” antara desa dan kota tidak terjadi dalam pola pemukiman kota praindustrial. Tata kota tidak lahir karena suatu sosio-kultural bukan maksimisasi teknologi atau ekonomi. Pembentukan kota selalu dengan pertimbangan-pertimbangan ”sosio-kultural”. Sebagai contoh, pusat kota tradisional adalah kraton , di sekitarnya dibangun rumah-rumah para sentana dan abdi dalem, tempat ibadah, dan pasar. Kraton juga merupakan benteng dengan tembok melingkar, lengkap dengan lapangan dan tempat ibadah, bahkan kota administratif Yogyakarta dan Surakarta menunjukkan pola yang sama di masa lampau, juga nama-nama kampung sering disesuaikan dengan abdi dalem yang tinggal di kampung itu.
Kota praindustri menegaskan sifat kekotaan kota-kota praindustrial. Contoh di Banten orang asing mendapatkan tempat sendiri. Di kota-kota Indonesia Timur, perkampungan orang Jawa menjadi bagian dari peta kota sampai sekarang. Di Jakarta, perkampungan etnis Cina seperti Manggarai yang sejarahnya dapat diketahui melalui kegiatan-kegiatan Belanda sejak VOC. Kota-kota pantai lebih cepat menunjukkan sifat kotanya.
Kota pedalaman, adanya perkampungan Arab dan Cina masih merupakan enclave dalam lingkungan kota tradisional, di kota-kota pantai pemukiman orang asing menjadi inetgral dari kota itu sendiri. Maka sejarah kota di Indonesia tidak dimulai dalam waktu yang sama. “Abad ke-20, kota sebagai sebuah kategori sejarah Indonesia semata-mata didasarkan lebih pada sudut pandang sosio-kultural dari pada ekologis”.
Munculnya kota ditandai dengan munculnya kelas baru, lepas dari kearangka masyarakat tradisional. Kelas baru muncul dari sektor industri dan memiliki ciri berbeda dari kelas sosial lain sebab ada ketergantungan dari modal para investor. Sementara di sektor pendidikan muncul golongan berpendidikan sebagai kelas baru, dalam birokrasi dan karena itu menjadi priyayi yang menunjukkan semangat baru sebagai sebuah kelas yang mencari tempat dalam masyarakat. Pertemuan antara kelas menengah lama pribumi, golongan terpelajar, dan golongan pekerja di kota-kota menjadi tumpuan bagi timbulnya gerakan nasional dan hal ini merupakan hasil dari budaya kota.
Awal abad ke-20 sebuah kota di Indonesia memiliki ciri tersendiri yang menunjukan sejarah kota yaitu: (1) sektor kota tradisional ditandai adanya pembagian spatial secara jelas berdasar pada status sosial dan letak pemukiman yang dekat dengan Kraton; (2) sektor pedagang asing terutama pedagang Cina, mewarnai kehidupan kota dengan gaya bangunan, kegiatan ekonomi, dan kehidupan sosial budaya tersendiri; (3) sektor kolonial dengan benteng dan barak, perkantoran, rumah-rumah, gedung societeit, rumah ibadah vrijmetselarij; (4) sektor kelas menengah pribumi kadang-kadang mengelompok dalam kampung-kampung tertentu, seperti Kauman di Yogyakarta dan Surakarta atau dibagian lain; (5) sektor imigran yang menampung pendatang-pendatang baru di kota dan berasal dari pedesaan di sekitar.
Sejarah kota dapat dimasukkan ke dalam sejarah lokal, atau dari segi lain seperti sejarah ekonomi, politik dan demografi dan sebagainya. Termasuk didalamnya yang mengenai kota, orang kota, kejadian di kota dapat menjadi bagian dari sejarah kota. Bidang kajian sejarah kota karena sangat luasnya maka perlu adanya pembatasan garapan seperti yang di lakukan Eric Lambar dalam penulisan sejarah di Amerika mendefinisikan sejarah kota dengan sejarah dari “urbanisasi sebagai proses kemasyarakatan”, bukan sejarah dari “kota”. Hasil dari sejarah kota dinamakan the new urban history. Pembatasan ini dimaksudkan untuk mengembalikan sejarah kota kepada gejala kekotaan yang khas. Kekotaan menjadi pusat perhatian sejarah. “Kekhasan kota hendaknya menjadi permasalahan pokok”.
Beberapa bidang garapan dalam sejarah kota meliputi:
1. Perkembagan ekologi kota.
Ekologi adalah interaksi antara manusia dan alam sekitarnya, perubahan ekologi terjadi jika salah satu dari komponen itu mengalami perubahan. Penggunaan tanah kota untuk pemukiman penduduk, perdagangan dan industri, keperluan rekreasi, perkantoran, semuanya mengubah keadaan alamiah lahan. Perubahan ekologi manusia terjadi sesuai dengan perkembangan penduduk, secara etnis, status, kelas, kultural, sehingga pola pemukiman mengalami pemisahan. Pemisahan secara etnis masih dapat dilihat sebagai akibat politik pemukiman di masa lampau. Secara kelas dan kultural dilihat pada kota-kota tradisional, konon ada pembagian dua pemukiman Hindhu dan Budha di zaman Majapahit. Kota modern pola pembagian pemukiman berdasarkan kelas sosial. Lingkungan elite kota menunjukkan diri sebagai simbol dari dominasi elite atas orang kebanyakan yang tinggal di tempat-tempat yang tidak menguntungkan. Perubahan ekologi juga disebabkan kemajuan teknologi dengan adanya pendirian industri-industri, juga kesibukan lalu lintas. Ekologi berubah dengan adanya perubahan dalam organisasi masyarakat. Misalnya pertumbuhan industri kecil di rumah ke sistem produksi industri besar di pabrik. Contoh perkembangan ekologi kota di amerika adalah buka Sam Bass Warner, Jr., Streetcar Suburbs: The Process of Growth in Boston tentang pengaruh dari perkembangan teknologi transportasi kepada penyebaran pemukiman.
2. Transformasi sosial ekonomis.
Industrialisasi dan urbanisasi adalah bagian dari perubahan sosial. Dinamika sosial kota berbeda dengan kota praindustrial. Seperti ungkapan dalam bahasa Jawa, Desa mawa cara, negara mawa tata yang artinya masyarakat kota praindustrial atau tradisional sebagai pusat kerajaan mempunyai aturan-aturan tersendiri berbeda dengan masyarakat desa. Konsep dari negara adalah kraton dan lingkungan kota-negara yang secara sosial, ekonomis, dan kultural memisahkan diri dengan desa. Dalam kota tradisional terdapat simbol-simbol dari kekuasan raja, diwujudkan dalam bangunan fisik, upacara-upacara, dan hak istimewa seperti sengkeran, klangenan, pesanggrahan. Kraton juga merupakan perwujudan dari birokrasi tradisioanal yang mengatur kekuasaan ekonomi dan sosial.
Berbeda dengan kota tradisional-praindustrial, kota-kota modern-industrial adalah pengelompokan keluarga ke dalam nuclear family, pembagian penduduk berdasarkan kelas sosial dengan mobilitas sosial yang kurang lebih lentur, ditinggalkannya cara berproduksi manusia oleh mesin yang memproduksi barang-barang secara massal dengan pelayanan dan kualitas baik. Organisasi produksi dipegang oleh unit-unit ekonomi yang cenderung besar dengan standarisasi dalam harga, timbangan, takaran, dan adanya birokrasi yang diangkat secara rasional. Contoh tulisan yang didalamnya mengenai transformasi masyarakat kota yaitu tulisan Clifford Geertz yang telah mempelajari sejarah sosial-ekonomi kota dalam dua bukunya, Peddlers and Princes dan The Sosial History of an Indonesian Town.
3. Sistem sosial.
Kota sebagai sistem sosial menunjukkan kegiatan masyarakat kota seperti kegiatan domestik, agama, rekreasi, ekonomis, politis, kultural, dan hubungan antar warga secara struktural antara lembaga-lembaga masyarakat, hubungan kategorikal antara kelompok-kelompok etnis, status dan kelas, bahkan hubungan personal antara sesama warga kota. Gambaran mengenai kota lebih lengkap mengingat banyaknya tulisan-tulisan di surat kabar, majalah, dan buku-buku sastra meskipun dalam penggalian melalui bahan dokumenter tidak mencukupi, kemungkinan perlu mengadakan penggalian sumber melalui sejarah lisan. Laporan-laporan pejabat Belanda kita dapat mengetahui kehidupan kraton dan kota tradisional, hubungan bangsawan, Bupati dan pejabat dengan Belanda, novel-novel sastra Belanda-Indonesia, dan hubungan Belanda dengan para priyayi pribumi. Kota-kota karisidenan di zaman sebelum perang menandai sebagai kota kolonial. Sejarah yang demikian memiliki nilai estetis dan akademis. Buku Kenneth A. Locridge berjudul A New England town: the first Hundred Years, mengungkapkan perkembangan kota sebagai sebuah lembaga demokrasi di Amerika Serikat dan menunjukan bagaimana sebuah kota berevolusi dari sebuah kota utopia dari kaum purittan menjadi kota provinsial, termasuk di dalamnya perkembagan birokrasi dan hubungan antara sesama anggota masyarakat.
4. Problem sosial.
Perkembangan ekologi, termasuk di dalamnya kepadatan penduduk, mobilitas horisontal, dan heterogenitas dapat timbulnya masalah sosial diantaranya yaitu disparitas dan pemisahan pemukiman secara ekonomis dan sosial, ketimpangan demografis, lingkungan fisik, sosial, dan psikologis. Misalnya kampung Kauman di mana saja, dapat diketahui kepadatan penduduk dengan lingkungannya pasti menimbulkan suasana psikologis tertentu. Membandingkan perkembangan lingkungan fisik dan lingkungan sosial-manusiawi menunjukan ada perbedaan psikologis antara generasi tua dan muda di kampung yang sama. Masalah sosial timbul di lingkungan kota karena adanya kampung-kampung dengan standar lingkungan yang rendah. Selain masalah kemasyarakatan tentu masih ada lagi masalah ekologis, misalnya: pembuangan air, sampah, kepadatan lalu lintas yang semuanya dapat menjadi kajian sejarah.
Sejalan dengan transformasi sosial-ekonomis, terdapat masalah sosial yang sangat menarik yaitu adanya pergeseran antara kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Misalnya golongan bangsawan mengalami kemunduran karena menurunnya pendapatan secara natural maupun karena reformasi administrasi sehingga proses pemiskinan bangsawan tak terhindarkan. Di Madura kasus kejahatan sosial terdapat dalam laporan-laporan pemerintah kolonial pada awal abad ke-20 ketika golongan bangsawan tidak lagi memegang pemerintahan. Adanya kerusuhan akibat ketegangan antara golongan pribumi dengan orang asing, antara orang asli dengan pendatang.
5. Mobilitas sosial
Kemajuan golongan kelas menengah dapat diketahui dengan adanya catatan-catatan pendapatan, catatan lalu lintas uang pada Bank, mengenai pekerjaan warga kota, hasil-hasil sensus penduduk yang tentu saja semuanya merupakan data kuantitatif maka banyak yang dapat diungkapkan. Misalnya di Kota Gede, Yogyakarta banyak bangunan-bangunan yang didirikan pada awal abad ini menunjukkan naiknya kaum pedagang pribumi. Indikator dari mobilitas sosial kadang-kadang dapat dilihat dalam jumlah haji yang ada di suatu tempat. Dalam pernyataan budaya, golongan kelas menengah terpelajar atau menengah santri memiliki pernyataan budaya sendiri, sehingga mobilitas sosial dapat diketahui melalui daftar pelanggan majalah, surat kabar atau dengan kuisioner yang tentu saja menyangkut metode penelitian sosiologis yang cukup rumit. Ditegaskan kembali bahwa ”sejarah kota sungguh merupakan garis depan dari penulisan sejarah nasional kita”.
Langganan:
Postingan (Atom)