LAMBANG-LAMBANG KESUBURAN
Oleh:Agus Setiawan
Kebudayaan Indonesia banyak mengalami perubahan besar, perubahan tersebut mampu mengantarkan bangsa Indonesia memasuki jaman sejarah yang juga membawa perubahan terhadap susunan masyarakat yaitu timbulnya kedudukan raja dan bentuk pemerintahan kerajan, serta dalam alam pikiran dengan adanya bentuk keagamaan baru. Dengan sendirinya penghidupan dan adat kebiasaan ikut berubah. Pandangan hidup dan keagamaan yang nantinya menentukan corak sifatnya bagi penjelmaan-penjelmaan kebudayan yang dilahirkan oleh masyarakat pendukungnya.
Tampaknya simbol-simbol kesuburan yang terdapat di candi-candi yang diwujudkan dalam bentuk patung-patung menunjukkan adanya ajaran tertentu yang memiliki ciri khas. Ritual-ritual pedesaan yang ingin menjaga keserasian kosmis antara kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan, juga merupakan kesuburan, baik kesuburan tanah untuk meningkatkan hasil panen maupun kesuburan manusia agar dikaruniai keturunan yang banyak. Di Indonesia sekitar abad ke XV, di daerah Sukuh pernah hidup aliran kepercayaan Tantrayana. Satu paham bersifat tantris ini memiliki ciri khas yang ganjil dan aneh. Paham yang membebaskan bersenggama atau memuja pergaualan seks antara pria dan wanita. Kebebasan bersenggama adalah inti dari ajaran aneh ini. Relief alat vital di beberapa candi di Nusantara membuktikan, bahwa dulu Aliran Tantrayana sempat berpengaruh. Bukti adanya Aliran Tantrayana pernah menjadi paham masyarakat Sukuh dengan adanya peninggalan bersejarah Candi Sukuh. Pada dinding candi terdapat relief lingga-yoni. Suatu penggambaran alat kelamin pria dan wanita Tidak hanya di bagian itu saja, di bagian candi yang lain juga ada relief serupa.
Dalam hubungan senggama itu unsur jantan adalah "upaya" (alat mencapai kebenaran yang agung). Sedangkan unsur wanita merupakan "prajna" (kemahiran yang membebaskan). Maka timbul paham bahwa senggama (maithuna) adalah menjadi kebebasan. Maksudnya kebebasan untuk bersenggama antara pria dan wanita. Maka bentuk lingga-yoni yang di candi sukuh dapat diasumsikan sebagai lambang kesuburan.
Menurut teori "Cosmic Mariage" atau perkawinan alam dikemukakan, bahwa semua yang ada itu timbul dari hubungan kelamin. Bahkan seluruh dunia diciptakan oleh persetubuhan dewa pencipta dengan saksinya. Jadi tanpa bersenggama tidak akan mungkin lahir dunia ini di bumi.
Di India Selatan dan Tengah pemujaan terhadap lingga sangat populer keberadaannya. Malah ada satu sekte khusus di sana yang memuja lingga. Mereka menamakan dirinya sekte Linggayat. Ciri-ciri khusus dari para penganut sekte ini adalah mereka memakai kalung dengan hiasan beberapa buah lingga. Sama seperti halnya dengan orang-orang Nasrani yang memakai kalung dengan tanda salibnya. Lingga menurut paham Hindu disebut sebagai lambang kesuburan yang diperlihatkan oleh peradaban manusia di lembah Indus. Kepercayaan ini sempat dilarang oleh bangsa Indo Arya, tetapi tidak lama timbul kembali dan mulai dihubungkan dengan Dewa Shiwa. Lingga kemudian dapat juga berarti sebagai perwujudan Dewa Siwa dalam bentuk sebuah phallus. Lombard menjelaskan bahwa setiap perwujudan-perwujudan semacam itu telah rusak, itu akan seperti tampak bahwa tekanan lama dari potensi, kesuburan, dan kekuatan vital mendapat ungkapan penuh dalam simbolisme dari lingga dari shiwa.
Lingga adalah sebuah arca atau patung, yang merupakan sebuah objek pemujaan atau sembahyang agama Hindu. Kata lingga ini biasanya singkatan daripada Siwalingga dan merupakan sebuah objek tegak, tinggi yang melambangkan zakar atau kemaluan Dewa Shiwa. Objek ini merupakan lambang kesuburan. Pasangan lingga adalah yoni yang merupakan simbol dari alat kelamin wanita. Pengertian lain kata lingga berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ”tanda padanan phallus atau kelamin laki-laki”. Di dalam buku Iconographic dictionary of the India religion Hinduism - Buddhism - Jainism diuraikan bahwa lingga (linggam) antara lain berarti simbol atau lambang jenis kelamin laki-laki.
Biasanya lingga di tempatkan di atas sebuah vulva (yoni). Yoni di sini berarti simbol alat kelamin wanita, sebagai simbol dari unsur wanita. Yoni dalam bentuk cincin batu banyak ditemukan pada peradaban di lembah Indus. Yoni juga dipuja oleh sebuah sekte yang bernama sekte Sakta. Yoni dianggap sebagai unsur sakti dan seringkali disatukan di dalam susunan lingga. Lingga tidak saja banyak ditemukan di India. Tetapi banyak juga terdapat di daerah Khmer (Myanmar, Kamboja, Vietnam). Raja di sana pada waktu itu yang bernama Mahendrawarman sempat meninggalkan beberapa prasasti yang isinya untuk memperingati pendirian beberapa lingga dengan beberapa sebutan (di antaranya adalah Sambhu, Triyambhaka dan Tibhuwanecwara). Dalam berbagai prasasti tersebut ada beberapa petunjuk, bahwa mendirikan lingga erat kaitannya dengan telah ditaklukkannya suatu daerah tertentu.
Berdasarkan uraian di atas bahwa lambang-lambang kesuburan yang sering diwujudkan dengan bentuk lingga-yoni yang merupakan penggambaran dari dewa adalah representasi dari kondisi alam sekitar yang subur dengan kepercayaan animisme (local genius) serta kekuatan-kekuatan elemental berupa tidakan seksual yang difahami sebagai kekuatan yang menuju penyatuan.
Bentuk-Benuk Lambang Kesuburan
Bentuk lambang kesuburan dapat di lihat dalam serambi Candi Mendut (orientasi keagamaan Buddhis), yang terletak di dekat candi Borobudur dan dibangun pada masa yang sama (kira-kira 800 M), tampak dua relief indah, yang menggambarkan Hariti dan yaksa Atavaka, dua raksasa yang diajak budha untuk memeluk agamanya dan dijadikan pelindung kesuburan.
Bentuk lambang kesuburan pada candi Mendut digambarkan raksasa perempuan Hariti duduk di bawah pohon magga dan dikerumuni anak kecil, di Candi Mendut (ababd ke 9). Hariti mengutamakan kesuburan, pada relief ditampilkan dengan seorang bayi di atas pangkuannya dan beberapa bayi lain di sekitarnya (satu di antaranya di atas pohon). Bentuk relief ini di percaya melambangkan kesuburan.
Di Candi Prambanan bentuk lambang kesuburan juga diwujudkan dengan bentuk lingga-yoni. Bentuk lingga merupakan perwujudan dari dewa Shiwa. Bentuk lingga ini seperti yang terdapat pada candi Sambisari. Sedangkan yoni merupakan perwujudan dari dewi Durga. Bentuk lingga-yoni yang dianggap lambang kesuburan diwujudkan secara simbolis yaitu bentuk lingga berbentuk silinder berdiri tegak yang berada di atas yoni. Sedangkan bentuk yoni diwujudkan dengan bentuk segi empat dan lingkaran disertai tonjolan yang diberi lubang atau garis keluar. Bentuk ini merupakan representasi dari bentuk alat kelamin perempuan.
Simbol dari dewa tertinggi Shiwa yaitu lingga, memberi bentuk phallus yang khas pada batu-batu tegak dari masa prasejarah yang sakral. Pasangan wanita dari lingga yaitu yoni, adalah versi yang lebih indah dari batu-batu horisontal wanita dari tahta leluhur Indonesia; yoni berfungsi sebagai alas bagi lingga itu sendiri, juga bagi patung-patung peringatan raja. Disamping lingga-yoni istrinya Vishnu yaitu Shri menggantikan roh pribumi dari padi; ia menjadi dewi dari tanaman padi tanaman padi serta kesuburan pada umumnya.
Di Indonesia, lingga tertua yang pernah diketahui berasal dari prasasti Canggal, yang berasal dari halaman percandian di atas gunung Wukir di Kecamatan Sleman. Dari prasasti yang ditulis tahun 732 M tersebut diketahui bahwa Raja Sanjaya yang beragama Shiwa telah mendirikan sebuah lingga di atas bukit, dan dimungkinkan bangunan lingga tersebut ialah candi yang hingga masih ada sisa-sisanya di atas gunung Wukir.
Di Bali sendiri, keberadaan lingga-yoni sangat banyak ditemukan. Ini memberikan petunjuk bahwa pada masa lampau di Bali pernah ada sebuah sekte bernama Pasupati sebagai salah satu aliran dalam agama Hindu. Lingga-yoni yang ditemukan di Pura Puseh Babahan, Bali ada tiga jenis bentuknya. Yaitu dua lingga dalam satu lapik yang kadang disebut lingga yang mandiri dan sebuah lingga-yoni. Lingga-yoni juga dipercaya sebagai sumber dari kesuburan.
Penganut kepercayaan tersebut kadang menyiramkan air pada lingga dan kemudian air yang mengalir melalui yoni ditampung dan selanjutnya disiramkan pada tanaman padi atau tanaman lainnya. Di samping hal tersebut, penemuan lingga-yoni tersebut menunjukkan bahwa di desa Babahan, Penebel merupakan sebuah desa kuno. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa situs kuno tersebut merupakan peninggalan arkeologis dari masa prasejarah (masa perundagian) dan masih berlanjut hingga masa klasik dan bahkan masih berlangsung hingga sekarang, dan saat ini masih dikeramatkan keberadaannya.
Kemudian bentuk lingga-yoni juga dianggap sebagai lambang kesuburan terdapat pada Candi Sambisari. Candi Sambisari diperkirakan dibangun antara tahun 812 - 838 M, kemungkinan pada masa pemerintahan Rakai Garung. Kompleks candi terdiri dari 1 buah candi induk dan 3 buah candi pendamping. Terdapat 2 pagar yang mengelilingi kompleks candi, satu pagar telah dipugar sempurna, sementara satu pagar lainnya hanya ditampakkan sedikit di sebelah timur candi. Masih sebagai pembatas, terdapat 8 buah lingga patok yang tersebar di setiap arah mata angin.
Memasuki bilik utama candi induk, bisa dilihat lingga dan yoni berukuran cukup besar, kira-kira 1,5 meter. Keberadaannya menunjukkan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan Dewa Shiwa. Lingga-yoni di bilik candi induk ini juga dipakai untuk membuat air suci. Biasanya, air diguyurkan pada lingga dan dibiarkan mengalir melewati parit kecil pada yoni, kemudian ditampung dalam sebuah wadah.
Bentuk lambang kesuburan yang lain yaitu di candi Sukuh. Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu yakni di dukuh Berjo, desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta didominasi oleh relief ini. Terutama pada dasar gapura wujud lingga-yoni tampak besar dan jelas. Menyaksikan relief itu terbayang pada kita penggambaran ke hal senggama.
Dilantai dasar dari gapura ini terdapat relief yang menggambarkan phallus berhadapan dengan vagina. Sepintas memang nampak porno, tetapi tidak demikian maksud si pembuat. Sebab tidak mungkin di tempat suci yang merupakan tempat peribadahan terdapat lambang-lambang yang porno. Relief ini mengandung makna yang mendalam. Relief ini mirip lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Shiwa dengan istrinya (Parwati). Lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Relief tersebut sengaja di pahat di lantai pintu masuk dengan maksud agar siapa saja yang melangkahi relief tersebut segala kotoran yang melekat di badan menjadi sirna sebab sudah terkena “suwuk”.
relief tapal kuda dengan dua sosok manusia di dalamnya, di sebelah kira dan kanan yang berhadapan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa relief ini melambangkan rahim seorang wanita dan sosok sebelah kiri melambangkan kejahatan dan sosok sebelah kanan melambangkan kebajikan. Selain rahim wanita yang digambarkan juga tampak digambarkan alat kelamin laki-laki yang digambarkan dengan bentuk sosok manusia. Namun hal ini belum begitu jelas.
Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala dan tangan kiri terlihat memegang kemaluanya. Patung ini oleh beberapa kalangan masih dikeramatkan sebab seringkali diberi sesajian. Bentuk patung dibawah ini sebenarnya bentuk lingga dan yoni.
Karakter yang nampak adalah halus dan detail, karakter teknis Majapahit, kasar, global (tidak detail), pasif, kaku mewakili karakter teknis prasejarah.
Perlambangan mengacu pada nilai-nilai makna dan lambang local jenius, lambang asli Indonesia, meskipun dalam ujud luarnya adalah tanda-tanda lambang dengan dasar dari mitologi Hindu (Ciwatantra). Dengan kata lain agama Hindu Ciwatantra menyesuaikan nafas perlambangan agama asli, nampaknya Ciwatantra mampu menampung konsep-konsep dari perlambangan religi asli. Perlambangan tertuju pada orientasi kosmologi asli agraris, yang mengacu pada perlambangan “kesuburan”, “keselamatan”. Akhirnya dapat diketahui fungsi Candi Sukuh adalah tempat pemujaan roh atau dewa, upacara “kesuburan”, upacara lepasi (keselematan kosmos), dan upacara inisiasi.
Selain dibeberapa tempat lainnya, Candi Ceto yang terletak di lereng Gunung Lawu sebelah barat masuk di kabupaten Karanganyar juga terdapat perwujudan lambang kesuburan yang diwujudkan dengan bentuk phallus yang besar, berada di lantai dasar Pada trap ketiga. Sebuah soubment memanjang di atas tanah yang menggambarkan nafsu badaniah manusia (nafsu hewani) berbentuk phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang lebih dari 2 m, dengan diapit dua buah lambang kerajaan Majapahit menunjukkan masa pembuatan candi. Banyak anggapan bahwa candi Ceto merupakan candi laki-laki karena bentuk phallus yang ditonjolkan lebih dominan sedangkan candi Sukuh merupakan candi wanita sebab perwujudan bentuk alat kelamin wanita lebih nampak.
Diungkapkan Claire Holt, simbol-simbol kesuburan tampak jelas. Di atas lantai batu dari pintu masuk candi Sukuh, sebuah phalus besar yang berhadapan dengan pasangan wanitanya, dipahatkan dengan relief. Di Ceta sebuah phallus terletak sama, yang menunjuk ke arah batu segitiga yang horisontal. Di atas phallus terdapat seekor kadal. Tiga ekor katak dikelilingi oleh kepiting-kepiting dan seekor belut ada di atas batu segitiga, dengan kadal-kadal lagi disudut-sudutnya.
Dengan demikian lambang-lambang kesuburan yang diwujudkan pada candi-candi terutama pada candi Hindhu diantaranya candi Prambanan, Sukuh, Ceta, Sambisari dan diantaranya candi Budha yaitu mendut merupakan hasil representasi bahwa lambang kesuburan menjadi suatu ajaran, perwujudan dewa, untuk kelangsungan hidup, serta memaknai kesuburan alam sekitar dalam artian menjaga keselarasan, penyatuan dengan alam agar ada hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Dilihat dari bentuk visualnya, bentuk lambang kesuburan yang berbentuk lingga-yoni di candi Sukuh dan Ceta lebih dominan diwujudkan secara natural, sedangkan di Prambanan dan Sambisari tampak sebagai penggambaran (abstrak). Di candi Sambisari bentuk lambang kesuburan dipahatkan dalam bentuk panel (relief).
Daftar pustaka
Sumber Buku
Denys Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu, Bagian III: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Claire Holt. Melacak Jejak Perkembangan Seni Di Indonesia, Bandung, Arti.line, 2000.
R. Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayan Indonesia II, Yogyakarta, Kanisius, 1973.
Sumber Internet
R.Hendrawan. ”Aliran Kepercayaan Tantrayana Ajarkan Paham Kebebasan Senggama” dalam http://www.yogyes.com, 24 Oktober 2007.
Sulung. “Lingga Yoni di Pura Puseh Babahan, Bali” dalam www.Sinar Harapan.com, 24 Oktober 2007
Silhouette “Artikel: Budaya-Candi Sukuh” dalam jawaplace.org; id.wikipedia.org, 24 Oktober 2007
Candi Sukuh dalam www.kabaresolo.com, 24 Oktober 2007
Lingga yoni dalam http://www.yogyes.com, penelusuran lewat www.gogle.com. 24 oktober 2007
Lingga dalam http://ms.wikipedia.org/wiki/Lingga,_Hindu", 24 Oktober 2007
Lingga yoni dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Lingga_(arca), 24 Oktober 2007
Hendri Cholis. Ulas Rupa dan Lambang Pada Kumpulan Candi Sukuh.”
“Pendekatan Sosial Budaya Perkembangan Seni Rupa Indonesia-Hindu”Tesis, Institut Teknologi Bandung, penelusuran lewat www.gogle.com 24 Oktober 2007.
1 komentar:
Gak gitu juga
Posting Komentar