Minggu, 01 Februari 2009

Masyarakat Sebagai Produk Kesenian

Masyarakat Sebagai Produk Kesenian
oleh: Agus Setiawan

Seni sebagai Kritik Sosial

Pengertian seni sebagai budaya pastilah setua gagasan mengenai pendidikan estetika umat manusia. Pada saat kejayaan bangsa Yunani, beberapa persoalan teori seni belum sebagai perangkat pendidikan yang lebih jelas dan nyata dibandingkan larangan dan pengingkaran Plato terhadap pernyataan para filosof. Sejak saat itu orang-orang yang menentang seni, mempertanyakan fungsi, pengertian dan nilai dari pendidikan estetika.
Argumentasi Plato dengan pandangan yang menyesatkan terhadap gagasan lama menjadi bersangkut paut. Memelihara beberapa validitasnya seluruh gerakan orang yang menentang pemujaan patung-patung merupakan bekas doktrin Platonik. Para filosof yang menyembah berhala daripada para rasul. Aliran yang menyembah berhala pada zaman Romawi membela teori tersebut dengan konsep yang diambil dari doktrin Plato mengenai ide-ide dan berjuang melawan pemujaan berhala. Savonarola dan Anabatist menyatakan dengan tegas dibawah penyamaran aliran penyembah berhala, perlawanan kepada masyarakat yang ada, dan keputusan golongan melakukannya dengan lebih terang-terangan dibandingkan pendahulu mereka yang hampir tidak sadar pada kenyataan yang melawan kedalam hierarki dan institusi gerajawi. Mereka berjuang melawan munculnya feodalisme. Latar belakang yang berbau ideologi terhadap perjuangan menjadi semakin jelas dalam meluruskan perkembangan sejarah. Berbeda dengan Flaubert, yang mengetahui bahwa tidak ada yang lebih mulia dari hidup dibandingkan seni, sebuah dorongan untuk memusuhi kehidupan dalam suatu pemujaan terhadap berhala.
Ketika membicarakan sedikit pernyataan dari keterkaitan antara nilai estetis. Pada saat Renaisance dimana pada masa itu mencari jawaban tentang hal yang berkaitan dengan estetika, yang pertama: pada ide bahwa seni itu melukiskan dirinya sendiri dan pengaruh pendidikan pada karya seni menumbuhkan seni dengan estetika nilai artistik. Pada abad pertengahan, tidak ada nilai moral yang diangkat berasal untuk kualitas artistik sebagai contoh, meskipun pasti ada beberapa sensifitas pada hal tersebut dan seakan menjadi sangat sedikit perbedaan antara dua golongan nilai pandangan religius, yang mengesampingkan dasar-dasar seni, percaya bahwa hal tersebut patut dicela dalam segala bentuk, dan keduniawian sebaik peraturan keagamaan yang bermaksud menggunakan hal tersebut sebagai alat propaganda tidak menghakiminya berdasarkan nilai estetisnya. Hanya sebagai penolakan seni tidak perlu ditandai tanpa kesediaan menerima daya tariknya, sehingga pekerja seni dan pelindung seni bukan selalu ahli khususnya dalam meneliti karya-karya seni.
Penentang pemujaan patung-patung yang menolak seni dari awal, bukan dalam pengertian kemasyarakatan (sosiologis), para estetikus menilai hidup berdasarkan ukuran seni dan meninggalkan hidup demi seni, memang sejauh ini seperti mereka menolak atau menjatuhkan beberapa hubungan langsung antara seni dan masyarakat. Tidak ada satu pun dari mereka percaya diri dalam kemampuan mengajarkan estetika manusia atau kemungkinan membentuk atau memperbaiki masyarakat melalui seni. Karena baik estetikus maupun penentang pemujaan patung masing-masing memisahkan dua bentuk, tidak ada pemisahan tersebut yang dapat mengambil alih. Seni menyatakan dirinya sendiri sebagai hal yang diterima masyarakat sebagai kepositifan dan kenegatifan, membangun atau merusak, permintaan maaf atau pikiran kritis ketika hal tersebut bertujuan pada perintah khusus dari penguasa, tapi tidak demikian ketika hal tersebut menemukan dirinya sendiri dihadapkan pada kekosongan masyarakat oleh kemanusiaan sebagaimana para estetikus dan para penentang pemujaan patung memimpikannya. Seni dapat menyehatkan sekaligus tidak merugikan masing-masing bagian tetapi dengan kesamaan bukti, tidak ada ungkapan atau sifat unik dimana hal tersebut dapat membuktikan bahayanya atau bergunanya bagi masing-masing dan setiap masyarakat. Di bawah kondisi yang pasti bagaimanapun, seni yang tidak hanya merefleksikan kenyataan sosial tapi juga mengkritisi masyarakat. Terbentuknya hal tersebut sesuai dengan diagnosa dan menyembuhkan kesakitannya.
Peranan seni dalam formasi masyarakat tidak selalu sama penting dan jelas terlihat dalam membawa tendensi kepada pencerahan yang siap disampaikan dalam masyarakat, kerja tersebut merupakan hasil dan bukan penghasil kodisi sosial, sebagai kritik sosial, seni adalah penghasil dalam lingkaran hanya sejauh hal tersebut bereaksi dalam masyarakat dengan desakan hal tersebut dapat diterima darinya dan dikondisikan dengan mengeksiskan, kontradiksi, tegangan dan konflik. Sebagai contoh, setiap kupasan mengenai masyarakat tetap merupakan kupasan terhadap diri sendiri oleh masyarakat. Matthew Arnold tidak secara jelas berfikir mengenai beberapa kupasan sosial dalam pengertian ini ketika dia memutuskan literatur sebuah kupasan mengenai kehidupan. Dia fokus bukan terhadap pembetulan kembali terhadap ketidak sistem sosial dengan lainnya, bukan dengan pembetulan terhadap ketidak lengkapan yang dapat menggeser dari dunia pertama dan untuk semua. Dia lebih percaya bahwa literatur dari paling awal dan tanpa henti adalah mencari kesempurnaan. Aforisme Oscar Wilde bahwa seni tidak meniru kehidupan akan tetapi sebaliknya secara khusus bergerak dalam tingkatan yang sungguh berbeda dari keputusan bahwa literatur adalah kupasan hidup. Dengan kata lain esensi yang paling dikuasai sebagian besar orang dalam memperhatikan bentuk dan arti sesuatu tanpa membuat hal tersebut keluar darinya. Sejauh seniman melakukan untuk mereka, hidup terlihat meniru karya dan seni nampak tidak untuk dikritisi dan diluruskan tapi lebih sebagai contoh dan untuk mengukur kenyataan. Hanya mereka sendiri yang memahami
Fungsi seni bukan hanya karena orang-orang telah membuka mata, tetapi mereka yang mulai mencegah menutup mata mereka dari kenyataan, pekerjaan yang sulit, solusi yang tidak sesuai. Sementara itu, seni merupakan sesuatu yang normatif dan patut di contoh bagi masyarakat bukan hanya karena ide validitas humanistik dan normanya, tetapi juga karena kebiasaannya yang baru, moral, dan model pikiran dan perasaan yang dapat diterima dan dihormati. Mereka sendiri mengartikannya dengan menyebar supaya menimbulkan daya tarik orang-orang dan agar mendapatkan simpati dari mereka. Pada rakyat, dan kedermawanan pada zaman victoria merupakan kaidah kesusastraan. Kaidah ini harus mereka dukung pada struktur sosial saat ini, tetapi orang-orang sadar bahwa mereka hanya meneruskan bentuk sastra atau bentuk artistik mereka dan bentuk ini memberikan reaksi pada masyarakat. Seni menjadi faktor sosial ketika masyarakat membuat salah satunya, revolusinya setelah mereka sendiri berubah menjadi bentuk revolusioner.
Pengaruh masyarakat pada seni, peranannya sebagai faktor dalam produksi masyarakat, ternyata ketika itu menjadi gangguan pada gaya motif pembaharuan dan perubahan revolusioner dan tekanan aspirasi yang mengingkari perintah dan ancaman yang ada dengan destruksi, kesenian, tetapi dengan jelas juga melayani ketenangan untuk menyetabilkan kondisi yang ada dan tidak hanya menghilangkan konflik keluar, ketika pencobaannya untuk mendamaikan strata masyarakat yang luas dengan keterbatasan ideologi salah satu dari mereka, tetapi juga karena prinsipnya yang menyatakan bahwa perasaan yang lebih didahulukan itu mencangkup semuanya dari pada struktur ideologi yang lain dan lebih disesuaikan untuk membawa strata hegeterogenitas kebudayaan dalam kesesuaian tempat pergerakan artistik pada abad 19 adalah tidak adanya manusia yang membawa, kondisi pada gaya ini, yang anti borjuis dan borjuis yang tidak mempercayai mereka. Para penikmat seni dengan tenang masuk bagian besar pengikut baru/pemeluk agama baru aliran kiri dan kanan.
Tetapi itu aliran romantis murni yang mengabaikan kenyataan seni yang membagi juga seringnya mempersatukan, karena sungguh-sungguh memandang orang, menurut apa pekerjaannya mereka mampu untuk memahami, menjadi perbedaan camps, dalam proses yang mana tanpa arti pekerjaan lebih penting yang mana memiliki pengikut sangat besar.

Masalah L`art pour L`art (seni untuk seni)

Pertanyaan yang berhubungan dengan prinsip L`art pour L`art merupakan hal yang sulit dan banyak jalan, Jika posisi L`art pour L`art dapat mempertahankan dan karya seni mendapat kehormatan sebagai sistem tertutup tidak ada persoalan yang kecil ketika tuntutan arti dan maksud seni dapat menentukan kemasyarakatan adalah memperlihatkan yang haram dan tidak dapat dilaksanakan. Sebuah lukisan mungkin saja dilukis secara sempurna atau sebaliknya sangat tidak menarik. Sebuah novel bisa ditulis dengan sangat hebat atau bahkan tidak karuan dan merusak akhlak sosial. Apa yang diberikan sebuah karya seni dalam artian moral, sosial dan kemanusiaan tidak bersandar pada motif, tindakan, karakter atau tujuan eksplisit yang dinyatakannya tetapi justru pada kesungguhan, kecerdasan dan ketegaran, pendeknya adalah kedewasaan spiritual yang melakukan pendekatan terhadap permasalahan-permasalahan hidup. Seni yang tidak memiliki makna atau bobot bukanlah seni yang memotret peristiwa-peristiwa tetapi seni yang mengadopsi sebuah pandangan yang sepele atau kebiasaan berbohong dalam tugas-tugas kehidupan. Protes melawan doktrin L’art pour L’art adalah sebuah protes melawan prinsip romantik yang menganut paham melarikan diri dari tanggung jawab hidup yang sebenarnya menghindari kesulitan-kesulitan hidup daripada melawannya, mencari cara dan menyelesaikan kesulitan tersebut.
Teori L’art pour L’art mengambil cara pandang yang bermanfaat dari fakta bahwa metamorfosis ini bisa benar-benar sempurna dan sebuah karya seni bisa dianggap sebagai struktur formal yang bebas, tertutup dan lengkap. Menurut doktrin L’art pour L’art, asal muasal psikologis dan tujuan moral serta sosial penciptaan artistik dianggap tidak signifikan, dan interpretasi genetis atau teleologi menjadi disalahkan karena ia tidak hanya meninggalkan struktur formal yang tidak dijelaskan tapi bahkan menyembunyikan dan memalsukannya dengan mengarahkan perhatian pada bagaimana para seniman datang dengan komponen-komponen individual dalam karyanya daripada menunjukkan bagaimana kondisi yang ada satu sama lain dan bagaimana mereka nantinya akan berhubungan
Pada kenyataannya seniman seperti itu tidak lagi ada seperti eksisnya pembaca atau penontonnya yang hanya menerima secara pasif pertunjukan artistik. Hanya para pelajar dan pencinta kesenian yang menulis puisi dalam masa kekosongan ini, mereka adalah perwakilan yang paling murni dari prinsip L’art pour L’art. Seniman yang matang dan sungguh-sungguh selalu bekerja di tengah situasi sosial, selalu berbicara untuk yang lain dibanding bicara untuk diri mereka sendiri, dan berkaitan dengan solusi masalah-masalah kehidupan yang tidak semata-mata mempengaruhi diri mereka sendiri. Kesulitan dalam menilai fakta dengan benar muncul dari komunikasi bahwa karya seni selalu dihasilkan dari kebutuhan sosial, interpersonal tetapi harus memiliki sebagaimana kualitas estetikanya.
Teori L’art pour L’art tidak ingin berkaitan dengan kontradiksi ini dan menyangkal tidak hanya bermanfaat sosial dan moral sebuah seni tetapi pada semua fungsi praktisnya. Apa yang dikatakan Eduard Hanslick tentang musik pada Von Musikalischem Schonen, bahwa hubungannya dengan segala sesuatu yang non-musikal, segala sesuatu yang mengandung gagasan emosional, adalah hal yang samar-samar dan tidak bertanggung jawab. Seperti halnya musik mengekspresikan sesuatu yang unggul secara tulisan, bahasa, sesuatu yang terkunci dalam struktur sintatik dan kata-kata. Dengan cara yang sama makna yang tidak dapat diterjemahkan dari sebuah lukisan, gagasan majalah bergambar, sebuah visi, hanya bisa ditangkap dan diterima dalam bentuk-bentuk visual. Para komposer memikirkan nada-nada, pelukis memikirkan garis dan warna, para pembuat puisi memikirkan kata-kata, nada dan ritme. Sudah pasti seperti ini, meski ini bukanlah kebenaran yang menyeluruh, bagian demi bagian, dengan maknanya yang hanya bisa diungkapkan secukupnya dalam bentuk yang istimewa, terdapat sebuah nilai instrinsik yang bisa diterjemahkan dalam tiap bentuk.
Seniman tidak hanya melihat bagaimana kaleidoskop materi akan menyesuaikan dengan kategori homogen sebuah organ indera atau yang lainnya. Terjemahan fenomena yang terpisah dan tidak berlanjut menjadi fenomena yang sama, tidak terpisahkan dan tidak pecah hanyalah salah satu sarana, meski yang paling jelas, menaklukkan kesemrawutan pengalaman dan merubah menjadi dunia yang terkontrol dan teratur; inilah gagasan dari sebuah seni. Struktur homogen, seperti struktur mikrokosmik, adalah sebuah faktor penting dalam karya seni, tapi bukanlah hal yang sangat diperlukan, kesatuan tidak lebih dari bagian tiap bentuk artistik daripada kelengkapan atau hasil akhir.
Menurut ucapan Max Lieberman yang sangat terkenal, lukisan kepala Kubis yang baik akan lebih bernilai daripada lukisan yang jelek tentang kepala Madonna. Kepala Madonna hanya akan berharga jika ia dilukis dengan lebih baik dan hanya akan menjadi sebuah obyek artistik jika ia dilukis dengan sangat baik.
Sebuah karya seni adalah sesuatu seperti jendela dimana kita bisa mengamati dunia tanpa terlibat dalam hakekat instrumen observasi, bentuk, warna dan struktur kaca gelas, tetapi kita juga memfokuskan perhatian pada jendela tanpa menaruh perhatian pada bentuk dan makna obyek-obyek yang terlihat. seni selalu nampak dalam dua aspek. Dari sudut pandang pengalaman estetika yang murni, otonomi dan ketetapan bentuk nampak penting bagi sebuah karya seni; ini hanya dapat menciptakan ilusi total dan menjadi gambaran realita yang dapat dipercaya ketika ia membebaskan dirinya dari segala sesuatu yang berada diluar wilayahnya sendiri. Ilusi, bagaimanapun juga, membentuk keseluruhan makna sebuah karya seni dan seringkali memainkan peran yang tidak menentukan di dalam pengaruhnya. Seni adalah sebuah refleksi realita tapi tetap mempertahankan hubungan khusus yang fleksibel dan mengubah jarak darinya. Seni selama ini ada berbeda dari realita, disatu sisi, melibatkan diri di dalamnya, disisi yang lain juga meninggalkan dan memindahkan realita, ini adalah bagian seni yang penting untuk menjaga kesadaran refleksi, fakta muslihat diri, tetap hidup dengan terus menerus menyinggung kebenaran yang direfleksikan. Tujuan karya ini yang paling pasti bukanlah untuk membuat hilangnya kesadaran pembaca atau penonton atau untuk menempatkannya pada kondisi dimana dia gagal mengenali fakta-fakta atau salah memperkirakan arti penting mereka. Karya seni otentik keluar dari permulaan ilusionis yang memperdaya dari gesture dan mikrokosmis artistik yang terpusat pada diri melalui sebuah titik melebihi jarak estetika mereka sendiri.
Pengalaman artistik yang otentik mensyaratkan atraksi formal dari alat-alat yang kita gunakan, pelaksanaan teknis yang sempurna, dan efek warna, nada dan kata-kata yang menarik. Prasyarat bagi kualitas seniman dan fungsi yang harus dipenuhi seni, adalah bentuk yang berhasil. Apa yang membuat seseorang menjadi seniman bukanlah sesuatu yang ia usahakan untuk melukiskan atau merekomendasikan dan untuk dibanggakan tetapi adalah cara dia mengerjakannya, sesuatu yang ia siapkan untuk bertahan, dan apa yang ingin ia gunakan adalah talenta yang ia punyai, bukan yang lainnya.
Kembali dan kembali lagi manusia telah membangun sebuah bentuk identitas yang bermakna sebagai cara keluar dari dilema yang mana bentuk yang berhasil adalah prasyarat yang penting bagi efek artistik, dan makna kriteria yang signifikan bagi bentuk yang kuat. Tetapi identifikasi bentuk dan kandungannya paling baik berada di atas hal yang tidak dapat mereka bagi, bukan pada hal yang penting. Bentuk dan makna adalah dua hal yang sangat berbeda meski mereka bisa juga dipahami hanya dalam hubungannya satu sama lain. Seperti halnya tiap obyek artistik yang hanya membuat penekanan melalui bentuknya, bahkan bentuk yang paling sederhana dan embrionik memiliki efeknya untuk ketegangan antara kebutuhan untuk mengekspresikan makna dan sebuah ekspresi yang formal.
Sebuah bentuk akan berhasil jika ia berhubungan pada beberapa cara untuk makna yang ia ekspresikan. Bentuk tidak pernah menjadi fungsi sebuah pokok perkara: sementara beberapa bentuk bisa dikeluarkan sebagai hal yang tidak sesuai, tidak lebih dari satu bentuk dengan sesuai mengekspresikan pokok perkara yang khusus. Pada sebuah karya seni yang sesungguhnya, bentuk dan maknanya saling bertemu, kongruen dan sangat total. Bentuk yang pertama kali nampak ketika ia mengatur latar belakang material. Tujuan dari usaha artistik yang jelas adalah sebagai penengah antara makna dan bentuk, gabungan yang mutlak dari pemikiran dan perasaan untuk dikomunikasikan dalam media komunikasi. Meskipun begitu, ia meninggalkan sebuah catatan tentang apa itu artistik jika bentuk bukanlah makna dan makna bukanlah bentuk. Penggabungan satu prinsip dengan prinsip lain tidak lebih dari ekspresi figuratif, ekspresi metafora untuk penyesuaian diri mereka. Perbedaan antara sarana artistik dan makna dari isi, Seni untuk kepentingannya sendiri dan untuk kepentingan keindahan. Tetapi seberapapun dalamnya ia dikondisikan oleh motif sosial dan etika yang berada di luar bentuk estetika, ini harus ditangguhkan sementara sehingga karya tersebut akan mampu mengeluarkan efeknya.
Contoh yang paling sesuai untuk menolak teori “L’art pour L’art” dan drama adalah aktivitas kreatif David, yang sangat representatif secara sosial dan formal yang mana karya artistik dan nilai-nilai politik praktisnya selalu melekat satu sama lain. Karya seninya yang lebih dalam berakar pada usaha sosial, yang lebih ekspresif menempatkan talentanya pada servis propaganda, kualitas karya yang lebih tinggi. Sepanjang masa revolusi, ketika disuruh aktivitasnya berkisaran dibidang politik dan dia melukis gambar seperti Dath of the tennis court dan The Death of Marat, dia berada pada puncak kekuatan artistiknya. Bahkan sesudahnya, ketika ia mendapat tugas praktis untuk menampilkannya dengan tujuan patriotik Napoleon, karya seninya masih tetap hidup dan kreatif. Sepanjang masa pengasingannya di Brussels, ketika dia tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan politik dan tidak lebih dari sekedar seniman menurut “L’art pour L’art”, perkembangan artistiknya paling dihalangi. Bahkan jika contoh dari David tidak membuktikan bahwa seorang seniman harus terlibat secara politik dan berpikiran progresif untuk melukiskan gambaran yang baik, setidaknya ini menunjukkan berkebalikan dengan proklamasi teori “L’art pour L’art” yang minat politik dan tujuan politiknya mengganggu asal mula karya yang signifikan.
Pada sebuah karya seni yang penting, eksistensi melepaskan diri dari kebingungan dan hakekat kententuannya, bahwa ia telah mencapai sukses formal yang mempengaruhinya sendirian, kemenangannya juga mempengaruhi pendengar atau penonton dengan kekuatan murni dan mendasar tanpa manipulasi bentuk yang bisa dihasilkan. Siapapun yang mendekati karya dengan sesuai merasa terinspirasi untuk mengukur permintaannya yang dia ambil dalam hidupnya dengan serius, bahwa dia ada untuk memahmi dirinya sendiri dalam lingkungan hidupnya, untuk menjelaskan keambiguan dan kekelaman diri dan lingkungannya, seperti halnya yang dilakukan seniman dengan kata-katanya “perintah” seniman jelas bukan estetika formal tetapi pencapaian moral. Pernah tidak dapat dihilangi oleh pengalaman bentuk sensual. Setiap karya seni yang sebenarnya sebagai struktur formal, mewakili penolakan teori “L’art pour L’art”. Seruan moral dan pesan kemanusiaan yang dibawa seni tidak berisi rekomendasi khusus dan mengungkapkan larangan tetapi mengadopsi sikap yang serius, kalem dan masuk akal bagi dunia, hidup dan segala sesuatu yang hidup bersama dengan orang lain. Seni menantang kita untuk bertahan dan mereformasi tapi tidak dengan era langsung atau melalui bentuk-bentuk konseptual abstrak. Ia menggunakan imej kongkrit yang biasa diapresiasi oleh rasa.
Setiap karya seni mewakili sebuah imej aspirasi dan gagasan kehidupan. Setiap orang adalah pemenuhan harapan, sesungguhnya ketika ia melukiskan gambaran yang paling sedih tentang eksistensi ia membuatnya menjadi lebih masuk akal dunia yang lebih lengkap, sesuatu yang malahan tidak dapat didekati, sebuah dunia dimana orang-orang membawa hidupnya sesuai dengan apa adanya, kemampuannya dan kapasitasnya. Bahkan sebuah bentuk seperti tragedi “memperbaiki” hidup dimana prinsip konsistensi dan kebutuhan yang tersebar luas dimana sebaliknya justru kosong tetapi tidak teratur dan adanya kesempatan. Gagasan Catharsis disekitar tragedi yang terlibat adalah, dalam hal nasehat “kamu harus mengubah hidupmu” poros dari seluruh arti artistik.
Meskipun begitu ini masih dipertanyakan apakah kita bisa berpikiran jauh tentang fungsi praktis seni. Dalam hal ini Freud menyederhanakan hubungan antara estetika dan efek praktis seni ketika ia menerjemahkan kenikmatan artistik sebagai sebuah kesenangan seksual yang menempatkan keutamaannya pada persetubuhan sesudahnya ketika ia menggambarkan kesenangan estetika sebagai pra-kesenangan (vorlust) yang mempersiapkan jalan untuk pelepasan jiwa dari tensi dalam tujuan putative dari seni–dia tidak menjaga bahwa setiap pengalaman artistik harus memiliki efek pembebasan atau juga bahwa pengalaman tersebut hanyalah berupa pra-kesenangan. Dengan kesederhanaan dia menjelaskan bahwa kesenangan estetika bisa memenuhi fungsi-fungsi dimana tidak ada subyek penerima maupun kreatif yang perlu disadari. Terpisah dari penyederhanaan hubungan antara fenomena praktis dan estetika, penjelasan tidak berbeda secara esensial dari doktrin sosiologi seni yang menanyakan bahwa seniman itu sendiri tidak selalu sadar tentang efek praktis karya seninya dan tidak perlu bertujuan khusus, bahwa seni harus melayani tujuan-tujuan bersandar pada kualitas estetikanya, dan bahwa seni adalah sadar atau tidak sadar diarahkan oleh motif yang ada diluar wilayah seni.
Pembaca editor, atau penonton kadang harus berjuang sama keras untuk mendapat pandangan yang sesuai untuk karyanya seperti halnya sikapnya dalam sosial atau perkiraan yang tepat tentang minat dan masalah-masalahnya. Bagaimanapun juga, meskipun ideologi khusus, bahkan jika ia ditekan atau disembunyikan masih jelas dibalik setiap penciptaan artistik kita bisa membicarakan keterlibatan, jika seniman secara sadar dan tanpa oposisi didalam untuk tujuan sosiopolitik. Dia tanpa suatu keyakinan menghasilkan propaganda untuk berbagai daya tarik, beberapa diantaranya mungkin benar-benar asing baginya, dan bahkan ia dengan sadar memalsukan kebenaran atau menyesatkan keadilan. Dia terlibat hanya ketika ia mengidentifikasi dengan ideologi yang ia bawa di dalam karyanya. Interpretasi pembaca sering bergerak dari satu level ke level berikutnya, setiap level lebih berkembang tingkat kesadarannya dan sejumlah aspek berbeda bisa diungkapkan. Macbeth mungkin adalah pembunuh yang menjijikkan, Othello adalah si bodoh yang egois, Lear adalah oarng tua yang gagal, Hamlet adalah seorang yang sadis, Anthony adalah pemain strumpet, mereka semua adalah gambar yang ideal, perwujudan kekuatan keinginan yang teguh, contoh-contoh loyalitas dan ketegaran lain tidak peduli seberapa berat beban mereka.
Salah satu dasar solusi pasar untuk masalah “I’art pour I’art”menjadi sangat sulit adalah fakta bahwa seni berbeda berkaitan dengan gagasan yang mungkin ada, sarana ekspresi dan fungsi sosial mereka. Minat, keyakinan, komitmen dan usaha yang keras yang diekspresikan tanpa banyak heboh dalam literatur bisa diungkapkan pada karya seni yang baik dan khususnya pada musik, hanya secara tidak langsung dan sering dalam bidang yang tidak biasa. Malahan, perbedaan itu hanya ada dalam satu tingkat. Musik, tentu saja, mengekspresikan emosi tertentu daripada sekedar emosi.
Terlebih lagi, untuk master seperti Beethoven, komposisi yang melampaui seni tidak perlu harus ada di opera. Stravinsky mengumumkan bahwa peran Napoleon pada Eroica sangat eksternal dan bahwa Beethoven telah terinspirasi untuk menulis karya yang sama untuk motif yang berbeda. Tidak monarki maupun Holy Alliance, dengan konsep kebebasan yang tidak cukup dan gagasan yang dapat dipertanyakan tentang hak manusia, bisa menghasilkan karya seni ini. Siapapun yang tidak sadar tentang latar belakang komposisi Eroica tidak dapat menuju kedalam selain daripada sekedar struktur musiknya, akan tetapi revolusi dan Napoleon tidak hanya termasuk pada sejarah karya tetapi juga syarat untuk nilai artistik itu sendiri. Diketahui atau tidak fakta-fakta politik berada pada dasar usaha mental yang mana merupakan asal muasal dari sebuah karya seni

Tanggapan
Memahami apa yang diungkapkan dalam pandangan Hauser tentang seni sebagai kritik sosial sebenarnya menyangkut nilai estetis dalam pandangan masyarakat, peranan bagian seni, fungsi seni kemudian pengaruh masyarakat pada seni sehingga seni tidak hanya merefleksikan kenyataan sosial tapi juga mengkritisi masyarakat. Seperti diungkapkan Jakob Soemardjo dipandang dari segi isinya, dalam beberapa hal seni dapat dinilai sebagai kritik masyarakat dan manusia, disamping juga mengandung propaganda. Dikatakan berupa kritik masyarakat karena seniman adalah makhluk sosial yang selalu terlibat dengan manusia lain dalam hidupnya sehari-hari. Di dalam bersinggungan dengan masyarakat seniman melihat ketidaksesuaian pandangan idealnya dengan kenyataan. Sambil menunjuk kepincangan lingkungannya, seniman juga menghadirkan propaganda yang menunjukkan bagaimana seharusnya hidup ini. Dengan daya kreatif imajinasinya, gagasan seniman lahir dalam bentuk estetika seni. Disinilah seni mempunyai peranan dalam memberikan pencerahan rahani penanggapnya tentang hidup meraka sendiri.
Seni dapat masuk wilayah politik, ekonomi, religi, teknologi. Bahwasanya sejarah telah membuktikan urusan seni menjadi penting dibicarakan ketika terkait dengan urusan diluarnya. Seniman menghendaki kebebasan yang utuh, hubungan dan wilayah-wilayah kajian lainnya tetap akan mengikuti. Ia membawa kebebasan sekaligus ”keterbatasan” dalam hidupnya. Seniman dikatakan kreatif, seniman itu sendiri tidak bisa melarikan diri dari determinan sosial yang ada. Karya seninya adalah produk sosial, karya seni memiliki kaitan atau relasi sosial-ekonomi, politik.
R.S. Stites dalam Mike Susanto memberi gambaran sejauh mana peran seni menjadi penting dalam kegiatan non-seni. Bahwa seni memiliki nilai, dan nilai itu menjadi penghubung sekaligus fungsi yang menjembatani peran karya. Tiga nilai tersebut adalah nilai pakai, nilai kisah atau nilai ideal juga bisa dikatan religius, moral, historis dan nilai formal atau nilai intrinsik sebuah karya. Sedangkan peran dan fungsi menurut Laura H. Chapman, sebagai kegiatan personal, politik, religius, edukasi, eknomi, dan fisik. Hampir sama dengan yang dikemukakan E.B. Feldman bahwasanya seni memiliki tiga fungsi seperti fungsi sosial yang berkaitan dan berkepentingan dengan ideologi dan politik. Fungsi personal. Menempatkan seni sebagai ekspresi psikologis, ungkapan estetis. Fungsi fisik memberi kaitan dengan keperluan manusia secara fisik.
Peranan seni wayang kulit pada masyarakat Jawa amat kuat. Wayang adalah pembentuk rohani masyarakat Jawa. Teater wayang adalah guru dan sarana pendidikan moralitas dan spritualitas masyarakat Jawa. Tetapi hanya berlaku pada masyarakat tradisional yang masih kuat primordialnya dan tidak pada masyarakat Indonesia yang sudah modern karena rendahnya tingkat apresiasi seni modern mengurangi peran dan fungsi seni. Bahwa seni ikut dalam pembentukan jiwa masyarakat masih dipertanyakan.
Pada bagian kedua tentang masalah L’art pour L’art (seni untuk seni) secara konsep membuktikan ketidakmungkinan hidupnya seni, seni tampak memiliki ego dan nyaris hanya sebuah kesombongan ungkapan yang tak terbuktikan. Seegonya karya seni apa pun, ia akan menjadi penghuni ruang batin penontonnya, maka ia telah memiliki banyak fungsi didalamnya. Seni tak pernah steril dari kepentingan-kepentingan. Menurut Jakob Soemardjo mengenai pandangan tentang seni untuk seni, bahwa seni dan moral itu dua tugas yang berbeda sehingga seni tidak harus dinilai berdasarkan asas moral. Seni mengabdi kepada keindahan, sedang moral pada kebaikan. Seni yang sejati sudah barang tentu bermoral, moralnya adalah keindahan itu sendiri, sebab keindahan adalah kebaikan dan kebenaran.
Dalam pandangan Soedarso Sp. seni untuk seni tidak harus dipertentangkan dengan art figuratif (dalam artian yang manapun juga), melainkan harusnya dengan L’art engage. Yang pertama sering disebut dengan seni murni (seni yang masih dimanfaatkan dalam lingkungan seni itu sendiri) dan satu lagi dengan seni terpakai (disebut juga seni guna atau seni terapan, yaitu seni yang dimanfaatkan atau diterapkan untuk hal-hal lain di luarnya). Dengan keterangan ini bisa saja orang lantas dengan cepat mengatakan bahwa seni untuk seni rasanya sesuatu yang perlu disayangkan. Misalnya di Indonesia kesenian pernah rapat dengan kegiatan politik. Pada Orde Lama, seni dimanifestasikan sebagai salah satu pendorong terjadinya revolusi sampai munculnya semboyan ”politik sebagai panglima” padahal seni bila ditinjau lebih jauh, seni bernilai tidak hanya untuk politik semata. Menurut pandangan yang diusung oleh Arnol Hauser tentang masalah seni untuk seni yang tentu saja reaksi kritisi pada jamannya mengenai seni bila dikaitkan dengan kondisi di Indonesia sangat relefan. Di Indonesia katakanlah pada tahun 60-an, tidak saja PKI dengan lekranya, NU dengan Lesbumi, PSII dengan Lesbi, Muhammadiyah dengan Himpunan Sastra Islam (HPSI), PNI dengan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) dan lain-lain. Hal tersebut sadar atau tidak sadar seniman yang memikirkan keindahan menjadi tidak terasa atau muncul dari karya tersebut karena seniman secara tidak langsung ikut dalam wilayah perpolitikan dan akhirnya karya-karya mereka lebih untuk alat propaganda.

Kesimpulan

Karya seni diciptakan dengan segala macam gagasan, pengalaman, dan kejujuran dari senimannya. Apabila karya tersebut sudah selesai maka karya tersebut dihadirkan kepada publik secara tidak langsung akan bersinggungan dengan masyarakat bahkan dengan senimannya sendiri. Dimana posisi seniman secara mutlak sudah terpisah dari karyanya. Berawal dari hal itu, seniman mampu mengetahui keterbatasan terhadap karya bahkan karya tersebut mampu memberikan pengaruh terhadap pandangan masyarakat karena nilai, perannya. Meskipun kedudukan seni menyatakan dirinya sendiri sebagai hal yang diterima masyarakat sebagai kepositifan dan kenegatifan, membangun atau merusak, permintaan maaf atau pikiran kritis ketika hal tersebut bertujuan pada perintah khusus dari penguasa, tapi tidak demikian ketika hal tersebut menemukan dirinya sendiri dihadapkan pada kekosongan masyarakat oleh kemanusiaan seperti dalam pandangan Hauser sebagaimana para estetikus dan para penentang pemujaan patung memimpikannya. Seni yang berhubungan dengan agama juga dalam peranannya sebagai alat penyadaran atau penyebaran agama. Melihat bali sebagai kasus, pergolakan seni berarti sama juga dengan bagaimana mempersembahkan hidup dengan cara yang menarik (artistik) ketika berhadapan dengan warna, garis, bahan dan ketrampilan mengolahnya di hadapan Sang Kuasa.
Berdasarkan pada pokok permasalahan L’art pour L’art seperti yang dijelaskan di atas sebenarnya seni itu sendiri ingin melepaskan diri dari tendensi-tendensi diluar seni itu sendiri dan menyangkal tidak hanya bermanfaat sosial dan moral. Moralnya adalah keindahan itu sendiri. Berangkat dari permasalahan besar sehingga muncul “L’art pour L’art” (seni untuk seni). Seni dimurnikan kembali dari tendensi-tendensi yang ada sebelumnya, baik dari yang politis sifatnya, yang komersial materialistik sebagai produk revolusi industri, maupun yang moralistik. Seni supaya dinikmati dan dihargai bukan alasan-alasan lain yang ada di luar seni itu sendiri. Meskipun secara kongkrit seni memiliki bentuk atau wujud diantaranya karya lukis, sastra, teater, tari, dan lain-lain. Tetapi sebenarnya teori L’art pour L’art dianggap mereaksi gejala terhadap keadaan pada zamannya dan sesungguhnya ingin membuktikan seni memiliki ego tetapi tidak terbuktikan karena seni didalamnya memiliki banyak fungsi.

Daftar Pustaka

Mike Susanto. Membongkar Seni Rupa. Yogyakarta. Jendela. 2003.
Jakob Soemardjo. Filsafat Seni. Bandung. Penerbit ITB. 2000.
Soedarso Sp. Tinjauan Seni Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni. Yogyakarta. Saku Dayar Sana. 1987.

Tidak ada komentar: