Selasa, 13 Januari 2009

Sejarah Kota

Resume
SEJARAH KOTA
(Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah. Hlm. 59-72)

oleh:Agus Setiawan

Sejak abab ke-20 pengambilalihan kegiatan-kegiatan dari desa sudah terjadi di kota-kota Indonesia, adanya pergeseran dari desa ke kota yang bersamaan dengan perubahan sosial dalam masyarakat. Contoh dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, pusat perlawanan tidak lagi terjadi di desa dengan pemimpin desa tidak lagi sebagai penggerak, tetapi kota-kota dengan kaum terpelajar dan kelas menengah. Pergerakan sosial yang berkembang di kota-kota berbeda dari perkembagan sebelumnya. Sementara dalam pergeseran budaya menunjukkkan budaya kota menggantikan budaya desa, setelah kota-kota terpengaruh unsur-unsur budaya modern. Kelas menengah kota keluar dari kerangka masyarakat tradisional dan budaya pedesaan dan membentuk kelompok sosial sendiri. Sehingga kota pada awal abad ke-20 dapat dikategorikan dalam sejarah Indonesia. Kota disebut sebagai sebuah kesatuan, secara sah berdiri sendiri, dan layak untuk manjadi bidang kajian yang tersendiri pula.
Kota-kota yang berkembang tidak berarti hilangnya rural-urban continuum atau folk-urban continuum, sekaligus terjadi rural-urban contrast secara menyeluruh. Proses urbanisasi terjadi tidak secara mendadak dan menyeluruh dalam sejarah Indonesia. Banyak ciri-ciri pedesaan masih tampak dalam masyarakat kota. Bahkan batas geografisnya sulit di ditegaskan, hanya dalam ketentuan administratif batas kota dan desa menjadi jelas.
Abad ke-19 wilayah yang dianggap kota negara di bawah pengawasan langsung oleh pejabat tinggi administratif, seperti patih. Batas administratif dalam kajian kota menjadi dasar strategi penelitian jika menyangkut masalah kependudukan. Dalam penelitian sejarah, batas wilayah kota tentu saja mengikuti perkembangan kota itu sendiri, ”tidak terikat oleh ketentuan-ketentuan administratif”. Sering terjadi pemukiman-pemukiman penduduk yang secara sosiologi disebut urban, tetapi terletak jauh dari kota induk sehingga menjadi ”kota satelit”. Gejala kota satelit ada sejak awal abad ke-20, yaitu jika terjadi pengelompokan kelas menengah dalam locus tertentu di luar batas administratif kota. Contoh, Kota Gede yang terletak di luar kota Yogyakarta mulai tumbuh sebagai ”kota satelit” tempat golongan kelas menengah. Kota induk maupun kota satelit secara gradual memisahkan diri dari lingkungan pedesaan sekitar dan menjadi lingkungan ekologi baru.
Pemisahan secara ”ekologis” antara desa dan kota tidak terjadi dalam pola pemukiman kota praindustrial. Tata kota tidak lahir karena suatu sosio-kultural bukan maksimisasi teknologi atau ekonomi. Pembentukan kota selalu dengan pertimbangan-pertimbangan ”sosio-kultural”. Sebagai contoh, pusat kota tradisional adalah kraton , di sekitarnya dibangun rumah-rumah para sentana dan abdi dalem, tempat ibadah, dan pasar. Kraton juga merupakan benteng dengan tembok melingkar, lengkap dengan lapangan dan tempat ibadah, bahkan kota administratif Yogyakarta dan Surakarta menunjukkan pola yang sama di masa lampau, juga nama-nama kampung sering disesuaikan dengan abdi dalem yang tinggal di kampung itu.
Kota praindustri menegaskan sifat kekotaan kota-kota praindustrial. Contoh di Banten orang asing mendapatkan tempat sendiri. Di kota-kota Indonesia Timur, perkampungan orang Jawa menjadi bagian dari peta kota sampai sekarang. Di Jakarta, perkampungan etnis Cina seperti Manggarai yang sejarahnya dapat diketahui melalui kegiatan-kegiatan Belanda sejak VOC. Kota-kota pantai lebih cepat menunjukkan sifat kotanya.
Kota pedalaman, adanya perkampungan Arab dan Cina masih merupakan enclave dalam lingkungan kota tradisional, di kota-kota pantai pemukiman orang asing menjadi inetgral dari kota itu sendiri. Maka sejarah kota di Indonesia tidak dimulai dalam waktu yang sama. “Abad ke-20, kota sebagai sebuah kategori sejarah Indonesia semata-mata didasarkan lebih pada sudut pandang sosio-kultural dari pada ekologis”.
Munculnya kota ditandai dengan munculnya kelas baru, lepas dari kearangka masyarakat tradisional. Kelas baru muncul dari sektor industri dan memiliki ciri berbeda dari kelas sosial lain sebab ada ketergantungan dari modal para investor. Sementara di sektor pendidikan muncul golongan berpendidikan sebagai kelas baru, dalam birokrasi dan karena itu menjadi priyayi yang menunjukkan semangat baru sebagai sebuah kelas yang mencari tempat dalam masyarakat. Pertemuan antara kelas menengah lama pribumi, golongan terpelajar, dan golongan pekerja di kota-kota menjadi tumpuan bagi timbulnya gerakan nasional dan hal ini merupakan hasil dari budaya kota.
Awal abad ke-20 sebuah kota di Indonesia memiliki ciri tersendiri yang menunjukan sejarah kota yaitu: (1) sektor kota tradisional ditandai adanya pembagian spatial secara jelas berdasar pada status sosial dan letak pemukiman yang dekat dengan Kraton; (2) sektor pedagang asing terutama pedagang Cina, mewarnai kehidupan kota dengan gaya bangunan, kegiatan ekonomi, dan kehidupan sosial budaya tersendiri; (3) sektor kolonial dengan benteng dan barak, perkantoran, rumah-rumah, gedung societeit, rumah ibadah vrijmetselarij; (4) sektor kelas menengah pribumi kadang-kadang mengelompok dalam kampung-kampung tertentu, seperti Kauman di Yogyakarta dan Surakarta atau dibagian lain; (5) sektor imigran yang menampung pendatang-pendatang baru di kota dan berasal dari pedesaan di sekitar.
Sejarah kota dapat dimasukkan ke dalam sejarah lokal, atau dari segi lain seperti sejarah ekonomi, politik dan demografi dan sebagainya. Termasuk didalamnya yang mengenai kota, orang kota, kejadian di kota dapat menjadi bagian dari sejarah kota. Bidang kajian sejarah kota karena sangat luasnya maka perlu adanya pembatasan garapan seperti yang di lakukan Eric Lambar dalam penulisan sejarah di Amerika mendefinisikan sejarah kota dengan sejarah dari “urbanisasi sebagai proses kemasyarakatan”, bukan sejarah dari “kota”. Hasil dari sejarah kota dinamakan the new urban history. Pembatasan ini dimaksudkan untuk mengembalikan sejarah kota kepada gejala kekotaan yang khas. Kekotaan menjadi pusat perhatian sejarah. “Kekhasan kota hendaknya menjadi permasalahan pokok”.
Beberapa bidang garapan dalam sejarah kota meliputi:
1. Perkembagan ekologi kota.
Ekologi adalah interaksi antara manusia dan alam sekitarnya, perubahan ekologi terjadi jika salah satu dari komponen itu mengalami perubahan. Penggunaan tanah kota untuk pemukiman penduduk, perdagangan dan industri, keperluan rekreasi, perkantoran, semuanya mengubah keadaan alamiah lahan. Perubahan ekologi manusia terjadi sesuai dengan perkembangan penduduk, secara etnis, status, kelas, kultural, sehingga pola pemukiman mengalami pemisahan. Pemisahan secara etnis masih dapat dilihat sebagai akibat politik pemukiman di masa lampau. Secara kelas dan kultural dilihat pada kota-kota tradisional, konon ada pembagian dua pemukiman Hindhu dan Budha di zaman Majapahit. Kota modern pola pembagian pemukiman berdasarkan kelas sosial. Lingkungan elite kota menunjukkan diri sebagai simbol dari dominasi elite atas orang kebanyakan yang tinggal di tempat-tempat yang tidak menguntungkan. Perubahan ekologi juga disebabkan kemajuan teknologi dengan adanya pendirian industri-industri, juga kesibukan lalu lintas. Ekologi berubah dengan adanya perubahan dalam organisasi masyarakat. Misalnya pertumbuhan industri kecil di rumah ke sistem produksi industri besar di pabrik. Contoh perkembangan ekologi kota di amerika adalah buka Sam Bass Warner, Jr., Streetcar Suburbs: The Process of Growth in Boston tentang pengaruh dari perkembangan teknologi transportasi kepada penyebaran pemukiman.
2. Transformasi sosial ekonomis.
Industrialisasi dan urbanisasi adalah bagian dari perubahan sosial. Dinamika sosial kota berbeda dengan kota praindustrial. Seperti ungkapan dalam bahasa Jawa, Desa mawa cara, negara mawa tata yang artinya masyarakat kota praindustrial atau tradisional sebagai pusat kerajaan mempunyai aturan-aturan tersendiri berbeda dengan masyarakat desa. Konsep dari negara adalah kraton dan lingkungan kota-negara yang secara sosial, ekonomis, dan kultural memisahkan diri dengan desa. Dalam kota tradisional terdapat simbol-simbol dari kekuasan raja, diwujudkan dalam bangunan fisik, upacara-upacara, dan hak istimewa seperti sengkeran, klangenan, pesanggrahan. Kraton juga merupakan perwujudan dari birokrasi tradisioanal yang mengatur kekuasaan ekonomi dan sosial.
Berbeda dengan kota tradisional-praindustrial, kota-kota modern-industrial adalah pengelompokan keluarga ke dalam nuclear family, pembagian penduduk berdasarkan kelas sosial dengan mobilitas sosial yang kurang lebih lentur, ditinggalkannya cara berproduksi manusia oleh mesin yang memproduksi barang-barang secara massal dengan pelayanan dan kualitas baik. Organisasi produksi dipegang oleh unit-unit ekonomi yang cenderung besar dengan standarisasi dalam harga, timbangan, takaran, dan adanya birokrasi yang diangkat secara rasional. Contoh tulisan yang didalamnya mengenai transformasi masyarakat kota yaitu tulisan Clifford Geertz yang telah mempelajari sejarah sosial-ekonomi kota dalam dua bukunya, Peddlers and Princes dan The Sosial History of an Indonesian Town.
3. Sistem sosial.
Kota sebagai sistem sosial menunjukkan kegiatan masyarakat kota seperti kegiatan domestik, agama, rekreasi, ekonomis, politis, kultural, dan hubungan antar warga secara struktural antara lembaga-lembaga masyarakat, hubungan kategorikal antara kelompok-kelompok etnis, status dan kelas, bahkan hubungan personal antara sesama warga kota. Gambaran mengenai kota lebih lengkap mengingat banyaknya tulisan-tulisan di surat kabar, majalah, dan buku-buku sastra meskipun dalam penggalian melalui bahan dokumenter tidak mencukupi, kemungkinan perlu mengadakan penggalian sumber melalui sejarah lisan. Laporan-laporan pejabat Belanda kita dapat mengetahui kehidupan kraton dan kota tradisional, hubungan bangsawan, Bupati dan pejabat dengan Belanda, novel-novel sastra Belanda-Indonesia, dan hubungan Belanda dengan para priyayi pribumi. Kota-kota karisidenan di zaman sebelum perang menandai sebagai kota kolonial. Sejarah yang demikian memiliki nilai estetis dan akademis. Buku Kenneth A. Locridge berjudul A New England town: the first Hundred Years, mengungkapkan perkembangan kota sebagai sebuah lembaga demokrasi di Amerika Serikat dan menunjukan bagaimana sebuah kota berevolusi dari sebuah kota utopia dari kaum purittan menjadi kota provinsial, termasuk di dalamnya perkembagan birokrasi dan hubungan antara sesama anggota masyarakat.
4. Problem sosial.
Perkembangan ekologi, termasuk di dalamnya kepadatan penduduk, mobilitas horisontal, dan heterogenitas dapat timbulnya masalah sosial diantaranya yaitu disparitas dan pemisahan pemukiman secara ekonomis dan sosial, ketimpangan demografis, lingkungan fisik, sosial, dan psikologis. Misalnya kampung Kauman di mana saja, dapat diketahui kepadatan penduduk dengan lingkungannya pasti menimbulkan suasana psikologis tertentu. Membandingkan perkembangan lingkungan fisik dan lingkungan sosial-manusiawi menunjukan ada perbedaan psikologis antara generasi tua dan muda di kampung yang sama. Masalah sosial timbul di lingkungan kota karena adanya kampung-kampung dengan standar lingkungan yang rendah. Selain masalah kemasyarakatan tentu masih ada lagi masalah ekologis, misalnya: pembuangan air, sampah, kepadatan lalu lintas yang semuanya dapat menjadi kajian sejarah.
Sejalan dengan transformasi sosial-ekonomis, terdapat masalah sosial yang sangat menarik yaitu adanya pergeseran antara kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Misalnya golongan bangsawan mengalami kemunduran karena menurunnya pendapatan secara natural maupun karena reformasi administrasi sehingga proses pemiskinan bangsawan tak terhindarkan. Di Madura kasus kejahatan sosial terdapat dalam laporan-laporan pemerintah kolonial pada awal abad ke-20 ketika golongan bangsawan tidak lagi memegang pemerintahan. Adanya kerusuhan akibat ketegangan antara golongan pribumi dengan orang asing, antara orang asli dengan pendatang.
5. Mobilitas sosial
Kemajuan golongan kelas menengah dapat diketahui dengan adanya catatan-catatan pendapatan, catatan lalu lintas uang pada Bank, mengenai pekerjaan warga kota, hasil-hasil sensus penduduk yang tentu saja semuanya merupakan data kuantitatif maka banyak yang dapat diungkapkan. Misalnya di Kota Gede, Yogyakarta banyak bangunan-bangunan yang didirikan pada awal abad ini menunjukkan naiknya kaum pedagang pribumi. Indikator dari mobilitas sosial kadang-kadang dapat dilihat dalam jumlah haji yang ada di suatu tempat. Dalam pernyataan budaya, golongan kelas menengah terpelajar atau menengah santri memiliki pernyataan budaya sendiri, sehingga mobilitas sosial dapat diketahui melalui daftar pelanggan majalah, surat kabar atau dengan kuisioner yang tentu saja menyangkut metode penelitian sosiologis yang cukup rumit. Ditegaskan kembali bahwa ”sejarah kota sungguh merupakan garis depan dari penulisan sejarah nasional kita”.

Tidak ada komentar: