oleh: Agus Setiawan
Pendahuluan
Sebutan Jepara sebagai “kota ukir” dan “kota kartini” menjadikannya Jepara sebagai salah satu di antara sederetan nama-nama kota yang terkenal di Indonesia. Kegiatan ukir-mengukir yang mampu bertahan berabad-abad lamanya di Jepara, sesungguhnya, kata “Jepara” tak mungkin pisah dari pengertian kota Jepara sebagai kota ukir. Faktor tersebut yang telah mendorong Jepara, sehingga banyak para pendatang dari berbagai daerah bahkan Negara, untuk berkunjung ke Jepara.
Kota Jepara memiliki daya tarik sendiri selain letaknya di pesisir utara dengan garis pantai berpasir putih, kota ini pernah dilahirkan seorang yang kemudian terkenal sebagai tokoh perjuangan emansipasi wanita yakni R.A. Kartini. Sesuatu yang menarik atau kota yang memiliki ciri khas, tentu mendorong keinginan bagi setiap orang yang mengunjunginya untuk mendapat kesan-kesan tertentu atau gambaran mengenai kota Jepara. Kota yang memiliki sesuatu dan kesan-kesan tertentu mengenai suatu kota yang mempunyai ciri khas, akan merupakan kebanggaan yang khas pula.
Ornamen yang diciptakan dianggap menjadi satu dari sekian dari hasil budaya dari masyarakat Jepara, keberadaanya tidak dapat dipisahkan dari hubungan realitas. Berbagai kenyataan historis menunjukkan adanya realitas yang dibentuk oleh dimensi ruang dan waktu. Ruang dan waktu ini telah digunakan seniman untuk membuat realitas. Realitas yang dimaksud adalah proses berkarya. Ketika kita ke kota Jepara, berkeliling melihat-lihat atau membeli produk mebel yang berukir. Kita akan terkagum-kagum dengan ornamen yang diterapkan pada sebuah produk furniture karena didukung dengan penempatan yang tepat atau barang kali karena kehalusan garap dari ukiran tersebut. Tetapi kita tidak tahu kapan dan di mana kegiatan tersebut di buat serta siapa pembuatnya, juga tidak dapat di mengerti di mana peranan ornamen tersebut? Sebab kita seolah-olah terhipnotis kekaguman oleh kehadiran ornamen yang menghias mengisi ruang-ruang kosong pada benda tersebut. Sementara banyak juga ornamen yang diterapkan pada bangunan-bangunan seperti makam, masjid atau rumah-rumah.
Ornamen jepara mampu dilihat sebagai kontruksi sosial keruangan dalam hubungannya dengan identitas kultural dan tradisi. Keinginan ini didasari oleh anggapan bahwa ruang dan waktu bukan hanya lingkungan (environtment) atau tempat berlangsungnya praktik sosial (kultural) dan sebagai salah satu faktor tidak tetap (variabel), akan tetapi ruang dan waktu secara integral turut membentuk kegiatan, atau praktik sosial (kultural). Dalam hal ini manusia bukanlah hanya hidup dalam ruang dan waktu, namun juga bagaimanakah ruang dan waktu itu dihidupi olehnya.
Pembahasan mengenai waktu (sejarah) sebenarnya tidak dilepaskan dari keruangan. Sejarah kota Jepara sebagai bagian yang terintegrasi dalam bentuk-bentuk spasial dan fantasi yang menjadi tempat dihadirkannya masa lalu di masa sekarang, misalnya; dengan meniru beberapa bentuk ornamen kuno seperti yang terdapat pada Masjid Mantingan kemudian menempatkannya pada salah satu bangunan rumah dengan tujuan untuk merasa terkesan mendapat sentuhan etnik. Jalan, rumah, monumen, tugu, gapura, hingga kompleks pemakaman adalah bukti dari dokumen-dokumen sejarah sendiri.
Di Jepara kegiatan mengukir semacam ini sudah berjalan beradad-abad dilakukan oleh seniman ukir di rumah atau di tempat kerja mereka secara berkelompok atau individu. Dengan pakaian kerja seadanya, alat kerja pokok pahat dan ganden, namun yang terpenting bagi dirinya adalah keahlian tangan serta daya kreatif untuk mewujudkan sesuatu yang diinginkan. Suara pukulan ganden pada pahat yang seolah-olah membentuk irama lagu, dari proses inilah susunan motif mulai terbentuk yang akhirnya membentuk sebuah karya ukir yang pantas dihargai. Dorongan kreatif ini timbul dalam setiap peiode dan peradaban. Kebutuhan akan ornamen bersifat psikologis. Pada manusia terdapat perasaan yang dinamakan ’horror vacui’, yaitu perasaan yang tidak dapat membiarkan tempat atau bidang kosong.
Seniman sedang membuat ornamen, dengan tidak sengaja melihatnya, ada ungkapan atau tindakan memunculkan hasrat untuk mengisi kekosongan menggunakan alat pahat dan ganden dengan penuh perasaan dari pengalaman empirik dan kekuatan estetik sehingga menimbulkan hasil garis-garis yang memiliki kedalaman, serta lekukan berdimensi. Di sisi lain juga dipacu oleh waktu sehingga seniman dengan ketrampilan mengukir mengerjakan sangat cepat. Dia tidak memperdulikan lagi garis itu luwes, kaku, atau patah-patah, kasar, halus serta kedalamannya berapa. Tetapi dia masih merasakan ketajaman alat yang dipakai terhadap kayu. Karena kebiasaan untuk melihat kasar-halus juga berdasarkan ketajaman alat yang digunakan. Garis luwes atau kaku berdasarkan hasil pembentukan mata pahat akibat asahan. Untuk mengukur kedalaman berdasarkan pukulan. Dari proses berkarya, apakah seniman juga mengetahui peranan ornamen yang dibuat itu. Untuk mengenal ornamen tidak salahnya kalau lebih dulu memahami apa itu ornamen?
Menurut beberapa sumber, ornamen berarti hiasan yang dibuat pada arsitektur, kerajinan tangan, lukisan, perhiasan dan sebagainya. Namun pergertian ini masih dianggap umum. Istilah ornamen antara lain seni dekoratif (decorative art) atau seni hias, seni ornamen (art of ornament, ornamental art), ornamen, ragam, dan lain-lain. Masing-masing istilah memiliki kandungan makna yang hampir sama antara satu dengan yang lainnya. Seni dekoratif misalnya lain, translasi ini berasal dari decorative art. Kata (sifat) dekoratif berasal dari decorative yang artinya adalah “yang membuat sesuatu nampak lebih indah”. Sementara (kata benda) dekorasi yang berasal dari decoration diartikan sebagai “sesuatu yang digunakan untuk menghias (mendekor)”. Lebih lanjut dijelaskan ornamen (kata benda) sama artinya dengan dekorasi, hiasan. Ornamen juga diartikan sebagai sesuatu yang dirancang untuk menambah keindahan pada suatu benda. Arti lain dari ornamen adalah tindakan, kualitas, dan lain-lain untuk menambah keindahan. Ornamen adalah susunan pola hias yang menggunakan motif tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah tertentu pada suatu bidang atau ruang, sehingga bentuk yang dihasilkan menjadi lebih indah.
Secara leksikal ornamen diartikan sebagai a dekorasi; b sesuatu yang dirancang untuk menambahkan keindahan benda, tetapi biasanya tanpa kegunaan praktis; c tindakan, kualitas, dan sebagainya yang menambah keindahan. Arti yang lain ornamen adalah sekedar menggambar di atas kertas dan tidak diterapkan, elemen-elemen itu secara abstrak dianggap sebagai ornamen, sementara itu bila diterapkan untuk memperindah suatu objek maka disebut sebagai elemen dekorasi. Ornamen yang termaktub nantinya dalam gagasan ini adalah pola hias yang dibuat (dengan digambar, dipahat maupun dicetak) untuk mendukung meningkatnya kualitas dan nilai pada suatu benda atau karya seni.
Ornamen setidaknya ternilai sebagai sebuah hasrat sang seniman untuk mengeksplorasi kenyataan dalam bentuk abstrak dan geometris, seperti lekukan sederhana berbentuk bujursangkar meander atau abstraksi pohon-pohon yang melingkar atau binatang yang lebih rumit bentuknya yang banyak ditemui dalam karya seni atau produk lainnya. Sensitivitas si senaiman jelas diperlukan, untuk mengontrol keluwesan garis-garis iramnya, keseimbangan komposisi dan sebagainya...dalam mengisi sesuatu bidang seniman ukir memerlukan kreativitas untuk menentukan bagian isian bidang tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Masih ditambah lagi, ukiran macam mana yang cocok untuk sesuatu kegunaan.
Pengalaman empirik, kekuatan estetik, hasrat, sensitivitas dan kreativitas bagi seniman ukir merupakan pendorong munculnya bentuk ornamen pada benda sebagai objek garapnya, dengan sadar atau tidak sadar seniman sudah mampu memahami kehadiran ornamen yang diciptakannya. Seniman tidak hanya memahami peranan ornamen tersebut, tetapi ada usaha-usaha pengembangan, pelestarian dan penguatan untuk memberikan merek baik dari corak pola-polanya maupun dari kenyataan adanya ornamen itu sendiri atau ada usaha untuk mencitrakan dirinya melalui beberapa karya ukirnya. Kehadiran ornamen di Jepara pada ruang publik dan bangunan-bangunan merupakan penguatan terhadap ornamen yang telah diwarisi dengan cara-cara penerapan pada bangunan atau barang-barang yang dihias berlainan.
Pengembangan seni ukir kayu dapat diarahkan pada dua jurusan, secara vertikal meningkatkan mutu, dan secara horisontal memperbanyak seniman-senimannya serta memperluas daerah jelajahnya. Pengembangan secara vertikal akan lebih muda dilaksanakan dari pada apabila disertai dengan predikat “tradisional”, sebab pengembangan hanya pada mempertinggi citarasa keindahan dan ketangkasan pengerjaan. Pengembangan pola tentulah terbatas pada apa yang masih dapat dikatakan sebagai tradisional, sekalipun tidak dapat dilupakan bahwa sejarahnya, seni tradisional mengalami juga berkali-kali pembaruan. Sedangkan dalam memperbanyak seniman-seniman ukir agak sulit karena sekarang ini pekerjaan itu secara finansial tidak merangsang, atau tugas ini tidak terhormat. Secara mutu kualitas ornamen Jepara sudah dianggap mempunyai tingkat kualitas yang baik dari tingkat kehalusan, kerapian.
Keberadaan Ornamen Jepara
Ornamen merupakan produk budaya, sama halnya dengan produk-produk lain hasil ciptaan manusia lainnya yang sengaja dibuat untuk kepentingan manusia. Ornamen sebagai seni hias dalam kehidupan masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai elemen untuk memperidah barang atau benda, melainkan juga memiliki fungsi lain, seperti fungsi sakral, simbolik, dan fungsi sosial. Dalam kehadirannya, ornamen memiliki makna tertentu. Makna yang dimaksudkan terkait dengan ekspresi atau perwujudan manusia akan perasaan keindahan. Makna suatu tinggalan masa lalu pun dapat diberi tafsiran dengan melihat peluang kerterkaitannya dengan hasil-hasil budaya lain sezaman. Kita sering menjumpai ornamen ditempatkan dimana saja, misalnya; rumah, masjid, gedung serba guna dll yang tentu saja kehadiran ornamen tersebut memiliki fungsi. Jika ditilik dari segi fungsi, ornamen memiliki berbagai fungsi terkait dengan kehidupan masyarakat. Meskipun fungsi ornamen diantaranya yang terbanyak adalah untuk hiasan, atau pengisi ruang kosong.
Ornamen sebagai Fungsi Estetis
Ornamen mempunyai nilai estetis berhubungan dengan keindahan Misalnya penerapan ornamen pada suatu benda seperti pada warana, kursi, meja, dan lain-lain, sehingga menimbulkan kesan lebih memperindah penampilannya. Terkait aspek tersebut sangat berhubungan dengan fungsi ornamen yang mengacu pada fungsi estetis yang tampak bahwa keterampilan, ketelitian, ketekunan, dan keseriusan menciptakan sebuah karya dan meghasilkan seni yang indah dan mempesona. Banyak berpendapat bahwa fungsi estetis ornamen hanya merupakan tambahan permukaan saja kepada seluruh estetika benda.
Fungsi estetik ini merupakan fungsi universal yang memperindah dan memperkaya. Ornamentasi adalah alat yang paling mudah untuk mencapai keindahan. Hal ini didasarkan pada bentuk simetrisnya, susunan pola-pola motif secara teratur, warna-warna yang menyenangkan dan bentuknya yang agung dan beragam serta pemunculam teknis yang khas. Di Jepara dapat dilihat ornamen berfungsi sebagai estetis dapat dijumpai pada bangunan ruang-ruang publik yang menggambarkan corak ornamen jepara menghias bangunan tersebut. Bangunan dibuat penuh ukiran yang indah, rumit, ngremit, dan ngrawit sebagai indikator tingginya kemampuan estetik dan ketrampilan teknik para perajin dalam berkarya seni.
Seniman ukir menempatkan ornamen pada bagunan hanya sekedar menghias, mengisi ruang-ruang kosong tanpa maksud ingin memberikan suatu makna tertentu yang ingin disampaikan. Seniman ukir hanya berpedoman bahwa bagaimana benda tersebut jika diberi sentuhan ornamen dapat menjadi lebih menarik atau indah. Pandangan seperti ini tampaknya, seniman ukir hanya memenuhi pesanan dari kliennya. Meskipun dalam proses berkaryanya memenuhi pesanan, rasa dorongan menempatkan sebuah ornamen dengan memperhatikan kaidah intuk menunjang keindahan, bisa dianggap menjadi bagian dari ungkapan untuk memenuhi pencampaian estetik ornamen.
Nilai keindahan ornamen tidak dilihat secara parsial, terpisah antara bagian satu dengan bagian yang lain, tetapi dipandang dan diinterpretasikan secara utuh dan keseluruhan. Sebab keindahan ornamen dalam hal ini lebih khusus pada bentuk ornamen Jepara, di lihat terdapat beberapa azas yang menyatu membentuk sebuah bentuk ornamen. Beberapa azas dan ketentuan meliputi azas kesatuan yaitu perwujudan motif saling mengisi, mendukung dan melengkapi. Azas tema atau konsep, terdapat ide yang menjadi penekanan atau penonjolan pada bentuk motif, susunan atau irama dari pembentukan konsep dasar. Azas keseimbangan yang secara perwujudannya tertata antara unsur-unsur pembentuk motif sehingga dapat menciptakan satu kesatuan dalam nilai, harmonis, dinamis dan estetis. Azas kerumitan dan kesulitan menjadi sangat tampak dalam proses pembuatan ornamen Jepara karena memiliki sifat yang luwes dan halus sehingga membutuhkan kesabaran, ketelitian, ketekunan dan keterampilan yang tinggi. Dari beberapa azas diatas dianggap sudah mampu menjadi standar kualitas yang secara estetis sudah memiliki nilai estetis yang tinggi.
Ornamen secara estetik memainkan peran tranfigurasi struktur dengan menutupi bentuk-bentuk dasar atau mengurangi kesan bentuk-bentuk dasar terhadap khalayak umum. Misalnya hiasan ukiran untuk dinding dalam rumah, jarang yang menonjolkan bentuk-bentuk arsitektural. Hanya apabila bentuk-bentuk arsitektural ini memberikan garis dasar untuk unit-unit desain pola hiasan, maka itu ditonjolkan.
Ornamen sebagai Fungsi Simbolis
Simbolisasi yang sebelumnya telah dikenal dalam penciptaan karya seni tetap dilestarikan dan diteruskan sebagai tradisi yang dianggap baik. Penciptaan ornamen berhubungan dengan maksud-maksud simbol dipertimbangkan dengan baik dan cermat, sehingga ornamen memenuhi kebutuhan fungsi simbolik yang selaras dengan harapan hidup.
Fungsi simbolis ornamen berkaitan dengan perlambang. Ornamen telah berada dalam ruang sakral keagamaan dan religi. Keindahan yang didapati dengan pola-polanya, membawa pada kesadaran transendensi Illahi. Ornamen sebagai karya seni merupakan hasil dari subtansi dari upaya ini. Dalam Islam, karena pengingatan kepada ajaran tauhid merupakan tambahan penting untuk lingkungan, tempat kerja, rumah, mesjid, maka pola-pola pola-pola infinit ornamen seni Islam bisa didapati di mana-mana. Sementara alam pikiran mengenai yang gaib dan keramat ini dijelmakan menjadi wujud berupa “lambang” (simbol). Lambang-lambang kesuburan dan kebahagiaan, lambang bagi bumi, air, dan matahari adalah bentuk ungkapan visual yang lahir dari pandangan yang religi magis.
Motif-motif yang diukirkan seperti siluet bentuk gajah dan kera di Masjid Mantingan Jepara menunjukkan peralihan Hindu ke Islam. Motif kera dan gajah yang hampir tidak terbedakan dari tumbuh-tumbuhan yang teruikir. Perwujudan ornamen tersebut diwujudkan dalam bentuk jalinan garis berbentuk lung dan daun. Binatang diwujudkan dalam bentuk yang tergubah di stilir, kesan-kesan bentuk alam yang nyata (realistis) diolah dalam bentuk ornamentik dan dekoratif, namun kesan yang ditampilkan tetap indah.
Pembentukkan simbol tersebut mengingatkan kepercayaan masyarakat pada saat itu, di dalam ajaran agama Islam orang dilarang melukis makhluk hidup atau manusia. Sementara ornamen itu dibuat atau dipakai untuk mengingatkan pada agama. Peranan ornamen di sini menjaga dari kekuatan luar dan merupakan inti penegasan spiritual dari kreasi artistik.
Simbol-simbol yang tergambar pada peninggalan R.A. KArtini tampak lebih jelas. Bentuk-bentuk figur binatang tampak lebih muncul sosok binatang meskipun masih dekoratif. Pemunculan simbol-simpbol pada seni ukir tersebut pada dasarnya suatu upaya untuk mengagambarkan pemaknaan melalui media seni ukir. Pemaknaannya belum terungkap apa sebenarnya yang dimaksud dari simbol-simbol tersebut maka perlu interpretasi yang tepat guna mendapatkan gambaran sesunguhnya.
Ornamen yang tergambarkan pada salah satu benda peninggalan R.A Kartini sering diwujudkan pada setiap lung berakhir dengan bentuk daun melebar menyerupai kipas dan tersusun membentuk bunga di atasnya terdapat tiga buah biji. Perwujudan lung membentuk garis yang luwes saling kait dengan unsur daun tumbuh di kanan-kiri lung mengisi bidang sehingga tampak penuh dan rumit. Bentuk daun yang diukir tampak runcing. Sedangkan bentuk burung, menunjukkan burung merak dengan ciri ekor digambarkan mekar dan kepala berjambul. Pola ornamen ini terwujudkan disusun secara simetris mengisi seluruh bidang.
Ornamen sebagai Fungsi sosial
Keberadaan ornamen tidak hanya sebagai penghias, peranan ornamen mampu memberikan andil dalam berbagai gejala gaya aliran. Seperti pada gejala postmodern, ornamen tidak lagi menjadi persoalan, tetapi telah dianggap melebur tanpa adanya batasan yang berarti. Walaupun agak membingungkan khalayak dengan peran sosialnya berusaha memudarkan persoalan itu; termasuk hilangnya strata seni tinggi dan rendah, di mana seni kriya termasuk di dalamnya ornamen kerap disejajarkan dengan seni rendah menjadi terangkat. Kesejajaran ornamen yang kerap dianggap seni rendah namun keberadaan ornamen yang diterapkan pada bangunan atau benda yang turut menghias interior rumah sering digunakan menunjukkan status dari pemiliknya, benda-benda berhiaskan ukiran kebanyakan dimiliki oleh kalangan menengah ke atas yang secara tidak langsung menunjukkan ststus sosial. Rumah adat Kudus yang diperkirakan sudah dikenal oleh para perajin mebel ukir Jepara sejak abad ke-16. pada waktu itu jenis rumah dengan gebyok Kudus ini merupakan manifestasi dan pencerminan masyarakat elit bangsawan.
Bersamaan dengan berkembangnya kapitalisme dan industrialisasi, yang mendorong lahirnya ‘kelas menengah’ baru yang cukup makmur dalam masyarakat, menyebabkan kebutuhan dan kemampuan dalam pemilikan barang-barang semakin luas ke berbagai lapisan masyarakat. Dengan alasan untuk memenuhi tuntutan ‘pasar’ dan yang terpenting tidak mewakili selera kelas tertentu. Keberadaan ornamen dalam perannya tidak lagi membentuk suatu klas-klas tertentu menunjukkan status sosial masyarakat elit yang dulu hanya dapat dijumpai di keraton atau kantor bupati atau rumah milik kaum bangsawan pada waktu itu, tetapi sekarang pemunculan ornamen bisa dijumpai hampir setiap rumah-rumah.
Eksistensi ornamen di bidang permebelan memberikan dampak positif. Ornamen jepara yang menjadi suatu kekayaan budaya bangsa sesungguhnya tidak dapat diukur dengan materi, namun dalam perkembagannya justru merupakan komoditas non-migas yang terandalkan dari kota Jepara. Perubahan dan kemajuan zaman secara nyata mampu ditangkap oleh para pengrajin ukir di Jepara tanpa harus mengorbankan sendi-sendi muatan yang hakiki dan masih dapat dipertahankan.
Kemantapan hati dan keberanian menampilkan jati diri sebagai bangsa dan Negara ynag memiliki identitas dia tampil meyakinkan melalui wujud-wujud budaya tradisi. Dengan demikian eksistentsi bangsa dan Negara Indonesia di tengah percaturan dunia global tetap memiliki ciri yang khas budaya sendiri.karena diwarnai dan dijiwai oleh semangat budi luhur.
Sesuai dengan konsep Naylor dalam SP Gustami bahwa mebel ukir Jepara termasuk didalamnya bentuk ornamen memiliki kesempatan untuk berkembang baik di era global, karena di samping kehadirannya berakar pada seni tradisi yang kuat, para perajin juga memiliki kemampuan (technical skill) yang tinggi. Mereka sangat adaptif-fleksibel dan terbuka bagi masuknya usaha-usaha pembaharuan meskipun mereka tidak mudah kehilangan identitasnya.
Hadirnya seni tradisional buatan tangan yang berbentuk ornamen, di Jepara dalam usaha pengembangannya berhasil mengantarkannya bidang indusri seni tradisional mencapai puncak kejayaanya di akhir abad ke-20 seperti dapat disaksikan melalui hadirnya pusat-pusat industri seni kerajinan di Indonesia. Di Jepara misalnya kerajinan seni patung di desa Mulyoharjo, kerajinan pahat relief di desa Senenan, serta sentra-sentra kerajinan mebel di berbagai desa lainnya dengan spesialisasi atau keahlian tertentu mampu meningkatnmya kesejahteraan masyarakat berkat profesinya yang mendapatkan penghargaan setara dengan keterampilan yang dimilikinya.
Ornamen sebagai Fungsi finansial
Ornamen dapat dianggap juga sebagai penambah nilai finansial bagi para pengrajin mebel, pengrajin batik, pengrajin keramik dan pada industri tekstil. Selain nilai finansial, ornamen juga digunakan sebagai simbol tentang suatu kepercayaan tertentu. Dalam hal ini Gustami mengemukakan bahwa seni hias yang memiliki fungsi finansial dan simbolis:
Seni hias berfungsi juga sebagai penambah penghargaan dari segi spiritual maupun segi material finansial atau maksud-maksud tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan hidup (falsafah hidup) dari manusia/masyarakat penciptanya. Sehingga benda yang dikenai oleh suatu ornamen akan mempunyai arti yang lebih jauh dengan disertai harapan-harapan yang tertentu pula.
Tampilan ornamen memiliki muatan dan fungsi, maka faktor penerapan harus ditata sesuai dengan kebutuhan benda atau bangunan yang dikenai oleh ornamen. Penataan yang dimaksud adalah penataan unsur, struktur, prinsip, dan pola serta peran sehingga tercipta sebuah karya seni berupa ornamen yang indah. Penerapan ornamen pada bangunan dan benda tertentu biasanya mempunyai peranan kedua setelah fungsi utama benda yang dihiasi. Misalnya warana, secara lahiriah sudah memenuhi fungsinya sebagai pembatas ruang, namun terkait dengan nilai tambah terhadap bangunan, maka dibutuhkan sentuhan ornamen sebagai hiasan.
Fungsi ornamen lebih pada menghiasi sesuatu objek, sehingga apabila omamen dilekatkan atau diterapkan pada benda lain akan menambah nilai benda yang dikenainya. Apakah menambah indah, antik, angker, cantik, atau pun predikat yang lain lagi. Ornamen dengan demikian, berkedudukan kedua setelah fungsi utama dari benda yang dihiasinya itu. Penempatan ornamen yang diterapkan pada produk mebel maka secara langsung akan menambah nilai jual barang tersebut.
Ornamen bukan lagi hanya sebuah permainan pola-pola yang tak ternilai, apabila jika dikaitkan dengan keberadaan seni bangunan, desain, dan kriya yang selama ini dianggap sebagai seni yang paling dekat dengan masyarakat. Ornamen menjadi nafas berkarya masyarakat yang ingin membuat bahan-bahan menjadi karya seni sebagai bagian dari eksistensinya sebagai masyarakat yang bercita rasa.
Ornamen dapat berfungsi terhadap tranfigurasi bahan. Istilah ini menyiratkan bahwa benda yang telah ditranfigurasi mengalami perubahan dalam bentuk atau penampakan tetapi bukan dalam subtansinya. Kayu yang dipakai tidak lagi akan kehilangan sifat aslinya, tetapi bentuk dan penampakan bahan-bahan tersebut telah diubah secara drastis. Termasuk pula menyiratkan akan perubahan dari bahan alam meningkat nilai mutu kualitasnya. Karya seni yang dihiasi memiliki status yang tinggi. Berbeda dengan benda yang tidak mendapat sentuhan ornamen, akan memiliki nilai jual yang lebih rendah jika dilihat dari kualitas bahan, teknik dan bentuk serta urkuran yang sama.
Ornamen sebagai Fungsi Aktif atau Konstruktif
Ornamen jenis ini merupakan bentuk hiasan yang menyatu dengan konstruksi sehingga tidak dapat dipisahkan dari bentuk benda tersebut, karena kalau dihilangkan akan merusak konstruksi suatu benda. Dengan demikian perwujudannya tidak terbatas sebagai penambah indah tetapi menjadi satu kesatuan yang utuh dengan struktur dan konstruksi benda itu.
Misalnya hiasan tlacapan yang dipahatkan membentuk jalinan berbentuk ornamen yang biasanya ditempatkan pada pangkal dan ujung balok kerangka bangunan seperti dada peksi, blandar, sunduk, pengeret. Menurut Edi R. Panjunan, bentuk hiasan konstruksi artinya ragam hias sengaja dibuat secara utuh dengan bentuk bangunannya.
Bentuk-bentuk hiasan yang bersifat fungsi kontruktif sering dijumpai pada bangunan-bangunan rumah Jawa karena bangunan tersebut terbuat dari bahan kayu yang sangat mudah untuk dikerjakan.
Ornamen sebagai Fungsi pasif
Ornamen pasif adalah ornamen yang melekat pada bangunan dengan fungsi sebagai hiasan saja. Dengan demikian bentuk ornamen pun dapat dilepas, artinya ornamen yang melekat pada benda tersebut jika dihilangkan tidak akan berpengaruh terhadap konstruksi benda itu. Hiasan inkonstruksi ragam hiasnya dapat dengan mudah dilepas dari bentuk bangunan aslinya. Dalam penempatan hiasan yang berfungsi pasif, biasanya dibuat berbentuk hiasan tempelan kemudian dilekatkan pada benda yang akan dihias. Sistem pengerjaan dapat dilakukan setelah bangunan atau benda yang akan dihias sudah jadi.
Ornamen sebagai Identitas Kota
Penerapan ornamen pada ruang publik seperti pada monumen-monumen ingatan dalam menghias patung, tugu, masjid dan lain-lain. Taman-taman kota serta kompleks Pemda memang difungsikan sebagai ruang publik. Penggunaan ruang public untuk membudayakan ornamen yang menjadi cirri khas Jepara. Sementara eksistensi ornamen di Jepara sudah berlangsung sangat panjang dan mampu untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sehingga adanya usaha untuk menjadikan ornamen Jepara dijadikan identitas nasional oleh pemerintah kabupaten Jepara. Dengan julukan atau sebutan Jepara sebagai "Kota Ukir". Usaha tersebut harus dilakukan dan diikuti dengan membudayakan ornamen ukir khas Jepara pada tiap pintu masuk kota, desa atau gang-gang kecil. "Upaya ini perlu dilakukan sebagai langkah untuk membentuk brand image Jepara yang sejak dulu dikenal dengan ukir-ukirannya.
Seperti yang diungkapkan Hendro Martojo dalam sambutan dialok public menyatakan akan segera menyusun peraturan daerah (perda) partisipatif, dalam koridor otonomi daerah. Direalisasikannya penerapan pada ruang public Hendro Martojo selaku bupati Jepara menyetujui, bahkan menurut Hendro Martojo, ciri ukiran juga harus dipampangkan di tempat strategis yang mudah dikenal masyarakat., misalnya; sekolah, tempat ibadah, maupun kapal penyeberangan.
Dalam merealisasikan usaha-usaha sudah dilakukan dengan cara menempatkan unsure-unsur ornamen pada bangunan. Apabila kita memasuki kota Jepara menelusuri jalan aspal yang cukup halus, lebar dan cukup ramai. Dengan cermat kita akan melihat ornamen Jepara diterapkan pada beberapa benda berupa tiang penerangan jalan di sepanjang jalan serta beberapa bentuk bangunan yang dibangun berbentuk konsep bangunan jawa yang dihias dengan ornamen Jepara. Serta pada perempatan jalan besar kita dapat melihat hiasan ornamen dalam mengisi ruang kosong bangunan yang ditempatkan di perempatan jalan. Meskipun dalam perwujudannya tidak secara monumental, ornamen hanya sebagai penghias atau menjadi bagian yang seolah-olah berbentuk stilir dari wujud tumbuhan yang menjalar.
Jepara terletak di wilayah pesisir utara laut Jawa, sehingga dalam perwujudan tugu yang menghias taman sering ditampilkan bentuk-bentuk hasil laut seperti kerang, sementara kehadiran ornamen Jepara menjadi pelengkap. Selain pada bangunan, penerapan ukiran jepara dalam membentuk identitas kota Jepara sebagai kota ukir juga diterapkan pada logo Kabuaten Jepara. Penerapan ukiran pada logo Kabupaten Jepara secara tidak langsung menunjukkan bahwa ukiran Jepara sudah menjadi brand image dari Jepara itu sendiri.
Penutup
Jika kita dikembalikan pada fungsi ornamen. Ia tidak sekedar menghias, namun mendekatkan pada situasi dan peran yang tidak sedikit. Ornamentasi tidak lagi membedakan bahan, alat, bentuk ruap seni, dan kalangan yang memakai. Bhkan ornamen member esensi pada penggunaan bahan, persepsi atas bentuk, sekaligus hasil dari sosiologis, ekonomis dan geografis. Sekalipun ornamen bagi kalangan tertentu menjadi motifasi dasar dari peradaban, tidak berarti kalangan di luarnya memalingkan mukanya. Ornamen telah menjadi dasar bergulir dan melintasi berbagai budaya dan seni lainnya yang bersama-sama untuk eksis. Ornamen rupanya telah memiliki misi yang lain yaitu tegasnya sikap berideologi dalam seni (tranideologi seni).
Sesuai yang diungkapkap Mike Susanto di atas bahwa ornamen memiliki peran yang tidak sedikit. Fungsi ornamen dapat dilihat dari segi estetis, finansial/material dan filosofis serta sosial dll. Dari segi estetis berfungsi untuk memperindah, mempercantik dan memperanggun, dari segi finansial berfungsi untuk menambah nilai kemegahan dari keindahan oleh motif hiasnya sehingga dapat menambah nilai jual benda tersebut. Kemudian dari sisi filosofisnya memberikan pemahaman konsep-konsep mengenai harapan hidup. Dari sisi sosialnya dapat menunjukkan status sosial bagi keluarga bangsawan pada zaman itu. Esistensi ornamen di Jepara telah mampu membentuk brand image kota yang memiliki identitas sebutan jepara sebagai kota ukir.
Daftar Pustaka
Abdul Azis Said. Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional Toraja dan Perubahan Aplikasinya Pada Desain Modern. Yogyakarta. Ombak. 2004.
Edi Sedyawati. Budaya Indonesia Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada. 2006.
Guntur. Studi Ornamen sebuah Pengantar. STSI press Surakarta. 2004.
Gustami. Nukilan Seni Ornamen Indonesia. Yogyakarta. Tiara Wacana. 1980.
_______. Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara. Yogyakarta. Kanisius. 2000.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka. 1984.
Mike Susanto. Membongkar Seni Rupa. Yogyakarta. Jendela. 2003.
Paul Carter. Spasial History the Post-Colonial Studies Reade. Bill Ascroft, Gareth Griffits, dan Helen Tiffins (ed). Routledge. 1998.
Penny Sparke. Design and Context. Bloomsburry publishing Ltd. 1987.
Soedarso Sp. Tinjauan Seni Sebuah Pengantar Untuk Apresiasi Seni. Yogyakarta. Saku Dayar Sana Yogyakarta. 1987.
Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. jilid III. Yogyakarta. Yayasan Kanisius. 1959.
Syafii dan Tjetjep Rohendi Rohidi. Ornemen Ukir. Semarang. IKIP Semarang Press. 1987.
Sumber Lain
Edi R. Panjunan, Mengenal Ragam Hias Bangunan Tradisional Jawa dalam http:// www. pikiran-rakyat. com/cetak/02/03/02/index.htm, 23 Maret 2007.
Martin Suhartono. Dinamika Ruang—Waktu Dari Distansiasi ke Transfigurasi. Basis. No. 01-02 Tahun ke-49, Januari-Februari 2000.
Diusulkan ukiran jadi ciri Khas. dalam Suara Merdeka. Rabu, 15 Oktober 2003
1 komentar:
terima kasih atas ulasannya banyak membantu dealam penulisan saya
Posting Komentar